Generasi Z kerap disorot secara negatif ketika diskusi beralih pada isu ketenagakerjaan. Mereka sering dicap rapuh, cepat menyerah, minim loyalitas, bahkan dituduh enggan bekerja.
Stigma ini makin menguat seiring maraknya istilah seperti quiet quitting, bare minimum Monday, dan gelombang pengunduran diri yang ramai di media sosial. Padahal, pelabelan tersebut cenderung menyederhanakan realitas yang jauh lebih kompleks. Yang terjadi sesungguhnya adalah perubahan perspektif mengenai arti kerja dan perjalanan karier.
Apa yang sering diterjemahkan sebagai sikap “anti kerja” sebenarnya lebih tepat dibaca sebagai penolakan terhadap eksploitasi. Generasi Z tidak alergi terhadap kewajiban, target, atau ritme kerja. Yang mereka tentang adalah sistem yang timpang, tidak terbuka, dan menafikan kesejahteraan manusia demi angka produktivitas semata.
Latar belakang tumbuh kembang Generasi Z berbeda dari generasi sebelumnya. Mereka hidup di tengah krisis ekonomi global, pasar kerja yang tidak stabil, lonjakan biaya hidup, serta pengalaman pandemi COVID-19 yang mengubah tatanan kerja secara radikal. Narasi lama tentang kerja keras dan kesetiaan sebagai jaminan masa depan finansial kini terasa rapuh dan tidak lagi sepenuhnya meyakinkan.
Realitas yang mereka saksikan turut membentuk cara pandang tersebut. Banyak pekerja yang telah lama mengabdi tetap harus menghadapi pemutusan hubungan kerja, kelelahan berkepanjangan, dan penurunan kualitas hidup. Pengalaman kolektif ini menumbuhkan kesadaran bahwa sistem kerja tidak selalu berpihak pada pekerja.
Dari sinilah muncul sikap kritis terhadap praktik kerja yang sebelumnya dianggap normal. Jam kerja panjang tanpa kompensasi jelas, tuntutan selalu siaga di luar jam kantor, hingga budaya lembur yang dilekatkan pada loyalitas mulai dipertanyakan. Bagi Generasi Z, kerja keras tidak seharusnya identik dengan pengorbanan kesehatan fisik dan mental secara terus-menerus.
Namun, sikap kritis ini bukan berarti keengganan untuk berusaha. Generasi Z tetap menghargai kerja keras, tetapi dengan pemaknaan yang berbeda. Bekerja keras berarti bekerja secara efisien, bertanggung jawab, dan berkesinambungan. Menjaga batas antara ruang kerja dan kehidupan pribadi dipahami sebagai bentuk perawatan diri, bukan tanda kemalasan.
Pandangan ini sejalan dengan temuan Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey (2023) yang menunjukkan bahwa kesehatan mental serta keseimbangan hidup menjadi pertimbangan utama Generasi Z dalam memilih pekerjaan.
Data tersebut menegaskan bahwa produktivitas tidak bisa dilepaskan dari kondisi psikologis pekerja. Lingkungan kerja yang menekan justru berisiko menurunkan performa dan komitmen jangka panjang.
Generasi Z juga mulai membedakan secara tegas antara tanggung jawab profesional dan praktik eksploitatif. Mereka tidak menolak evaluasi kinerja, target, maupun proses belajar. Namun, mereka berani mengkritisi ketimpangan seperti upah yang tidak sepadan dengan beban kerja, perluasan tugas tanpa kejelasan, serta narasi “bersyukur masih bekerja” yang sering dipakai untuk membungkam suara kritis. Sikap ini mencerminkan kesadaran bahwa kerja adalah relasi dua arah antara pekerja dan institusi.
Kesadaran tersebut diperkuat oleh akses informasi yang semakin terbuka. Melalui media sosial dan platform digital, Generasi Z dapat saling berbagi pengalaman kerja, membandingkan praktik ketenagakerjaan lintas sektor dan negara, serta mengenali pola ketidakadilan yang sebelumnya tersembunyi. Dunia kerja pun tidak lagi menjadi ruang tertutup yang luput dari pengawasan publik.
Selain itu, karier tidak lagi ditempatkan sebagai satu-satunya sumber identitas diri. Kehidupan personal, relasi sosial, minat, dan kesehatan mental memperoleh porsi yang setara. Inilah yang mendorong ketertarikan Generasi Z pada sistem kerja fleksibel, remote working, atau jalur nonkonvensional seperti pekerjaan lepas. Meski kerap dianggap tidak aman, fleksibilitas justru dipandang sebagai strategi bertahan di tengah ketidakpastian.
Karier pun tidak lagi dibayangkan sebagai jalur linear menuju pensiun. Ia dipahami sebagai perjalanan dinamis yang dapat berubah sesuai fase kehidupan. Perpindahan kerja, pengembangan keterampilan lintas bidang, serta redefinisi makna sukses menjadi hal yang lumrah. Keberhasilan tidak semata diukur dari jabatan atau lama mengabdi, melainkan dari kualitas hidup yang dijalani.
Perubahan paradigma ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi dunia kerja. Perusahaan tidak cukup lagi mengandalkan reputasi atau janji jenjang karier tanpa sistem yang adil dan manusiawi. Transparansi, kejelasan peran, fleksibilitas, serta perhatian pada kesejahteraan karyawan menjadi nilai yang semakin krusial.
Alih-alih dipandang sebagai ancaman, sikap Generasi Z dapat dibaca sebagai peluang untuk membenahi budaya kerja yang selama ini menormalisasi kelelahan. Penolakan terhadap eksploitasi sejatinya merupakan dorongan menuju sistem kerja yang lebih berkelanjutan dan sehat.
Pada akhirnya, Generasi Z bukanlah generasi yang menolak kerja. Mereka hanya menentang pola lama yang terbukti melelahkan dan kerap tidak adil. Dengan kesadaran kritis dan keberanian menetapkan batas, Generasi Z tengah merumuskan ulang karier sebagai bagian dari hidup—bukan keseluruhan hidup. Sebuah perspektif yang mungkin justru dibutuhkan agar dunia kerja menjadi lebih manusiawi bagi semua generasi.


