Di hutan Borneo, pohon tidak berbuah dengan jadwal tetap karena dipengaruhi oleh fenomena El NiΓ±o yang datang tidak menentu. Akibatnya, masa buah melimpah dan masa buah langka silih berganti tanpa bisa diprediksi.
Orang utan pun harus bertahan saat buah langka, padahal buah menjadi salah satu sumber energi utama bagi mereka.
Lalu apa yang dilakukan orang utan ketika stok makanan utamanya berkurang?
Dalam jurnal Science Advances, Erin R. Vogel dan tim peneliti mengamati perilaku orang utan Kalimantan liar (Pongo pygmaeus wurmbii) selama 15 tahun di Tuanan Research Area, Kalimantan Tengah. Tim peneliti mengikuti orang utan seharian penuh dari sarang ke sarang dan mencatat makanannya, dengan total lebih dari 52.000 jam pengamatan.
Selain itu, mereka juga memeriksa sampel urine untuk melihat cara tubuh orang utan mengolah makanan.
Ketersediaan buah dihitung dari persentase pohon yang berbuah tiap bulan, yang berkisar antara 0,5 persen sampai 14 persen. Semua data ini kemudian dihubungkan untuk melihat bagaimana hubungan antara ketersediaan buah, asupan nutrisi, dan perubahan metabolisme tubuh orang utan.
Asupan Protein Tetap Terjaga
Ternyata selain buah, orang utan juga memakan bunga, serangga, dan daun. Jadi ketika buah sedang langka, mereka lebih banyak mengonsumsi daun dan kulit kayu bagian dalam yang kandungan kalorinya lebih rendah.
Kondisi ini membuat asupan energi orang utan ikut berubah mengikuti ketersediaan buah. Saat buah sedang sedikit, total kalori yang dikonsumsi pun menurun. Sedangkan saat memasuki periode buah melimpah, asupan kalorinya meningkat sekitar 19,2 persen.
Kenaikan tersebut terutama berasal dari sumber energi non-protein seperti karbohidrat dan lemak, yang meningkat sekitar 21,7 persen. Sementara itu, perubahan asupan protein jauh lebih kecil sekitar 3,9 persen.
Hal ini menunjukkan bahwa asupan protein orang utan cenderung stabil karena mereka memakan makanan berprotein seperti empulur (bagian lunak di tengah batang), daun muda, dan daun tua. Sehingga, asupan protein mereka tetap terjaga, baik saat ketersediaan buah sedang sedikit maupun melimpah.
Mengambil Cadangan Energi dari Tubuhnya Sendiri
Meski asupan proteinnya terjaga, asupan kalori dan karbohidrat tetap turun cukup jauh. Pada kondisi tersebut, kadar urea (zat sisa pemecahan protein) dan penanda nitrogen dalam urine orang utan meningkat.
Artinya, ada protein yang sedang dipecah di dalam tubuh orang utan meski asupan proteinnya tetap stabil. Protein tersebut berasal dari jaringan tubuhnya sendiri, termasuk otot yang dijadikannya sebagai energi.
Kemudian terjadilah proses glukoneogenesis, dimana protein yang dipecah menghasilkan asam amino (penyusun protein), yang kemudian diubah menjadi glukosa untuk kebutuhan otak. Selain itu, lemak juga menjadi sumber energi bagi sebagian besar jaringan tubuh lainnya.
Jadi saat sedang musim paceklik, orang utan juga menekan pengeluaran tenaga dengan bergerak lebih sebentar, jarang bersosialisai dan wilayah yang dijelajahinya dalam satu hari menjadi lebih sempit.
Dengan cara ini, dapat membantu tubuh orang utan tetap punya energi meski ketersediaan makanannya terbatas.
Saat Masa Paceklik Berlalu
Setelah masa paceklik berlalu, buah kembali melimpah dan energi dari makanan ikut bertambah. Kadar urea dalam urine pun menurun tajam saat ketersediaan buah di atas rata-rata, sehingga pemecahan protein tubuh ikut berkurang.
Selain itu, otot yang terpakai selama masa sulit juga perlu dibangun kembali, dan protein dari makanan diduga dipakai untuk itu. Hal ini mungkin menjelaskan mengapa asupan protein orangutan relatif konsisten sepanjang waktu.
Pada masa ini, energi yang masuk melebihi dari tenaga yang dikeluarkan, dan selisihnya dapat membantu mengisi kembali cadangan lemak yang terpakai selama masa sulit.
"Salah satu poin utama dari integrasi ini adalah bahwa konsumsi energi berlebih justru bermanfaat dalam konteks siklus kelangkaan dan kelimpahan buah yang bergantian,β tulis Vogel dan tim dalam jurnal tersebut.


