paksi raras alit anggap musisi lagu jawa punya peran penting sebarkan bahasa jawa - News | Good News From Indonesia 2026

Paksi Raras Alit Anggap Musisi Lagu Jawa Punya Peran Penting Sebarkan Bahasa Jawa

Paksi Raras Alit Anggap Musisi Lagu Jawa Punya Peran Penting Sebarkan Bahasa Jawa
images info

Paksi Raras Alit. (Foto: YouTube/Good News From Indonesia)


Yogyakarta dari dulu hingga kini identik dengan citra kota budaya dan wisata. Malioboro, keraton, batik, gudeg, hingga berbagai tradisi Jawa menjadi magnet yang membuat wisatawan datang berulang kali.

Namun, bagi seniman dan budayawan Paksi Raras Alit, daya tarik Yogyakarta tidak cukup dipahami hanya dari simbol-simbol budaya yang terlihat di permukaan. Paksi melihat bahwa kota ini memiliki kekuatan yang lebih dalam soal beradaptasi, kreativitas, serta karakter sosial yang membuat wisatawan merasa nyaman.

Dari pemikiran tersebut, Paksi kemudian melihat konsep quality tourism sebagai salah satu arah yang relevan bagi Yogyakarta. Namun, quality tourism yang dimaksud bukan sekadar mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya, melainkan menilai pariwisata Yogyakarta sebaiknya bertumpu pada kekuatan budaya.

โ€œQuality tourism kalau di Yogya ini yang paling tepat arahnya menurut saya adalah quality tourism yang berbasis culture,โ€ ucap Paksi dalam acara GoodTalk Off-Air beberapa waktu lalu.

Menurut sosok lulusan Sastra Jawa Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut, Yogya sulit meniru Bali yang diberkahi lanskap dengan pulau tersendiri. Maka dari itu ia menilai ada baiknya kebudayaan dan tradisi luhur di Yogya-lah yang mesti ditonjolkan dalam menjual kepariwisataan kepada para turis yang datang.

โ€œKalau culture ngomongnya tentang batik, blangkon dan sebagainya, itu kan culture-culture yang di permukaan tapi kan kita harus mendalami itu,โ€ ungkap Paksi.

Yogya Selalu Relevan

Di tengah perkembangan zaman dan semakin canggihnya teknologi, Yogya masih tetap lekat dan dekat dengan nuansa tradisionalnya. Akar budaya seolah terus dijaga sehingga membuat Yogya tidak mengikuti arus zaman yang kian modern.

โ€œYogya tidak berubah, tetapi selalu relevan,โ€ kata Paksi.

Pernyataan tersebut menjadi menarik karena Yogyakarta justru mengalami perubahan yang sangat terlihat. Kawasan wisata semakin ramai, berbagai jenis usaha baru bermunculan, festival modern berkembang, dan pola konsumsi wisatawan juga berubah.

Namun, bagi Paksi, perubahan bukan sesuatu yang harus selalu dipertentangkan dengan tradisi. Ia melihat masyarakat Yogyakarta memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan zaman. Bahkan, sejumlah unsur budaya yang hari ini dianggap sebagai bagian dari identitas tradisional Yogyakarta juga terbentuk melalui proses pertemuan dan asimilasi budaya.

โ€œAkar kita tidak pernah hilang, tetapi selalu siap menghadapi globalisasi,โ€ ungkap sosok yang lebih senang disebut sebagai seniman itu.

Musisi Lagu Jawa Agen Penyebar Bahasa Jawa

Lagu-lagu Jawa tengah mewabah akhir-akhir ini di antara penggemar musik lokal. Stigma lagu Jawa yang dulunya erat dengan kekunoan kini seolah sirna karena irama dan liriknya relevan bagi muda-mudi Indonesia yang latar belakangnya berbeda-beda.

Bagi Paksi sendiri musisi Yogya turut berandil besar dalam mempopulerkan bahasa Jawa melalui tembang-tembangnya yang dikemas modern. Kepopuleran lagu-lagu Jawa bisa dilihat dari semakin seringnya musisi-musisinya tampil di panggung musik-musik pop level nasional.

โ€œOrang Yogya sekarang sudah tidak bisa ngomong basa Jawa kromo lagi. Iya, memang. Harus diakui. Tetapi kan orang-orang yang memberikan label itu kan sering lupa siapa orang-orang atau sosok-sosok yang paling berpengaruh menyebarkan basa Jawa sekarang lewat grup dangdut. Banyak dari Yogya, sehingga lirik lagu berbahasa Jawa bisa didengarkan di Synchronize, Pestapopra. Itu kan mereka agen penyebar bahasa Jawa secara tidak langsung toh,โ€ ucap Paksi.

Tingkat popularitas lagu-lagu berbahasa Jawa sudah tidak hanya merasuk di komunitas suku Jawa saja. Paksi menyaksikan sendiri saat ia bertamu di luar Pulau Jawa bahwa lagu-lagu Jawa dinikmati oleh masyarakat setempat.

โ€œSaya pernah naik angkot ning Manado, lagune Guyon Waton. Kok iso tekan kene? Nah, itu kan yang luput. Bahasa Jawanya punah, kalau saya bilang enggak. Bahasa Jawa sedang berubah ke arah-arah lain yang belum terdeteksi,โ€ ungkapnya lagi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dimas Wahyu Indrajaya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dimas Wahyu Indrajaya.

DW
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

๐Ÿšซ AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.