Setelah mengajak 1,7 juta orang mencari rumah masa depan untuk Kaluna di layar lebar pada tahun 2024 lalu, kini Home Sweet Loan kembali dengan format yang baru yaitu musikal. Masih berfokus kepada cerita dan masalah yang sama dari sebelumnya, tapi lewat panggung seni pertunjukan ada dimensi dan membawa rasa yang baru. Penasaran bagaimana jalannya pertunjukan ini? Yuk simak ceritanya!
Diadaptasi dari novel karya Almira Basta, Jakarta Art House berkolaborasi dengan Indonesia Kaya dan Visinema kembali menceritakan kisah Kaluna di panggung musikal dari 30 September hingga 18 Oktober 2026 dengan total 23 pertunjukan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Meski dengan jajaran pemain yang berbeda, musikal ini masih tetap membangun emosi yang sama. Dari asmara, amarah, sakit hati, hingga segala keraguan semua berhasil tersampaikan lewat akting dan musikalisasi pada adegan tersebut.
Dimensi Baru Latar Tempat
Jika diperhatikan, perbedaan pertama dari musikal dengan filmnya dapat dilihat dari set latar. Memang tidak realistis seperti di film dan hanya menampilkan beberapa latar. Namun, lewat panggung musikal ini, penonton seolah diajak untuk melihat lebih dekat dimensi yang lebih dalam dari setiap tempat khususnya rumah Kaluna. Meskipun perasaan ini mungkin lebih dirasakan oleh penonton yang mendapat kursi dekat panggung.

Home Sweet Loan the Musical di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki | Dok. Almer Sophian
“Lantas, musikal ini akan terasa spesial hanya untuk yang dekat dengan panggung dong?” Menariknya, penonton yang duduk lebih jauh juga punya cara sendiri untuk menikmatinya. Dari kejauhan, keseluruhan panggung justru terlihat lebih utuh dan menghadirkan pemandangan yang cantik. Dua di antaranya adalah suasana sibuknya Stasiun Manggarai dan kantor Kaluna. Di kedua latar tersebut, para ensemble (pemeran pendukung) tidak hanya berdiri sebagai pengisi panggung. Mereka melakukan berbagai aktivitas meski tidak selalu berkaitan dengan adegan pemeran utama. Beberapa di antaranya bahkan punya tingkah yang cukup menghibur dan membuat suasana panggung terasa lebih hidup.
Suasana lainnya ada di latar SeaWorld. Alih-alih menggunakan sekat kaca dan batas pemisah aquarium. Nuansa lautan dan biota lautnya ditunjukan dengan kain dan kostum para pemainnya. Hal ini seolah menunjukkan Kaluna dan Danan justru berada di lautan. Kemudian biota laut seolah berusaha memberikan sesuatu untuk menghibur Kaluna yang sedang murung kala itu.
Emosi yang Berbeda dari Filmnya
Jika di filmnya sebagian besar perasaannya terasa emosional karena akting setiap pemainnya, di musikal ini emosi yang terbangun justru datang dari adegan kolosal musikal yang menggambarkan isi pesan dari lagu tersebut. Menariknya, alunan lagu dari Idgitaf kembali menjadi bagian dari kisah Kaluna dalam mencari rumah impiannya. Dalam pertunjukan ini, Idgitaf terlibat sebagai penulis lagu musikal dan menghadirkan kembali “Kembali Pulang” serta “Berakhir di Aku”. Beberapa lagu populer ciptaannya, seperti “Senang Sendiri” dan “Sedia Aku Sebelum Hujan”, juga turut mengiringi perjalanan Kaluna di atas panggung.
Jika filmnya cukup banyak suasana dengan perasaan sakit hati, kecewa, dan sedih. Musikal ini justru memiliki suasana yang menghibur. Seperti misalnya saat adegan yang berlatar di kantor dan adegan mencari rumah untuk Kaluna yang dikemas lebih menggambarkan suasana rumahnya. Sama seperti di film, tetapi di sini tanpa visual rumah.
Aktivasi Tentang Perasaan dan Target Hidup di Luar Panggung Musikal
Pesan yang tersirat dalam pertunjukan, set rumah dan pesan utama yang disampaikan, tidak hanya bisa dirasakan di panggung. Namun juga terlihat lewat beragam aktivasi interaktif di luar teater. Seperti salah satunya ada panel “Ini Hidupku” yang mengajak penonton untuk menghubungkan benang merah ke beberapa poin target hidup yang berhubungan dengan ekonomi dan karir.
Lewat panel ini mereka mengajak kita untuk menceritakan apa saja target yang ingin kita capai. Namun, di sisi lain, panel ini juga menyampaikan pesan lain, “ketika terlalu banyak target yang ingin kita capai, kita justru bisa bingung menentukan benang merahnya, termasuk arah dan prioritas yang sebenarnya ingin kita tuju.”

Aktivasi Ini Hidupku di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki | Dok. Almer Sophian
Ada juga kertas “Apayaa" yang berisi lirik lagu, tetapi ada beberapa bagian kosong yang harus diisi dengan satu kata yang tepat. Bukan tentang mencari yang benar, tetapi penonton nantinya diminta untuk mengisi dengan kata yang menurut mereka lebih cocok dan relate bagi mereka untuk mengisi kekosongan itu.
Yang terakhir, yang paling besar ada semacam walloffame. Berisi ruang kosong untuk penonton bercerita tentang “tidak ada cerita yang terlalu kecil untuk diceritakan” dan “titip kata-kata baikmu dan ambil satu di saat harimu terasa lelah”. Panel buatan Visinema yang mengajak penonton untuk cerita mencurahkan isi hati mereka untuk bercerita. Tanpa perlu takut tidak ada yang mendengarkan atau tidak bermakna untuk orang lain.
Pada akhirnya, Home Sweet Loan the Musical bukan hanya sekedar karya adaptasi dari buku dan film. Di sini ada cerita yang dikemas ulang, dan ada juga ruang untuk penontonnya mengenal lebih jauh tentang pesan dari ceritanya. Jika ada kesempatan, maukah Kawan kembali mengikuti perjalanan Kaluna mencari rumah masa depannya?


