sejarah pondok gontor pernah surut dibangkitkan seorang ibu lalu melahirkan sistem pendidikan modern - News | Good News From Indonesia 2026

Sejarah Pondok Gontor: Pernah Surut, Dibangkitkan Seorang Ibu, Lalu Melahirkan Sistem Pendidikan Modern

Sejarah Pondok Gontor: Pernah Surut, Dibangkitkan Seorang Ibu, Lalu Melahirkan Sistem Pendidikan Modern
images info

Pondok Modern Darussalam Gontor Kampus 6 – Riyadhatul Mujahidin


Pondok Modern Darussalam Gontor tengah memperingati ulang tahun ke-100.

Seratus tahun lalu, tentu alumni belum mencapai ribuan sebagaimana saat ini. Kala itu, Gontor juga belum punya Universitas Darussalam Gontor, apalagi fakultas kedokteran yang baru diresmikan Presiden Prabowo Subianto. Gagasan dan keyakinan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti ketika pendirinya sudah tidak ada, menjadikan Gontor bertahan sampai hari ini.

Pada 18–20 September 2026, puluhan ribu alumni berdatangan ke Ponorogo untuk memperingati satu abad Gontor. Presiden Prabowo ikut hadir dalam resepsi kesyukuran pada Sabtu (19/9). Ia hadir untuk mengikuti resepsi kesyukuran 100 tahun Gontor. Ia juga meresmikan Fakultas Kedokteran Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor.

Saat berpidato di Gontor, Prabowo mendapat hadiah keffiyeh Palestina dari Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdulfattah A.K. Al-Sattari.

Momen itu membuat Prabowo terharu ketika membicarakan Palestina. Ia kemudian meneriakkan "Free Palestine" di hadapan para tamu dan santri.

Itu adalah salah satu momen ikonik saat perayaan 1 abad Gontor. Lebih jauh lagi, perjalanan Pondok Modern Darussalam Gontor sebenarnya lebih menarik untuk dibahas.

Bagaimana sebuah pesantren yang lahir dari lingkungan pendidikan sederhana bisa berkembang menjadi lembaga dengan ribuan alumni, perguruan tinggi, jaringan pendidikan, dan lahan wakaf yang luas.

Pesantren di Ponorogo, Jawa Timur, itu mempertontonkan bagaimana sebuah tanah wakaf bisa tumbuh dari sekitar 1,2 hektare menjadi sekitar 1.200 hektare.

baca juga

Dari Pesantren Tegalsari Lalu ke Gontor

Sebenarnya, kisah dan sejarah awal ponpes Gontor berawal dari Pondok Tegalsari di Ponorogo. Pesantren ini didirikan oleh Kiai Ageng Hasan Besari pada paruh pertama abad ke-18.

Tegalsari pernah menjadi pusat pendidikan Islam yang didatangi ribuan santri dari berbagai daerah. Bahkan, kawasan desa di sekitarnya ikut menjadi tempat tinggal para santri karena jumlah mereka begitu banyak. Salah satu santrinya adalah Sulaiman Jamaluddin.

Ia merupakan putra Panghulu Jamaluddin dan cucu Pangeran Hadiraja, Sultan Kasepuhan Cirebon. Setelah dianggap cukup menimba ilmu, Sulaiman Jamaluddin kemudian dipercaya mendirikan pesantren sendiri di Gontor.

Lokasinya saat itu bukan kawasan pendidikan yang ramai. Gontor berada sekitar 3 kilometer di sebelah timur Tegalsari dan 11 kilometer tenggara Kota Ponorogo. Kawasan tersebut masih berupa hutan dan dikenal sebagai tempat persembunyian berbagai kelompok kriminal.

K.H. Hasan Abdullah Sahal, pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor bahkan menyinggung plesetan lama yang menyebut Gontor sebagai "nggon kotor", yang menggambarkan tantangan sosial masa itu.

Sulaiman Jamaluddin datang bersama 40 santri yang dibekalkan oleh Kiai Khalifah dari Tegalsari. Dari rombongan kecil inilah Gontor Lama mulai tumbuh.

baca juga

Gontor Lama Sempat Berjaya, Lalu Meredup

Pondok yang dirintis Sulaiman Jamaluddin berkembang pesat ketika kepemimpinannya diteruskan putranya, Kiai Archam Anom Besari. Santri datang dari berbagai wilayah Jawa. Bahkan, menurut sejarah yang dicatat Gontor, sebagian santri berasal dari kawasan Pasundan, Jawa Barat.

Sayang, setelah Archam Anom Besari wafat, kepemimpinan diteruskan oleh putranya, Santoso Anom Besari. Pada generasi ketiga inilah Gontor Lama mulai mengalami kemunduran.

Kegiatan pendidikan semakin sepi karena jumlah santri berkurang. Pembelajaran bahkan hanya berlangsung di sebuah masjid kecil. Masalah kaderisasi menjadi salah satu faktor yang disebut dalam sejarah resmi Gontor sebagai penyebab kemunduran tersebut.

Santoso Anom Besari tetap menjadi tokoh agama dan rujukan masyarakat sampai akhir hayatnya. Namun setelah ia wafat, tidak ada saudara yang mampu meneruskan pengelolaan pesantren.

Warisan Gontor Lama kemudian tinggal sebuah rumah sederhana dan masjid tua.

baca juga

Seorang Ibu Menolak Melihat Gontor Hilang

Santoso Anom Besari meninggalkan seorang istri dan tujuh putra-putri. Istrinya dikenal sebagai Nyai Santoso.

Alih-alih membiarkan pesantren itu menjadi bagian dari masa lalu, Nyai Santoso justru menyiapkan anak-anaknya untuk menghidupkannya kembali.

Tiga putranya dikirim untuk memperdalam ilmu di berbagai pesantren dan lembaga pendidikan. Mereka adalah Ahmad Sahal, Zainuddin Fananie, dan Imam Zarkasyi. Ketiganya kelak dikenal sebagai Trimurti, tiga pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.

Nyai Santoso tidak sempat melihat hasil dari perjuangannya. Ia wafat ketika ketiga putranya masih menempuh pendidikan. Namun, cita-cita tersebut terus dibawa oleh ketiganya.

baca juga

20 September 1926: Gontor Dibuka Kembali

Pada 20 September 1926 atau 12 Rabiul Awwal 1345, Pondok Gontor dibuka kembali. Peristiwa itu berlangsung bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Trimurti yang terdiri dari K.H. Ahmad Sahal (1901–1977), K.H. Zainuddin Fananie (1908–1967), K.H. Imam Zarkasyi (1910–1985) merupakan penerusnya.

Mereka mendirikan Gontor baru dengan sistem pendidikan yang berbeda. Gagasannya dipengaruhi oleh pengalaman mereka melihat berbagai lembaga pendidikan, termasuk Al-Azhar di Mesir, Syanggit di Mauritania, Aligarh di India, dan Santiniketan. Masing-masing memberikan inspirasi berbeda.

Al-Azhar menjadi contoh keberlangsungan lembaga pendidikan Islam. Syanggit memberi gambaran tentang keikhlasan dan kemandirian pendidikan. Aligarh menunjukkan upaya memadukan ilmu agama dan pengetahuan umum. Sementara Santiniketan menjadi contoh pendidikan yang berkembang dengan suasana sederhana dan terbuka.

Gontor kemudian mencoba mengambil gagasan dari berbagai model tersebut tanpa meninggalkan akar pesantren.

baca juga

Gagasan Gontor Ternyata Lahir dari Persoalan Bahasa

Kawan, Gontor dikenal sebagai ponpes yang ahli dalam berbahasa. Ini berangkat dari sejarah masa lalu. Pada Kongres Umat Islam Indonesia di Surabaya pada 1926, muncul kebutuhan untuk mengirim utusan ke Muktamar Islam Dunia di Makkah.

Persoalannya, utusan tersebut setidaknya perlu menguasai bahasa Arab dan Inggris. Namun, menurut catatan sejarah Gontor, tidak ada satu tokoh yang ketika itu menguasai kedua bahasa tersebut dengan baik. Akhirnya H.O.S. Cokroaminoto dipilih karena menguasai bahasa Inggris, sementara K.H. Mas Mansur dipilih karena menguasai bahasa Arab.

Peristiwa itu ikut memengaruhi pemikiran Ahmad Sahal.

Gontor kemudian diarahkan untuk mencetak lulusan yang tidak hanya memiliki pengetahuan agama, tetapi juga mampu menguasai ilmu umum dan bahasa asing. Oleh karena itu, bahasa Arab dan Inggris mendapatkan posisi penting dalam sistem pendidikan Gontor.

Konsep ini kemudian menjadi salah satu ciri yang mudah dikenali dari pendidikan Gontor.

baca juga

Gontor Baru Mulai Berkembang

Kawan, perkembangan Gontor menjadi pesantren yang besar dilakukan secara terhatap. Kebangkitannya dimulai dari Tarbiyatul Athfal (TA) pada 1926, program pendidikan untuk anak-anak Gontor dan sekitarnya.

Fasilitasnya sangat sederhana waktu itu. Santri belajar beralaskan tikar, di bawah pepohonan, bahkan menggunakan lampu tempurung kelapa ketika malam.

Jumlah peserta didik kemudian berkembang. Pada 1932, Gontor membuka Sullamu-l-Muta'allimin sebagai jenjang lanjutan dengan pelajaran agama, bahasa, keterampilan berpidato, olahraga, kesenian hingga organisasi.

Perubahan cukup signifikan terjadi pada 1936 ketika Kulliyyatu-l-Mu'allimin Al-Islamiyah (KMI) didirikan. Sistem pendidikan ini memadukan ilmu agama dan pengetahuan umum, sekaligus menggunakan bahasa Arab dan Inggris dalam kehidupan pondok. Pelajaran agama dan umum diberikan seimbang, dan santri tinggal di asrama.

Konsep tersebut sempat dianggap tidak lazim. Jumlah santri bahkan pernah merosot hingga 16 orang. Namun, Trimurti—KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi—tetap mempertahankan sistem tersebut.

Menurut catatan sejarah, saat itu guru dan santri memakai celana panjang dan dasi, belajar di kelas, dan memakai bahasa Arab, Inggris, bahkan Belanda. Saat itu, bahasa Inggris dan Belanda dianggap bahasa orang kafir.

Kritik dan ejekan berdatangan. Santri yang tadinya ratusan menyusut jadi 16 orang.

Pak Zar, panggilan Kiai Imam Zarkasyi, tidak mundur. Ia berkata, " Biarpun tinggal satu saja dari yang 16 orang ini, program akan tetap akan kami jalankan sampai selesai, namun yang satu itulah nantinya yang akan mewujudkan 10…100 hingga 1000 orang.”

Kakaknya, Kiai Ahmad Sahal, memilih berdoa. Ia meminta Allah memanggilnya lebih dulu bila ia harus menyaksikan pondoknya menjadi "bangkai".

Pada tahun kedua, santri mulai datang dari Kalimantan, Sumatra, dan pelosok Jawa. Jumlah guru sempat kurang, sampai Pak Zar kadang mengajar dua kelas dalam satu jam pelajaran. Tahun kelima datang guru muda R. Muin, yang fasih berbahasa Belanda.

baca juga

Gontor Saat Masa Pendudukan Jepang

Kawan, lagi-lagi Gontor mengalami masa sulit. Pada masa pendudukan Jepang, komunikasi Jawa dengan luar Jawa terputus. Santri dari luar pulau tak lagi menerima kiriman uang dari orang tua.

Pengasuh dan direktur pun menjual harta pribadi untuk menghidupi santri. Dibentuk pula dapur umum bernama UPPIPOM.

Lalu Jepang menutup sekolah-sekolah. Pesantren, ternyata, dibiarkan. Maka para siswa KMI (Kulliyyatu-l-Muallimin Al-Islamiyyah) atau Sekolah Guru Islam belajar diam-diam di kamar santri. Dengan cara ini Gontor tidak dihitung sebagai sekolah, sehingga tidak wajib tutup.

Pada 1948, pondok dikosongkan akibat Peristiwa Madiun. Sekitar 200 santri pergi bergelombang, disusul pengasuh dan direktur. Setelah Belanda menyerang lagi pada 19 Desember 1948, santri ikut bergerilya bersama Corps Pelajar.

Pada 1967 pondok menghadapi ujian dari dalam. Sekelompok santri senior berupaya mengambil alih kepemimpinan. Pimpinan memulangkan semua santri dan hanya memanggil sebagian untuk kembali. Menurut sejarah, setelah peristiwa itu justru makin banyak santri yang datang.

baca juga

1958: Pondok Diserahkan kepada Umat

Momen paling menentukan terjadi pada 12 Oktober 1958. Trimurti mewakafkan Gontor kepada umat Islam melalui 15 wakil alumni yang tergabung dalam IKPM.

Menurut catatan, yang diwakafkan berupa tanah kering seluas 1,740 hektare, tanah basah 16,851 hektare, dan 12 gedung. Artinya, pondok ini tidak lagi menjadi milik keluarga pendiri. Model itu yang membuatnya terus berjalan setelah para pendirinya wafat pada 1967, 1977, dan 1985.

Pendidikan Gontor bahkan semakin berkembang hingga perguruan tinggi. Perguruan Tinggi Darussalam yang didirikan pada 1963 kemudian berkembang menjadi Universitas Darussalam Gontor (UNIDA Gontor).

baca juga

Seabad Kemudian

Wajah Gontor kini lain. Selain kampus induk, pondok punya cabang dari Aceh hingga Sulawesi Tenggara. Di Kendari, Gontor 7 berdiri di atas tanah 1.000 hektare milik pemerintah provinsi.

Gontor 6 di Magelang berdiri di atas tanah wakaf 2,3 hektare dari Hj. Qayyumi, istri K.H. Kafrawi Ridwan. Kampus putri juga bertambah.

Pada puncak peringatan, 15 duta besar dari berbagai negara turut hadir. Dalam rangkaian acara, diluncurkan Mushaf Gontor yang naskah dan cetaknya dikerjakan sendiri oleh santri dan percetakan pondok.

Gedung BPPM baru berkapasitas 4.000 sampai 5.000 orang berdiri di lokasi yang pada 1950-an masih berupa tiang bambu dan batang kelapa.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.