kreatif dan ramah lingkungan begini cara warga tegalweru usir hama pakai botol bekas - News | Good News From Indonesia 2026

Kreatif dan Ramah Lingkungan, Begini Cara Warga Tegalweru Usir Hama Pakai Botol Bekas

Kreatif dan Ramah Lingkungan, Begini Cara Warga Tegalweru Usir Hama Pakai Botol Bekas
images info

Mahasiswa KKN Memayu Tegalweru sedang Memberikan Penjelasan Terkait Yellow Trap, Property of Memayu Tegalweru


Kawan GNFI, pernah membayangkan botol plastik bekas di rumahmu bisa berubah jadi alat pengendali hama tanaman? Ide sederhana inilah yang belakangan dipraktikkan warga Padukuhan Tegalweru, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman.

Inovasi bernama Yellow Trap ini diperkenalkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Yogyakarta yang tengah mengabdi di wilayah tersebut, lewat sebuah workshop bersama perwakilan Bapak-Bapak Jaga Warga, Selasa (01/09). Alih-alih langsung mengandalkan pestisida kimia, warga diajak mengendalikan hama tanaman dengan memanfaatkan sampah plastik yang selama ini kerap terbuang percuma.

Mengenal Yellow Trap, Solusi Sederhana Atasi Hama

Penanggung Jawab Program, Dheana Eka Pradipta, menjelaskan bahwa Yellow Trap dibuat dari botol plastik bekas yang dicat kuning, kemudian dilapisi plastik yang telah diolesi campuran lem sebagai bahan perangkapnya.

baca juga

"Melalui program ini, kami mengajak warga untuk mengenal salah satu cara sederhana dalam membantu mengendalikan hama pada tanaman. Yellow Trap dibuat dengan memanfaatkan botol plastik bekas yang dicat berwarna kuning, kemudian diberi plastik yang telah diolesi lem sebagai bahan perangkapnya," ujar Dheana.

Kenapa Harus Warna Kuning?

Pemilihan warna kuning bukan tanpa alasan. Dalam dunia pertanian, alat semacam ini dikenal sebagai perangkap likat kuning atau yellow sticky trap. Perangkap ini dirancang berdasarkan kecenderungan serangga yang tertarik pada cahaya, warna, atau aroma tertentu, dan warna kontras yang cerah seperti kuning termasuk yang paling mencolok bagi mereka. Serangga yang hinggap pada permukaan berlem pun menempel dan tidak bisa terbang lagi.

Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta mengelompokkan penggunaan perangkap likat kuning sebagai bagian dari pengendalian hama terpadu, yaitu upaya menekan pemakaian pestisida sintetik di pertanaman. Fungsi utamanya bahkan bukan sekadar menangkap, melainkan juga memantau keberadaan hama di sekitar tanaman, sehingga petani bisa mengetahui lebih awal kapan serangan mulai muncul.

Sejumlah jenis hama yang sering dijebak dengan cara ini antara lain lalat buah, wereng, dan kutu daun. Meski begitu, perlu dicatat bahwa perangkap lengket bersifat tidak selektif.

baca juga

Belajar Sambil Praktik Langsung

Kegiatan diawali dengan pematerian singkat mengenai fungsi dan cara kerja Yellow Trap, sebelum dilanjutkan praktik langsung bersama warga. Peserta diajak menyaksikan sekaligus mencoba tahapan pembuatannya, mulai dari menyiapkan botol yang telah dicat kuning hingga mengoleskan campuran lem dan pertalite pada plastik pembungkus botol.

"Selain memperkenalkan fungsi dan cara penggunaannya, kami juga mengajak warga untuk membuat Yellow Trap secara langsung dengan menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan serta dengan memanfaatkan sampah plastik," katanya.

Ia menambahkan, warga tidak hanya mendapatkan penjelasan teori, tetapi juga turut menyaksikan langsung proses pembuatannya, sehingga ilmu yang didapat lebih mudah dipraktikkan secara mandiri di rumah masing-masing.

baca juga

Sebagai tambahan tips, perangkap kuning sebaiknya dipasang pada posisi yang lebih tinggi dari tanaman agar mudah terlihat oleh serangga. Untuk tanaman tomat, misalnya, pemasangan disarankan sekitar satu minggu setelah masa tanam agar serangan hama dapat ditekan sejak dini.

Menyasar Penjaga Lingkungan Dusun

Program ini secara khusus menyasar Bapak-Bapak Jaga Warga, mengingat peran mereka yang cukup dekat dengan aktivitas menjaga lingkungan dan lahan pertanian di Tegalweru sehari-hari. Dengan membekali kelompok ini pengetahuan seputar Yellow Trap, harapannya informasi dapat lebih mudah menyebar dan diterapkan luas oleh warga lain di sekitar mereka.

Dheana berharap, Yellow Trap dapat menjadi alternatif sederhana yang terus dimanfaatkan warga dalam mengurangi hama di sekitar tanaman, bahkan setelah masa KKN berakhir.

"Kami berharap warga Tegalweru dapat memanfaatkan Yellow Trap sebagai salah satu alternatif sederhana dalam membantu mengurangi hama di sekitar tanaman. Semoga pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama kegiatan dapat terus diterapkan setelah KKN selesai, serta mendorong warga untuk memanfaatkan bahan-bahan di sekitar menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat bagi kegiatan pertanian," pungkas Dheana.

baca juga

Inovasi kecil seperti Yellow Trap ini menjadi contoh bagaimana solusi sederhana dan murah tetap bisa memberi dampak nyata bagi keberlanjutan pertanian warga, sekaligus mengurangi limbah plastik yang selama ini menumpuk di lingkungan sekitar.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KM
IJ
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.