Kawan GNFI, gimana caranya mengajarkan konsep menjaga lingkungan ke anak-anak tanpa terasa menggurui? Jawabannya ternyata bisa sesederhana dongeng dua tanaman tomat bernama Timo dan Topo, seperti yang dipraktikkan mahasiswa KKN di Padukuhan Tegalweru, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman.
Cerita ini menjadi bagian dari Program Literasi Lingkungan yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Negeri Yogyakarta di Masjid Al-Amin, Padukuhan Tegalweru, pada 29 Juli 2026. Kegiatan ini diikuti anak-anak Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) setempat, dengan pendekatan belajar yang dikemas jauh dari kesan formal.
Program ini merupakan salah satu dari lima program utama Tim KKN-M 30353 "Memayu Tegalweru" yang dirancang untuk menanamkan kesadaran ramah lingkungan sejak dini kepada generasi muda padukuhan.
Belajar Lewat Cerita, Bukan Ceramah

Penanggung Jawab Program, Julia Ardhini dari Program Studi Sastra Indonesia, menjelaskan bahwa program ini sengaja dirancang dengan pendekatan menyenangkan agar anak-anak tidak merasa sedang duduk di kelas formal.
"Kami memilih pendekatan yang menyenangkan supaya anak-anak tidak merasa sedang belajar secara formal, melainkan lewat kegiatan yang dekat dengan keseharian mereka," ujar Julia.
Kegiatan diawali dengan tadarus Al-Qur'an bersama, dilanjutkan sesi mendongeng bertema lingkungan, dan ditutup dengan kuis singkat sebagai penguatan pemahaman anak-anak. Urutan ini membuat suasana belajar terasa mengalir: dari kebiasaan yang sudah akrab bagi anak-anak TPA, menuju cerita, lalu diakhiri permainan tanya jawab yang membuat mereka ikut aktif.
Kisah Timo dan Topo, Dua Tomat yang Dirawat Berbeda
Dalam sesi mendongeng, mahasiswa KKN mengangkat cerita dua tanaman tomat bernama Timo dan Topo yang dirawat dengan cara berbeda sebagai media belajar.
"Timo disiram dengan air biasa, sedangkan Topo disiram menggunakan air yang dicampur pupuk organik cair dan bakteri baik. Lewat cerita ini, anak-anak diajak memahami pentingnya merawat tanaman dengan cara yang tepat, sekaligus mengenal konsep sederhana tentang lingkungan dan alam sekitar," kata Julia.
Lewat perbandingan sederhana ini, anak-anak diajak memikirkan sendiri bagaimana cara merawat tanaman memengaruhi hasilnya, tanpa perlu dijejali teori yang rumit. Pupuk organik cair yang muncul dalam cerita juga bukan sekadar tempelan.
Materi tersebut sejalan dengan program lain yang dijalankan tim KKN yang sama di Tegalweru, yakni pelatihan pembuatan pupuk organik cair dari air cucian beras bersama ibu-ibu Kelompok Wanita Tani. Dengan begitu, apa yang didengar anak-anak lewat dongeng punya kaitan langsung dengan praktik yang mulai dikenal orang dewasa di lingkungan mereka.
Mengapa Dongeng Dipilih?
Memakai dongeng untuk menanamkan nilai lingkungan bukan ide yang benar-benar baru. Dongeng merupakan salah satu strategi efektif untuk mengenalkan literasi sejak dini, dan tetap relevan di tengah maraknya gawai karena sifatnya yang hangat, murah, dan sarat makna. Melalui tokoh-tokoh dalam cerita, anak juga belajar mengenali berbagai emosi, sehingga pesan yang disampaikan lebih mudah diterima.
Menariknya, edukasi lingkungan pada anak tidak selalu memerlukan anggaran besar atau fasilitas canggih. Sejumlah praktisi pendidikan menyebut, kegiatan sederhana seperti memilah sampah, memakai barang daur ulang, atau menceritakan dongeng tentang pentingnya alam sudah cukup untuk mulai menumbuhkan kepedulian. Kisah Timo dan Topo di Tegalweru menunjukkan hal yang sama: dengan bahan cerita dan tanaman yang mudah ditemukan, pesan tentang merawat alam bisa tersampaikan dengan cara yang menyenangkan.
Antusiasme Tinggi Sepanjang Kegiatan
Julia mengaku senang melihat antusiasme tinggi dari anak-anak sepanjang kegiatan berlangsung.
"Sepanjang kegiatan, kami melihat antusiasme anak-anak yang tinggi, mulai dari saat tadarus hingga sesi tanya jawab kuis di akhir acara," ujarnya.
Julia berharap kegiatan literasi lingkungan semacam ini dapat terus berjalan dan menumbuhkan kepedulian anak-anak Tegalweru terhadap lingkungan sejak dini.
"Semoga juga ilmu yang didapat hari ini bisa mereka terapkan langsung di rumah, seperti mulai belajar merawat tanaman sendiri. Kami juga berharap warga Padukuhan Tegalweru dapat terus mendukung kegiatan-kegiatan positif semacam ini, supaya semangat mencintai lingkungan bisa terus tumbuh dari generasi ke generasi," pungkasnya.
Kisah sederhana seperti Timo dan Topo membuktikan bahwa menanamkan kepedulian lingkungan sejak dini tidak harus rumit. Cukup lewat cerita yang dekat dengan keseharian anak-anak, nilai-nilai menjaga alam bisa tertanam dan dibawa hingga mereka dewasa nanti.


