Orang kelahiran Madiun satu ini satu almamater dengan Purbaya Yudhi Sadewa, mantan Menteri Keuangan RI, di Purdue University, sebuah kampus yang berdiri di West Lafayette, Indiana, Amerika Serikat. Ia kini menjadi tokoh yang dielu-elukan di Italia dan dunia. Dia adalah Mirwan Suwarso, sosok yang mengangkat derajat klub sepak bola Como 1907 dari keterpurukan menjadi tim yang disegani.
Saya melihat Mirwan Suwarso –orang Jawa yang lahir di Madiun, Jawa Timur, pada tanggal 29 Desember 1985– dalam kepemimpinannya di Como 1907 menggunakan budaya Jawa dan Indonesia, terutama dalam "menguwongke" yang berarti mengorangkan atau menghargai pihak lain, serta unggah-ungguh pada orang-orang sepuh. Hal itu mendapatkan apresiasi yang tinggi dari rakyat Italia, bahkan sampai ada yang meneteskan air mata.
Mirwan mempersembahkan tiket pertandingan Como kepada para warga senior, terutama mantan pemain klub yang dipimpinnya itu di masa lalu. Sikap Mirwan yang menghadiahkan tempat duduk VIP-nya kepada para warga sepuh membuat warga Como dan rakyat Italia terenyuh. Hal ini membuat rakyat Italia mengetahui sikap santunnya budaya Jawa dan Indonesia. Malahan, keberhasilan Mirwan memimpin Como 1906 membuat banyak orang Italia berencana berlibur di Indonesia.
Selain itu, Mirwan menggunakan sepak bola untuk menciptakan merek global yang menggabungkan inovasi, data, dan identitas dengan kekuatan emosional sepak bola, plus nilai-nilai komunitas lokal Italia.
Latar belakangnya sebagai alumni Purdue University di jurusan Consumer Science and Retail Management membuatnya berhasil membangun klub kecil di Como menjadi industri sepak bola besar yang menggabungkan strategi marketing yang sophisticated, budaya, strategi bisnis, dan turisme.
Tidak banyak yang mengenal baik Como 1907, apalagi para pucuk pimpinannya. Klub tersebut memang tidak segemilang Inter Milan yang semenjak didirikan 1908 sudah menyabet scudetto pada prima categoria, yang pada masa itu menjadi laga dengan kasta tertinggi di negeri Italia. Como juga bukan Juventus yang memenangi prima categoria tahun 1905, bukan pula AC Milan yang berkali-kali menjadi scudetto dan kemudian mengharumkan nama Kota Milan kepada para pencinta sepak bola di seluruh dunia.
Como, kota di tepi utara Italia yang berbatasan dengan halaman belakang Swiss, lebih dikenal dalam sejarah karena banyaknya bangunan berarsitektur klasik yang menjadi tujuan para pelancong ketimbang para pesepakbola. Como adalah kota sejarah, bukan kota bola. Menurut World Population Review pada tahun 2026 ini jumlah penduduk Como cuma 83 ribu orang. Dengan jumlah segitu, kalau mereka semua menonton di Stadion Utama Gelora Bung Karno maka kota bisa menjadi senyap.
Como 1907 dalam rentang nan panjang itu hanya meninggalkan jejak persinggahan para bintang sepak bola. Tempat singgah, bukan tujuan. Jauh sebelum berlabuh di PSG dan kemudian ke banyak klub, Marco Simone memulai karier di Como 1907 dari tahun 1986 hingga 1989. Para pemain kelahiran Como juga tak kalah benderang di tingkat nasional. Diego De Ascentis adalah gelandang yang pernah bermain untuk AC Milan. Gianluca Zambrotta, yang kemudian kita kenal sebagai pemain bek sayap kanan bertenaga andalan Timnas Italia, lahir di Como pada 19 Februari 1977. Ia memulai karier sepak bola di Como 1907 pada tahun 1994, kemudian pindah ke Juventus pada 1999, serta sempat membela Barcelona pada 2006 hingga 2008, dan kemudian berlabuh di AC Milan hingga 2012.
Banyak sumber berita mewartakan bahwa masuknya Djarum Group ke Como 1907 bermula dari rencana syuting film dokumenter tentang sepak bola Italia untuk ditayangkan di Mola TV, anak usaha media milik Djarum. Tentu dengan tujuan agar anak-anak muda Indonesia terpacu oleh denyut sepak bola dunia.
Ketika mencari lokasi syuting itulah mereka bertemu dengan Como 1907 yang sedang terpuruk. Mirwan yang saat itu menjabat CEO Mola TV kemudian memimpin langsung syuting. Djarum sebetulnya bertekad menjadikan klub ini sebagai markas Garuda Select, homebase bagi pemain-pemain muda Indonesia. Tekad ini terhalang oleh regulasi sepak bola Italia yang sangat ketat. Pemain yang direkrut harus memiliki izin tinggal menetap dan harus memiliki rekam jejak pernah terdaftar di klub Italia lain. Susah benar. Oleh karena sudah dibeli, tidak ada pilihan lain selain menjadikan Como 1907 sebagai klub sepak bola yang profesional. Djarum memilih Mirwan menjalankan misi ini.
Sebelum memimpin Como 1907, Mirwan punya pengalaman bekerja di agensi periklanan Saatchi & Saatchi Advertising sebagai account director, lalu kariernya terus menanjak hingga menjadi Direktur Destiny Films hingga 2007. Ia lalu menjadi creative head pada MSP Entertainment, juga bekerja untuk business development Super Soccer TV, platform milik Djarum yang secara khusus menyiarkan sepak bola Eropa. Kinerja dan ketekunan membawanya dipercaya menjadi CEO Mola TV.
Lama malang melintang di industri kreatif, tentu saja Mirwan paham bagaimana mengelola sebuah entitas bisnis. Mirwan sesungguhnya tidak sekadar membangun kembali sebuah klub sepak bola yang terpuruk. Sebagai pebisnis kreatif, ia berusaha menghubungkan bisnis sebuah klub sepak bola menyatu dengan denyut sebuah kota, tentu bekerja sama dengan Pemerintah Kota Como. Ia menjadikan sepak bola sebagai mesin narasi sebuah kota, sebagai pusat bisnis, pariwisata, dan gaya hidup. Narasi itulah yang dikirim ke seluruh dunia.
Dari bisnis bola, begitu banyak hal yang dipadukan dengan denyut Kota Como. Selain membangun stadion, juga membangun sekian unit usaha ritel, merchandise, serta tempat warga lokal ikut menikmati bisnis dari deru sepak bola. Danau Como yang indah itu dipromosikan sebagai destinasi wisata olahraga, dan di situ warga lokal berjualan dengan para pelancong yang berduyun. Di situ, mereka yang datang merasakan keriangan olahraga serta nilai yang dijunjung sebuah kota.
Mirwan memposisikan sepak bola sebagai taman hiburan, merchandise sebagai suvenir, turisme sebagai divisi pelayaran, dan layanan media sebagai hiburan digital. Dampaknya, ia mampu memperluas bisnis ke sektor perhotelan, restoran, dan transportasi lokal agar ada diversifikasi pemasukan.
Seharusnya tidak hanya warga Como atau rakyat Italia yang bangga kepada sosok Mirwan Suwarso, tapi kita sebagai bangsa Indonesia patut bangga dan menghargai kepemimpinannya di klub Como 1907 dengan masih menggunakan budaya Indonesia yang luhur.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


