Tradisi pukul sapu atau dengan nama lain Pukul Manyapu, menghadirkan pemandangan yang unik dan mungkin dapat memunculkan tanda tanya kepada orang-orang di luar Maluku.
Di Maluku Tengah, atau tepatnya di Negeri Mamala dan Morella, terdapat tradisi di mana beberapa pria akan saling memukulkan sapu lidi satu sama lain hingga tubuh mereka terluka setiap 7 Syawal.
Namun, ini bukan bentuk dari perkelahian melainkan sebuah budaya yang sudah diwariskan secara turun temurun.
Sejarah di Balik Tradisi Pukul Sapu
Meskipun Negeri Mamala dan Morella sama-sama mewarisi tradisi pukul sapu, tetapi keduanya memilikiย kisah sejarah yang berbeda.
Negeri Mamala: Pembuktian Khasiat Minyak Mamala
Berdasarkan jurnal berjudul Identitas dan Representasi Tradisi Pukul Sapu di Negeri Mamala dan Morella melalui Kajian Budaya, kemunculan tradisi Pukul Sapu di Negeri Mamala memiliki kaitan dengan pembangunan Masjid Al-Muhibbin.
Ketika pembangunan masjid hampir selesai masyarakat melihat satu masalah, yaitu terdapat keretakan pada salah satu pilar utama. Di tengah kebingungan itu, seorang pemuka agama bernama Imam Tuny mendapatkan sebuah petunjuk yang datang dari mimpinya.
Dirinya lalu membuat sebuah minyak yang kemudian dibacakan ayat-ayat Al-Quran. Sesuatu yang ajaib pun terjadi sesaat minyak itu dioleskan, retak pada tiang tersebut kembali menyatu, dan minyak tersebut diberi nama minyak Mamala.
Masyarakat juga meyakini bahwa minyak Mamala memiliki khasiat untuk menyembuhkan luka dan patah tulang.
Untuk mempertahankan dan membuktikan khasiat minyak Mamala, masyarakat kemudian melakukan tradisi Pukul Sapu yang menyebabkan tubuh peserta mengalami luka. Luka tersebut selanjutnya diobati menggunakan minyak Mamala.
Dengan demikian, tradisi Pukul Sapu di Negeri Mamala tidak hanya menjadi bentuk pelestarian minyak Mamala, tetapi juga menjadi cara masyarakat untuk mengenang sejarah terciptanya minyak tersebut.
Morella: Simbol Perjuangan Melawan VOC
Berbeda dengan Negeri Mamala, tradisi pukul sapu Morella memiliki kaitan dengan Perang Kapahaha dan dipercayai tradisi ini sudah ada sejak tahun 1646 di Morella.
Setelah perjuangan Kapitan Tulukabessy dan para pejuang Kapahaha berakhir pada kekalahan saat melawan pasukan VOC, mereka pulang ke kampung halaman mereka dengan perasaan sedih dan kecewa.
Sebelum beranjak pulang, mereka mengadakan pesta perpisahan. Dalam pesta tersebut pemuda Kapahaha melakukan aksi pukul sapu, di mana atraksi ini menyimbolkan rasa kecewa dan ketidakpuasan mereka.
Rasa sakit yang timbul inilah kemudian disimbolkan sebagai perjuangan, pengorbanan, semangat juang, dan perjuangan leluhur.
Prosesi Pelaksanaan Tradisi Pukul Sapu
Adanya perbedaan kisah sejarah ikut mempengaruhi proses rangkaian acara di Negeri Mamala dan Morella, meskipun atraksi utama yang ditampilkan sama.
Prosesi di Negeri Mamala
Prosesi dibuka dengan pembuatan lidi, diikuti dengan pembuatan minyak Mamala yang didoakan. Kondisi lalu berubah menjadi khusyuk sesaat Fatwa Upu Latu dibawakan (amanat yang disampaikan oleh pemimpin Maluku).
Barulah atraksi utama pukul sapu dimulai dan acara diakhiri dengan pengobatan luka dengan minyak Mamala.
Prosesi di Morella
Berbeda dengan tradisi Negeri Mamala, proses Morella dimulai dengan pengambilan obor Kapitan Tulukabessy. Baru kemudian penyiapan lidi dilakukan.
Prosesi hadrat (tradisi mengelilingi kampung) dan pasawale (pengucapan nama-nama leluhur dengan bahasa daerah setempat) menyusul setelahnya. Puncak acara kemudian dilaksanakan dan ditutup dengan pengobatan luka menggunakan getah daun jeruk.
Tradisi Pukul Sapu di Negeri Mamala dan Morella bukan sekadar aksi saling pukul. Di balik proses tersebut menyimpan banyak kisah sejarah serta nilai yang dalam dan diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Hingga kini tradisi pukul sapu masih terus dilaksanakan setiap 7 Syawal dan telah menjadi identitas Maluku selama puluhan tahun


