Candi Borobudur menjadi salah satu situs budaya yang memiliki sejarah panjang di Indonesia. Tidak hanya dikenal di dalam negeri saja, daya tarik candi Buddha terbesar di dunia tersebut jika terkenal hingga tingkat mancanegara.
Oleh sebab itu, tidak heran jika Candi Borobudur sering menjadi salah satu destinasi saat ada tamu penting yang datang ke Indonesia dalam sebuah lawatan. Salah satunya seperti yang terjadi saat kunjungan Ratu Juliana ke Indonesia pada 1971 silam.
Pada waktu itu, Ratu Belanda yang baru pertama kali ke Indonesia berkunjung ke beberapa daerah sepanjang lawatannya. Candi Borobudur menjadi salah satu destinasi yang dipilih untuk didatangi oleh tamu kenegaraan tersebut pada waktu itu.
Lantas bagaimana momen saat Ratu Juliana berkunjung ke Candi Borobudur dalam lawatan kenegaraannya pada 1971 silam? Berikut ulasan terkait momen penting tersebut.
Lawatan Ratu Juliana ke Candi Borobudur
Dilihat GNFI dari artikel "Ratu Juliana Dialun Gamelan di Borobudur" yang terbit di surat kabar Indonesia Raya edisi 3 September 1971, kunjungan Ratu Belanda ini terjadi pada Selasa, 31 Agustus 1971. Ratu Juliana yang datang bersama suaminya Pangeran Bernhard dan rombongan tiba di candi terbesar Budhha tersebut pada saat sore hari.
Rombongan kenegaraan dari Belanda ini didampingi langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Boediardjo selaku Menpen Indonesia waktu itu. Pada saat tiba di lokasi, rombongan ini langsung disambut di altar halaman barat Candi Borobudur.
Gubernur Jawa Tengah waktu itu, Munadi hadir langsung selaku tuan rumah. Dalam sambutannya, Munadi menyebutkan jika kunjungan Ratu Juliana ke Candi Borobudur menjadi sebuah kehormatan, khususnya bagi masyarakat Jawa Tengah secara umum.
Sambutan Meriah di Halaman Komplek Candi
Setelah melewati sambutan pada saat awal kedatangan, Ratu Juliana beserta rombongan kemudian berkeliling di area Candi Borobudur. Perlahan Ratu Belanda tersebut menaiki tangga-tangga di candi untuk melihat setiap sudut dari situs budaya tersebut.
Drs. Sukmono dari Dirjen Purbakala bertugas sebagai pemandu rombongan pada waktu itu. Penjelasan yang disampaikan oleh Drs. Sukmono disaksikan dengan seksama, termasuk oleh Ratu Juliana dan rombongan lainnya.
Setelah mengelilingi area candi, rombongan pun berpindah di halaman sebelah barat Candi Borobudur. Di sana sudah ada pementasan berbagai pertunjukkan kebudayaan untuk menyambut kedatangan Ratu Belanda tersebut.
Ratusan siswa sekolah turut terlibat dalam persembahan kebudayaan ini. Alunan gamelan pun dimainkan untuk mengiringi beberapa lagu yang dinyanyikan oleh siswa sekolah.
Lagu yang dibawakan pun juga beragam. Ada beberapa lagu yang berbahasa belanda yang dibawakan, seperti In naam Van Oranje, De zilverenvloot, Mijn zonneland, dan lainnya.
Selain itu, ada juga beberapa lagu perjuangan Indonesia yang juga dibawakan dalam persembahan tersebut, seperti Garuda Pancasila dan Rayuan Pulau Kelapa. Sambutan yang ditampilkan makin meriah dengan pementasan beberapa kesenian daerah lainnya, seperti jatilan dan tari-tarian khas Keraton Solo.
Cendera Mata Khusus dari Jawa Tengah
Lawatan Ratu Juliana di Candi Borobudur ditutup dengan pemberian cendera mata. Ratu Juliana menerima sebuah lemari berukuran besar dengan tinggi hampir tiga meter dengan ukiran khas Jepara.
Hadiah ini diterima dengan senang hati oleh Ratu Juliana dan Pangeran Bernhard. Beberapa kali terlihat Ratu Belanda tersebut menyalami Munadi sebagai bentuk terima kasih atas hadiah tersebut.
Setelah menyelesaikan kunjungan di Candi Borobudur, rombongan kenegaraan ini kemudian bertolak menuju Candi Prambanan untuk menyaksikan Sendratari Ramayana pada malam itu juga.


