Upacara kemerdekaan Republik Indonesia menjadi salah satu momen yang dinantikan setiap tahun. Upacara dengan sederet rangkaian acara hingga Pasukan Pengibar Bendera (Paskibraka) menjadi bagian inti acara yang begitu mengharukan sekaligus menegangkan.
Dibalik hentakkan kaki pasukan terdengar seperti alunan yang tegas mengiringi setiap langkahnya membawa Sang Saka Merah Putih.
Kawan GNFI, tahukah kalian sebelum terbentuknya formasi Pasukan Pengibar Bendera seperti sekarang, memiliki sejarah dan makna.
Sejarah Terbentuknya Paskibraka
Pada tanggal 17 Agustus 1945, presiden Soekarno didampingi oleh Bung Hatta membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia yang saat itu masih dalam situasi darurat, yang sewaktu-waktu kolonial Jepang bisa menyerang. Namun, ketegangan berubah menjadi kelegaan karena Sang Saka Merah Putih berhasil dikibarkan.
Momen tersebut tidak lepas dari ketiga peran anggota petugas pengibar bendera yang kala itu dikenal dengan nama Pasukan Pengerek Bendera Pusaka, yaitu Abdul Latief Hendraningrat yang bertugas sebagai pengibar bendera, Suhud Sastro Kusumo sebagai pengerek dan memegang tali bendera, dan Surastri Karma Trimurti yang sempat menolak menjadi pengerek bendera akhirnya bertugas membawa bendera dan mendampingi Fatmawati saat upacara.
Pada tahun berikutnya, menyambut HUT ke 2 Indonesia Presiden Soekarno menginstruksikan Mayor Husein Mutaharโajudan pribadinya untuk mempersiapkan serangkaian acara upacara kemerdekaan.
Awalnya, Mutahar mengusulkan pasukan berbaris yang diisi dengan pemuda-pemudi dari seluruh Indonesia. Akan tetapi, semasa itu kondisi masih belum kondusif hingga gagasanya tidak terealisasi.
Pada akhirnya, ajudan presiden tersebut memutuskan pengibaran Sang Saka Merah Putih dilakukan oleh 5 anak muda yang terpilih di Yogyakarta, terdiri dari 3 pemudi dan 2 pemuda. Hal ini melambangkan 5 pilar lambang negara Indonesia, yaitu pancasila. Namun, pada tahun 1948 Mutahar tidak lagi mengurus perihal pengibaran bendera.
Dua tahun berselang (1950) upacara kemerdekaan kembali berpusat di Jakarta dengan pengibaran bendera yang dilakukan oleh pemuda dari kelompok pelajar dan mahasiswa hingga tahun 1966.
Barulah pada tahun 1967, Mutahar kembali dipanggil dan dipercaya oleh Presiden Soekarno dalam menangani pengibaran bendera merah putih. Konsep dasar yang sudah ada pada tahun 1946 semakin dikembangkan menjadi 3 kelompok antara lain, kelompok pasukan 17 sebagai pengiring, pasukan 8 sebagai pembawa bendera, serta pasukan 45 sebagai pengawal.
Setelah susunannya dikembangakan, pada tahun 1973 pembina pasukan pengibaran bendera Idik Sulaeman mengusulkan nama Pasukan Pengibar Bendera atau yang sekarang dikenal dengan Paskibraka. Singkatan tersebut diambil dari kata pasukan (Pas), pengibar bendera (Kibra) sesuai paduan ucapan, dan pusaka (Ka).
Formasi Paskibraka dan Maknanya
Representasi dari formasi 17-8-45 mengingatkan kepada seluruh masyarakat Indonesia akan hari kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Serta, meninggalkan kesan perjuangan dari beratus tahunnya sampai akhirnya merah putih berkibar.
Formasi tersebut terbagi atas tiga kelompok, yang memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing, sebagai berikut:
Pasukan 17
Pasukan ini bertugas menjadi pengiring serta pemandu pasukan yang berada paling depan barisan formasi. Serta dipimpin oleh komandan pasukan di bawah komando Danpas sebagai pimpinan seluruh barisan.
Pasukan 18
Pasukan ini merupakan kelompok inti yang terdiri dari pengerek, pengibar, pembawa baki dari duplikat Sang Saka Merah Putih dan empat anggota paspampres. Di bawah pimpinan Danpok 8 barisan ini berada di antara pasukan 17 dan 45.
Pasukan 45
Pasukan barisan dengan anggota dari Paspampres TNI yang bertugas mengawal dan pengamanan kehormatan negara yang bersifat simbolis. Posisi barisan berada di belakang.
Ketiga kelompok pasukan tersebut bukan hanya sebuah barisan dengan langkah yang seirama dan solid tetapi membawa pesan sejarah bahwa kegigihan serta memiliki tujuan yang sama, yaitu memperjuangkan kemerdekaan akhirnya tercapai.
Hiduplah Indonesia Raya!


