bukan tak peduli kita hanya terlalu lelah untuk peduli - News | Good News From Indonesia 2026

Bukan Tak Peduli, Kita Hanya Terlalu Lelah untuk Peduli

Bukan Tak Peduli, Kita Hanya Terlalu Lelah untuk Peduli
images info

Foto oleh Brett Jordan di Unsplash


Belakangan ini, rasanya kita semakin mudah marah. Hal-hal yang sebelumnya mungkin kita lewati begitu saja kini dapat memancing sinisme, termasuk ketika seorang influencer membuat konten tentang mindfulness atau detoksifikasi dari berita buruk. Boleh jadi, dia juga sedang lelah dan membutuhkan ruang untuk beristirahat.

Namun, bagi mereka yang setiap hari berhadapan dengan persoalan ekonomi dan sosial, ajakan semacam itu dapat terasa seperti sebuah privilege. Terlepas dari persoalan privilege atau tidak, ada satu hal yang mungkin mulai kita sadari: kita menjadi lebih mudah marah, bahkan sinis. Pada saat yang sama, kita juga semakin sibuk dengan diri sendiri.

Marah dan Sinis: Masalah Struktural?

Mungkin, kemarahan kita terhadap seorang artis atau influencer juga merupakan luapan dari kekesalan terhadap masalah struktural yang belum kunjung usai. Di saat Indonesia sedang tidak baik-baik saja, pemerintah kita justru membangun narasi bahwa Bumi Pertiwi kondisinya baik.

Hal ini pun memicu frustasi yang luar biasa bagi orang yang merasakan langsung dampak dari kebijakan yang kurang optimal. Terlebih, pemerintah seakan tidak mendengar kritik dan saran, bahkan setelah demo beberapa kali.

baca juga

Idealnya, pemerintah memastikan masyarakat mendapatkan akses ekonomi dan sosial yang memadai. Namun, ketika berbagai persoalan dan kritik yang disampaikan masyarakat terasa tidak mendapatkan respons yang memadai, jarak antara pemerintah dan masyarakat pun semakin terasa.

Terlebih ketika muncul pernyataan atau sikap pemerintah yang dianggap meremehkan kritik maupun pandangan para pakar. Dalam kondisi seperti ini, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dapat ikut terkikis.

Persoalannya bukan semata-mata apakah kondisi Indonesia benar-benar baik atau buruk. Masalahnya muncul ketika pengalaman sebagian masyarakat sehari-hari terasa berbeda dengan narasi yang disampaikan pemerintah.

Ketika masyarakat berhadapan dengan kenaikan harga dan tekanan ekonomi, sementara pemerintah menyampaikan bahwa kondisi negara baik-baik saja, muncul kesan adanya jarak antara apa yang dirasakan masyarakat dan apa yang dilihat pemerintah.

baca juga

Sebagian besar masyarakat saat ini sedang berjuang mengatasi kenaikan harga bahan pokok. Menurut survei dari Indikator Politik Indonesia 2026, 54,6% responden mengatakan harga kebutuhan lebih mahal dibandingkan tahun lalu.

Selain itu, menurut Perbanas 2026, rata-rata saldo tabungan dengan simpanan di bawah 100 juta pun menurun hingga di angka 1,7 juta.

Angka tersebut setidaknya menunjukkan adanya tekanan ekonomi yang dihadapi masyarakat. Ketika narasi tersebut tidak sejalan dengan pengalaman sehari-hari, kekecewaan terhadap pemerintah dapat muncul.

Di saat masyarakat berusaha memperbaiki kondisi ekonominya, mereka justru masih dihadapkan pada persoalan harga pangan.

baca juga

Apa akibatnya ketika kita terus dihadapkan pada situasi tersebut? Barangkali, sebagian masyarakat akan fokus pada kepentingan pribadinya. Dibandingkan peduli dengan kondisi negara, lebih baik menyelamatkan diri sendiri.

Menyelamatkan Diri Sendiri: Keadaan Memaksa?

Keadaan yang dialami oleh sebagian masyarakat, terutama kelas menengah, memaksa kita untuk fokus ke dalam diri sendiri. Pola pikir tersebut tidaklah salah karena memang keadaannya sedang seperti ini.

Bukan berarti kita tidak peduli terhadap orang-orang di sekitar kita. Hanya saja, kapasitas kita untuk peduli mungkin tidak sebesar dulu. Kenapa? Ada tekanan pribadi yang mengharuskan kita untuk terus dalam mode bertahan hidup.

Alhasil fokusnya saat ini adalah kerja, kerja, dan kerja supaya dapat memenuhi kebutuhan dasar dan ekonomi, yang menguras energi kita.

baca juga

Konsekuensinya adalah kurang adanya ruang untuk mempedulikan orang lain. Contoh kecilnya dapat kita lihat di dalam transportasi umum. Saat menaiki transportasi umum, penulis mengamati ada beberapa orang yang usianya tergolong muda, duduk di kursi prioritas.

Lalu, ketika berhenti di suatu tempat, masuk beberapa orang tua, termasuk lansia. Namun, orang muda tersebut justru tidak menawarkan kursi kepada orang tua.

Kita tidak bisa serta-merta tahu apa yang ada di balik perilaku tersebut. Namun, ilustrasi kecil ini setidaknya menggambarkan bagaimana ruang untuk memikirkan orang lain dapat terasa semakin sempit ketika seseorang sedang sibuk dengan tekanannya sendiri.

Kita merasa lelah sendiri, sehingga masing-masing merasa berhak atas sesuatu hal. Alhasil, kita hanya menyisakan ruang yang sangat sempit untuk orang lain.

baca juga

Bisakah Kita Kembali Lebih Peduli?

Fenomena yang penulis amati akhir-akhir ini bukan sepenuhnya salah individu. Kita hidup di dalam sistem di mana keputusan politik berpengaruh terhadap kondisi ekonomi maupun psikologis kita.

Dalam The Psychological Impact of Austerity: A Briefing Paper, McGrath et al. (2016) mengungkapkan, hal-hal yang sifatnya psikologis, seperti kesehatan mental, merupakan indikator sosial. Kenapa? Karena hal tersebut dibentuk secara sosial oleh kondisi ekonomi, ketimpangan sosial, dan kebijakan publik.

Oleh karenanya, ketika kita fokus menyelamatkan diri, itu karena ada faktor sosial dibaliknya. Berarti, ketika kemampuan untuk berempati berkurang, tidak dapat sepenuhnya menyalahkan individu yang bersangkutan. Ada faktor kebijakan juga yang mempengaruhinya.

Pertanyaannya adalah sampai kapan harus terus menyelamatkan diri sendiri? Penulis tidak tahu. Mungkin apabila pemerintah dapat menurunkan harga kebutuhan pokok hingga di tahap kita tidak perlu berpikir dua kali untuk membelinya.

baca juga

Terlebih, tekanan ekonomi yang membuat kita harus mencari berbagai cara agar tetap mengonsumsi makanan yang sehat dan layak. Kalau masalah itu sudah teratasi, kita punya ruang bernapas yang lebih besar.

Sifat menyelamatkan diri sendiri berangkat juga dari faktor sosial. Solusi yang sifatnya individu mungkin dapat membuat kita bertahan, tetapi itu sifatnya jangka pendek. Di tengah situasi sekarang, faktor sosial-lah yang punya peran besar untuk memperbesar kapasitas empati kita terhadap orang lain.

Faktor internal dan eksternal saling mempengaruhi. Kita dapat menerapkan mindfulness, tetapi selama keadaan sehari-hari tetap seperti ini, jangan kaget apabila makin lama, rakyat akan terus menyelamatkan diri sendiri.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.