singgung soal cari muka kiai hasan sahal tegaskan pentingnya pendidikan dengan teguhkan falsafah stir - News | Good News From Indonesia 2026

Singgung Soal 'Cari Muka', Kiai Hasan Sahal Tegaskan Pentingnya Pendidikan dengan Teguhkan Falsafah STIR

Singgung Soal 'Cari Muka', Kiai Hasan Sahal Tegaskan Pentingnya Pendidikan dengan Teguhkan Falsafah STIR
images info

Pidato 100 Tahun Resepsi Kesyukuran Gontor oleh KH Hasan Abdullah Sahal | Sumber Foto: Screenshoot You Tube @SekretariatPresiden


Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) KH Hasan Abdullah Sahal menyinggung fenomena 'cari muka' dalam pidatonya di hadapan Presiden Prabowo Subianto pada Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor di Ponorogo, Sabtu 19 September 2026. Ia menyoroti kecenderungan sebagian masyarakat mengejar pengakuan melalui ijazah, nama, uang, hingga jabatan meski tidak memiliki kapasitas yang sepadan.

Dalam kesempatan yang sama, Kiai Hasan memperkenalkan falsafah STIR, akronim dari Sabar, Tawakal, Ikhlas, dan Ridha sebagai metode pendidikan karakter yang diterapkan Gontor sejak berdiri pada 1926. Pondok yang berakar dari Pondok Tegalsari abad ke-18 ini menjadikan falsafah tersebut sebagai fondasi mendidik santri sekaligus respons atas fenomena pencarian validasi yang ia singgung dalam pidato.

Fenomena β€˜Cari Muka’ dalam Kacamata Sosial

Kritik Kiai Hasan sejalan dengan konsep akademis yang sudah lama dikaji dalam ilmu sosiologi. Sosiolog Erving Goffman lewat teori dramaturginya menyebut kecenderungan manusia membangun 'panggung depan' atauΒ front stage demi validasi dan pengakuan orang lain sebagai impression management.

Fenomena tersebut kian terlihat di era digital, ketika budaya media sosial, lingkungan kerja dan politik modern mendorong sebagian orang menjadi clout chaser atau pemburu validasi. Kondisi ini membuat sejumlah orang lebih fokus membangun citra ketimbang kapasitas yang sesungguhnya.

Menyampaikan kritiknya sebelum masuk ke pembahasan pendidikan Gontor, Kiai Hasan mengungkapkan bahwa sebagian masyarakatΒ cenderung masih suka mengejar demi mencari pengakuan atau validasi orang lain.

"Sekarang banyak orang yang cari muka. Tak punya ijazah, cari ijazah. Tak punya nama, cari nama. Tak punya uang, cari uang. Tak punya jabatan, cari jabatan. Orang gak punya muka, cari muka," tuturnya dalam pidato tersebut

Ia kemudian mengungkap posisi Gontor yang memilih jalur pendidikan sebagai jawaban atas persoalan tersebut, karena pendidikanlah yang paling utama sebagai jalan pengabdian, tidak sibuk mencari muka, belajar dari sejarah, dan memegang teguh falsafah STIR.

"Kami tetap memilih pendidikan, Bapak Presiden," katanya.

baca juga

Presiden Prabowo Subianto saat Hadiri 100 Tahun Gontor | Sumber Foto: Screenshoot You Tube @SekretariatPresiden
info gambar

Presiden Prabowo Subianto saat Hadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor | Sumber Foto: Screenshoot You Tube @SekretariatPresiden


Falsafah STIR sebagai Metode Pendidikan Karakter

Empat unsur dalam STIR menjadi satu kesatuan dalam praktik pendidikan Gontor. Menjelaskan prinsip yang ditanamkan kepada santri sejak awal masuk pondok.

"Cara mendidik kami pakai falsafah STIR. STIR itu Sabar, Tawakal, Ikhlas, dan Ridha," jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya membaca situasi dan waktu dalam proses pendidikan tersebut.

"Jangan waktu cepat, kamu lambat. Jangan waktu lambat, kamu cepat," tegasnya.

Prinsip ini turut diterapkan pada pimpinan Gontor sendiri, termasuk dalam hal membuka ruang kritik.

Di hadapan Presiden Prabowo, ia menyinggung persoalan bahwa falsafah STIR bukan sekadar konsep, melainkan praktik yang dituntut konsisten dari pimpinan hingga santri.

"Kalau makan saya, pakaian saya, kendaraan saya, rumah saya, apa lagi melebihi makanan santri, pakaian santri, kendaraan santri, rumah santri, protes boleh," imbuhnya.

baca juga

Satu Abad Gontor dan Konsistensi Sistem Nilai

Gontor berdiri sejak 1926 di atas lahan seluas 1,2 hektare dan kini berkembang menjadi sekitar 1.200 hektare. Menurut Kiai Hasan, perkembangan tersebut tidak terlepas dari konsistensi sistem nilai yang diwariskan para pendirinya.

Menjelaskan warisan yang diberikan tiga pendiri Gontor, KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fanani, dan KH Imam Zarkasyi, ia mengatakan ketulusannya dalam mengelola pondok tersebut.

"Dengan keikhlasan para pendiri, Kiai Haji Ahmad Sahal, Kiai Haji Zainuddin Fanani, Kiai Haji Imam Zarkasy, dengan ikhlas mewakafkan ide, mewakafkan nilai, mewakafkan sistem, mewakafkan lembaga, mewakafkan cinta kepada pondok ini," terangnya.

Kiai Hasan turut mengingatkan bahwa peringatan 100 tahun ini bukan hanya pesta perayaan atau seremoni belaka, melainkan bentuk momentum satu abad lembaga tersebut dalam mengemas rasa syukur .

"Ini peringatan, bukan perayaan," pungkasnya.

Pernyataan tersebut menegaskan ke publik bahwa bertahannya sebuah institusi pendidikan selama satu abad berkaitan erat dengan konsistensi nilai yang dipegang, bukan semata pencapaian fisik maupun pengakuan dari luar.

baca juga

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

US
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.