belajar dari sejarah kolonial mengapa beragam saja belum cukup untuk bangun indonesia yang multikultural - News | Good News From Indonesia 2026

Belajar dari Sejarah Kolonial, Mengapa ‘Beragam’ Saja Tak Cukup untuk Bangun Indonesia yang Multikultural?

Belajar dari Sejarah Kolonial, Mengapa ‘Beragam’ Saja Tak Cukup untuk Bangun Indonesia yang Multikultural?
images info

Foto oleh Neermana Studio di Unsplash


Keberagaman Indonesia lahir dari pertemuan panjang antarkelompok. Jejaknya tersimpan pada bangunan tua, pasar, bahasa, hingga tradisi yang masih hidup. Hal ini terungkap dalam Webinar Series Forum Kebhinekaan Seri 40 yang digelar Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN bersama Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) di Jakarta pada Selasa, 29 September 2026. Forum tersebut mengajak publik melihat keberagaman sebagai kekuatan yang perlu dipahami lewat bukti sejarah yang bisa ditelusuri.

Jejak Arkeologi Rekam Perjumpaan Budaya

Peneliti Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, Iwan Hermawan menyebut Bandung sebagai contoh kota yang memperlihatkan dinamika masyarakat multikultural pada masa kolonial. Kawasan permukiman berkembang mengikuti kelompok Eropa, Tionghoa, Arab, dan pribumi Nusantara.

Salah satu titik pertemuannya adalah kawasan Pasar Baru. Setelah dibangun kembali pada 1906, kawasan ini menjadi ruang ekonomi bersama masyarakat Tionghoa, Arab, India, Sunda, dan Jawa.

Perjumpaan itu juga membekas pada bahasa sehari-hari. Komunitas peranakan Tionghoa, misalnya, memakai bahasa Sunda dalam keseharian. Menurut Iwan, hal ini menandakan percampuran budaya di tengah ruang sosial yang semula terpisah.

Gambaran serupa tampak dalam kajian Chaniago dan Albina dari UIN Sumatera Utara (2025). Mereka mencatat bahwa multikulturalisme bukanlah sesuatu yang baru bagi masyarakat Nusantara, terutama sejak Islam datang pada abad ke-7.

baca juga

Pasar Baru, Otista, Kota Bandung | Foto: Wikimedia Commons | Karya: Devitapra
info gambar

Pasar Baru, Otista, Kota Bandung | Foto: Wikimedia Commons | Karya: Devitapra


Faktor Pembentuk Masyarakat Multikultural

Kajian Chaniago dan Albina menyebut empat faktor utama yaitu geografis, pengaruh budaya luar, perkawinan antarsuku, dan perbedaan iklim. Ribuan pulau dari Sumatra hingga Papua melahirkan kelompok suku dan tradisi yang beragam. Kondisi alam yang berbeda turut membentuk kebiasaan bercocok tanam masing-masing daerah.

Penelitian Dewi Anandita Khifadlul Khilmi dan tim dari Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (2024) mencatat ada sekitar 300 suku bangsa di Indonesia saat ini. Warisan budayanya dipengaruhi India, Arab, Tiongkok, dan Eropa selama berabad-abad.

Singkawang memberi contoh nyata. Timur Triono dari Museum Provinsi Kalimantan Barat menjelaskan, sungai di kota itu dulu menjadi jalur masuk pedagang dan pendatang. Kini, festival tatung dan Cap Go Meh bahkan masuk kalender pariwisata nasional.

Dalam artikelnya di Jurnal Manajemen Pendidikan (2026), Mulyadi dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat menyebut Indonesia sebagai laboratorium multikultural terbesar di dunia. Menurutnya, keragaman itu sekaligus menjadi kekayaan dan tantangan.

baca juga

Tantangan Menjaga Kesetaraan di Tengah Keberagaman

Kepala PR APS BRIN, Iim Imaduddin, mengingatkan bahwa masyarakat majemuk era kolonial cenderung tersegmentasi, hierarkis, dan tidak setara. Artinya, beragam belum tentu adil. Konsep itu kemudian berkembang menjadi pluralisme modern dan multikulturalisme.

Ia menegaskan perbedaan itu tak cukup dibiarkan berdampingan. Dalam multikulturalisme, perbedaan budaya perlu diakui dalam kehidupan bersama. Pengakuan itulah yang membedakannya dari sekadar hidup satu wilayah.

Tantangan lain datang dari arus globalisasi. Mulyadi mencatat gesekan sosial, intoleransi, hingga perundungan (bullying) berbasis SARA di media sosial. Sementara Khilmi dan tim mengingatkan, sebagian generasi muda lebih tertarik pada budaya asing. Kondisi ini menjadi alarm agar keberagaman dirayakan sambil terus dipahami secara mendalam.

Menariknya, teknologi yang sering dituding menggerus tradisi juga bisa menjadi alat pelestarian. Generasi muda dapat memanfaatkannya untuk memperkenalkan ragam budaya daerah ke dunia.

baca juga

Merawat Kebinekaan Lewat Pendidikan dan Budaya

Sekolah disebut punya peran strategis. Mulyadi menekankan pendidikan karakter berbasis multikultural yang integratif, kompak, dan konsisten: masuk ke seluruh kegiatan, melibatkan guru, orang tua, dan masyarakat, serta memperlakukan semua peserta didik setara tanpa memandang suku atau agama.

Budaya lokal pun bisa menjadi perekat. Khilmi dan tim mencontohkan batik, yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada 2009. Kerajinan ini dimiliki banyak suku di Nusantara, sehingga menjadi simbol solidaritas sekaligus penggerak ekonomi dan lapangan kerja.

Upaya ini seiras dengan harapan BRIN agar temuan arkeologi berdampak luas bagi masyarakat. Bangunan lama, menara masjid di Singkawang, hingga kawasan niaga di Bandung menjadi sumber belajar tentang cara nenek moyang hidup berdampingan. Dengan memahaminya, kita belajar tentang kerukunan yang terbangun lewat proses panjang dan saling percaya.

Keberagaman Indonesia adalah hasil perjumpaan panjang yang terus kita rawat. Mari mengenal budaya tetangga, menghargai perbedaan, dan membagikan cerita baik tentang kebinekaan, karena persatuan tumbuh dari pengakuan atas perbedaan.

baca juga

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

US
FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.