kurikulum sering berganti masihkah pendidikan kita sesuai dengan kebutuhan anak - News | Good News From Indonesia 2026

Kurikulum Sering Berganti, Masihkah Pendidikan Kita Sesuai dengan Kebutuhan Anak?

Kurikulum Sering Berganti, Masihkah Pendidikan Kita Sesuai dengan Kebutuhan Anak?
images info

Bu Sri Wahyaningsih, Bsc (Dewan Pembina Sanggar Anak Alam) Yogyakarta, saat acara Good Talk Off Air Vol.3 | Foto: Tim Redaksi GNFI


Sudah 11 kali kurikulum pendidikan Indonesia berganti sejak era kemerdekaan hingga hari ini. Angka itu memunculkan pertanyaan mendasar bagi orang-orang, benarkah setiap perubahan itu lahir dari kebutuhan anak, atau justru dari kepentingan yang berganti seiring pergantian kekuasaan?

Pertanyaan tersebut mengemuka dalam Good Talk Off Air yang digelar di Yogyakarta pada Kamis, 24 September 2026. Salah satu pembicara, Sri Wahyaningsih, Dewan Pembina Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta, mengangkat tema "Saat Dunia Berubah, Apakah Pendidikan Juga Ikut Berubah?" Ia membedah sejarah panjang kurikulum Indonesia sekaligus menawarkan cara pandang baru soal pendidikan yang benar-benar berpihak pada anak.

Kodrat Alam dan Kodrat Zaman sebagai Fondasi

Berdasarkan catatan langsung dari paparan Sri Wahyaningsih, ia mengutip filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara yang menjadi rujukan dasar sistem pendidikan nasional.

"Didiklah anak sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman," ujarnya menirukan gagasan Bapak Pendidikan Indonesia tersebut.

Dalam penjelasannya, kodrat alam adalah keunikan yang melekat pada setiap anak sejak lahir, termasuk pada anak kembar sekalipun. Sementara kodrat zaman merujuk pada perkembangan teknologi dan peradaban yang tak bisa dihindari. Sayangnya, menurut Sri, sistem pendidikan yang berjalan justru cenderung menyeragamkan, alih-alih merayakan keunikan itu.

"Mata pelajaran itu sebetulnya alat penyeragaman," tegasnya, meski ia mengakui hal ini jarang disadari karena sudah dianggap lumrah.

baca juga

Suasana di SALAM (Sanggar Anak Alam) Yogyakarta | Foto: Web Sanggar Anak Alam
info gambar

Suasana di SALAM (Sanggar Anak Alam) Yogyakarta | Foto: Web Sanggar Anak Alam


Dinamika Kurikulum dan Beban di Ruang Kelas

Sri memaparkan perjalanan pendidikan Indonesia mulai dari era kolonial yang diskriminatif, lahirnya sekolah rakyat berbasis agama oleh KH Ahmad Dahlan pada 1912, hingga Taman Siswa yang dirintis Ki Hajar Dewantara pada 1922. Setelah kemerdekaan, kurikulum tercatat berubah sebanyak 11 kali, mulai dari Rencana Pelajaran 1947 hingga Kurikulum Merdeka saat ini, sebagaimana tercatat dalam kajian Museum Pendidikan Nasional.

Perubahan yang terlampau sering ini bukan tanpa konsekuensi. Berdasarkan hasil penelitian yang dipublikasikan di ResearchGate, Herman dkk. (2023) menegaskan bahwa perubahan kurikulum kerap membuat target pembelajaran tidak tercapai pada tahap awal penerapan, sebab guru memerlukan waktu adaptasi untuk memahami komponen kurikulum baru. Wulandari (2022) menambahkan bahwa pergantian kurikulum yang terlalu sering tanpa konsistensi menciptakan kebingungan dalam proses belajar-mengajar, sekaligus menuntut guru terus memperbarui metode pengajaran.

Sri turut mengingatkan pesan Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan tidak boleh hanya menitikberatkan kecerdasan kognitif.

"Kalau pendidikan itu hanya dititikberatkan kepada kecerdasan, itu akan membuat orang menjadi egois," katanya, mengutip langsung gagasan tokoh pendidikan tersebut.

baca juga

Narasumber di Acara Good Talk Off Air | Foto: Tim Redaksi GNFI
info gambar

Narasumber di Acara Good Talk Off Air | Foto: Tim Redaksi GNFI


Penyesuaian Kurikulum Berdasarkan Kebutuhan Anak

Dari keresahan itulah, Sri bersama sejumlah rekannya mendirikan Sanggar Anak Alam (SALAM) sejak 1988 di Lawen dan berkembang di Yogyakarta sejak tahun 2000. Bedanya dengan sekolah pada umumnya, SALAM tidak menuntut anak menyesuaikan diri dengan program sekolah, melainkan sebaliknya, kurikulum dirancang mengikuti kebutuhan tiap anak.

Berdasarkan penjelasan langsung dari Sri dalam forum tersebut, SALAM sengaja meninggalkan sistem mata pelajaran dan menggantinya dengan pendekatan berbasis riset yang kontekstual, yakni riset atas hal-hal di sekitar lingkungan anak sendiri. Proses belajar dijalankan lewat "daur belajar": anak merencanakan, melakukan, mengumpulkan data, lalu mengungkapkan dan menganalisisnya bersama fasilitator. Di SALAM, istilah guru pun sengaja ditiadakan.

"Setiap anak adalah maha guru bagi dirinya dan sumber belajar bagi teman-temannya," ujar Sri, menutup penjelasannya soal filosofi SALAM.

Menurutnya, di tengah kemajuan teknologi dan kehadiran artificial intelligence (AI) yang mempermudah akses informasi, peran pengajar konvensional kian tergeser, sehingga yang dibutuhkan bukan lagi sekadar pengajar, melainkan fasilitator yang mendampingi anak menemukan pengetahuannya sendiri.

Model semacam ini memberi gambaran bahwa perubahan kurikulum sejatinya tidak harus selalu berasal dari kebijakan pusat yang seragam untuk seluruh wilayah, dari Sabang sampai Merauke. Sebagai negara kepulauan dengan kekayaan budaya dan potensi alam yang berbeda di tiap daerah, pendekatan pendidikan yang lebih personal dan kontekstual seperti yang diterapkan SALAM bisa menjadi salah satu alternatif yang patut dipertimbangkan.

Kawan GNFI, di tengah silang pendapat soal arah kurikulum nasional, kisah SALAM setidaknya menunjukkan bahwa pendidikan yang berpihak pada anak bukan sekadar wacana, melainkan sesuatu yang bisa diwujudkan mulai dari lingkungan terdekat.

baca juga

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

US
FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.