Lembaga riset ekonomi global Oxford Economics merilis laporan bertajuk Global Cities Index 2026. Laporan ini mengukur daya saing dan kinerja dari 1.000 kota terbesar yang tersebar di 163 negara.
Di kawasan Asia Tenggara, sejumlah kota pusat pertumbuhan berhasil menembus jajaran teratas indeks dunia ini. Kota-kota besar seperti Singapura, Kuala Lumpur, Bangkok, Jakarta, Hanoi, dan lainnya masuk dalam daftar.
10 Kota Terkemuka di ASEAN
Mengutip data Oxford Economics, ada lebih dari 50 kota di Asia Tenggara yang dinilai dari total 1.000 kota di dunia. Di bawah ini adalah 10 kota di Asia Tenggara yang masuk peringkat tertinggi:
- Singapura (Singapura) – Peringkat #29
- Kuala Lumpur (Malaysia) – Peringkat #65
- Bangkok (Thailand) – Peringkat #122
- Jakarta (Indonesia) – Peringkat #140
- Manila (Filipina) – Peringkat #174
- Ho Chi Minh City (Vietnam) – Peringkat #205
- Hanoi (Vietnam) – Peringkat #243
- George Town (Malaysia) – Peringkat #279
- Johor Bahru (Malaysia) – Peringkat #288
- Surabaya (Indonesia) – Peringkat #308
Penilaian Global Cities Index mengacu pada lima kategori utama dengan pembobotan khusus. Kelima kategori tersebut adalah Economics dengan bobot 30%, Human Capital 25%, Quality of Life 25%, Environment 10%, serta Governance 10%. Kategori Governance dinilai pada tingkat nasional karena kebijakan pemerintah pusat berdampak langsung pada kota.
Setiap indikator dihitung menggunakan skala terstandar 0 hingga 100 sebelum digabungkan dalam rata-rata tertimbang. Selain itu, Oxford Economics menerapkan pendekatan Functional Urban Area (FUA) dalam menentukan batas wilayah kota. Pendekatan FUA ini tidak hanya mencakup batas administratif, tapi juga mengukur wilayah penyangga dan zona komuter di sekitarnya.
Sebagai tambahan informasi, peringkat pertama dunia diduduki oleh New York. Kemudian, peringkat kedua hingga kelima masing-masing adalah London, Paris, Seattle, dan San Fransisco.
Apa Keunggulan Jakarta dan Surabaya?
Jakarta menempati posisi ke-140 secara global dalam Global Cities Index 2026. Posisi ini didorong oleh kinerja baik di kategori Human Capital.
Dalam kategori ini, Jakarta menempati peringkat ke-23 dunia. Selain itu, indikator Economics Jakarta juga berada di peringkat ke-59 dunia.
Keunggulan utama Jakarta terletak pada skala populasi yang masif dan tingginya volume aktivitas ekonomi sebagai megapolitan utama. Kota ini juga diproyeksikan mengalami peningkatan pesat jumlah rumah tangga berpenghasilan tinggi dalam beberapa dekade mendatang. Angkatan kerja muda yang terampil serta kelimpahan sumber daya alam menjadi pendorong utama pertumbuhan jangka panjang.
Akan tetapi, nilai pada dua kategori lainnya masih cukup rendah. Kategori Quality of Life berada di peringkat ke-561 dan Environment menempati posisi ke-553 dunia.
Sementara itu, sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya menduduki posisi ke-308 secara global. Pencapaian Surabaya ini ditopang oleh kinerja yang cukup kuat pada sektor Economics di peringkat ke-216 dunia. Sementara itu, pada kategori Human Capital, Surabaya berada di posisi ke-251 dunia.
Masuknya Surabaya menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi perkotaan di Asia Tenggara tidak hanya berpusat pada ibu kota negara saja. Area metropolitan sekunder seperti Surabaya terbukti mampu memberikan kontribusi nyata terhadap dinamika ekonomi dan sosial kawasan. Kehadiran pusat kegiatan bisnis dan industri regional menjadi pondasi penting bagi pertumbuhan kota ini.
Sama halnya dengan Jakarta, Surabaya masih menghadapi tantangan pada aspek kenyamanan hidup dan lingkungan. Kategori Quality of Life Surabaya mencatatkan peringkat ke-468, sedangkan kategori Environment berada di posisi ke-388 dunia.
Selain Jakarta dan Surabaya, beberapa kota di Indonesia yang dinilai adalah Padang, Makassar, Yogyakarta, Bandar Lampung, Bandung, Pekanbaru, dan lain sebagainya.


