Ada sebuah tradisi di mana cerita tidak hanya dibaca, tetapi juga dilantunkan lewat tembang. Tak sampai situ, ada orang yang berperan menerangkan maknanya kepada masyarakat yang mendengarkan. Begitulah kira-kira mamaca berjalan.
Naskah cerita yang dibawakan lewat tembang oleh tokang maca, kemudian dijelaskan oleh tokang tegges agar isinya dapat dipahami oleh pendengar.
Tradisi lisan yang berkembang di tengah masyarakat Madura ini memiliki cara tersendiri dalam menyampaikan cerita dan pengetahuan. Lalu, seperti apa sebenarnya mamaca dan mengapa tradisi ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Madura?
Mamaca, Tradisi “Membaca” yang Dilakukan dengan Tembang
Dalam bahasa Madura, mamaca berarti “membaca”. Namun, membaca dalam tradisi ini tidak dilakukan seperti membaca teks pada umumnya. Ada kitab atau naskah yang berisi tembang macapat, kemudian teks tersebut dilantunkan oleh penembang di hadapan orang-orang yang mendengarkan.
Dalam pertunjukannya, terdapat dua peran utama, yaitu tokang maca sebagai pembaca atau penembang dan tokang tegges sebagai penerjemah. Tokang maca membawakan teks dengan tembang, sementara tokang tegges menjelaskan atau menerjemahkan isi yang telah ditembangkan kepada pendengar. Dalam praktiknya, jumlah penembang dapat berbeda-beda sesuai dengan daerah dan pelaksanaan tradisinya.
Naskah yang digunakan juga tidak selalu memiliki bentuk yang sama. Dalam contoh mamaca di Desa Wonoboyo, Bondowoso, misalnya, naskah yang digunakan adalah Kitab Nur Buwwat yang ditulis menggunakan bahasa Jawa dan aksara Arab Pegon. Teks tersebut kemudian ditembangkan dengan dialek Madura dan diterjemahkan ke dalam bahasa Madura oleh tokang tegghes.
Tradisi ini memiliki hubungan dengan tembang macapat yang dikenal dalam sastra Jawa dan juga berkembang di sejumlah wilayah lain, termasuk Madura. Macapat sendiri merupakan bentuk puisi yang memiliki aturan tertentu dalam jumlah baris, jumlah suku kata, dan bunyi akhir. Namun, mamaca berkembang dengan bentuk dan kebiasaan yang mengikuti lingkungan masyarakat tempat tradisi tersebut dijalankan.
Karena diwariskan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya, mamaca termasuk bagian dari folklor. Bentuk pelaksanaannya pun dapat berbeda antar daerah.
Dari Teks Lama hingga Tembang: Jejak Sejarah Mamaca di Masyarakat Madura
Mamaca berkembang sebagai bagian dari tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun di tengah masyarakat. Dalam perkembangannya, tradisi ini memiliki hubungan dengan sastra dan tembang yang berkembang dalam kebudayaan Madura dan Jawa. Mamaca sendiri disebut-sebut punya kedekatan makna dengan macapat Jawa.
Hubungan tersebut terlihat dari penggunaan tembang dan naskah berbahasa Jawa dalam praktik mamaca di sejumlah daerah. Macapat sendiri merupakan bentuk tembang yang memiliki aturan tersendiri. Ketika berkembang di masyarakat Madura, tradisi tersebut kemudian menyesuaikan dengan konteks budaya dan kehidupan masyarakat setempat.
Penggunaan aksara Arab Pegon dalam sejumlah naskah juga memperlihatkan pertemuan antara tradisi sastra Jawa dengan lingkungan sosial-keagamaan masyarakat Madura. Salah satu contoh yang dicatat dalam kajian tentang mamaca di Bondowoso adalah penggunaan Kitab Nur Buwwat. Kitab tersebut ditembangkan dalam kegiatan mamaca untuk menyampaikan sejarah dan ajaran agama Islam.
Mamaca dan Kitab Nur Buwwat juga disebut pernah digunakan untuk mengenalkan ajaran Islam melalui tembang. Cerita dan ajaran di dalam kitab disampaikan melalui tembang macapat agar lebih mudah dipahami dan diterima oleh masyarakat.
Ketika Tembang Tak Hanya Didengar, tetapi Juga Dijelaskan
Mamaca tidak dilakukan seperti membaca naskah biasa. Teks dalam naskah ditembangkan oleh tokang maca, kemudian isi tembang diterangkan oleh tokang tegges kepada orang-orang yang mendengarkan. Dua peran ini membuat cerita yang dibawakan tidak berhenti sebagai tembang, tetapi juga bisa dipahami oleh penonton.
Dalam tradisi mamaca di Desa Wonoboyo, Bondowoso, misalnya, naskah yang digunakan ditulis dalam bahasa Jawa, sementara masyarakat setempat sehari-hari menggunakan bahasa Madura. Tokang maca bertugas membawakan teks dalam bentuk tembang, sedangkan tokang tegghes membantu menerangkan isinya dalam bahasa yang lebih mudah dipahami masyarakat.
Menariknya, prosesnya tidak selalu kaku. Dalam beberapa kesempatan tokang maca dapat melakukan improvisasi ketika menemukan bagian naskah yang sulit dibaca. Beberapa kata atau kalimat bahkan dapat disisipkan dalam bahasa Madura. Tokang tegghes pun tidak harus menerjemahkan setiap kata secara harfiah. Ia cukup memahami bagian penting dari tembang untuk kemudian menjelaskan kembali maksud ceritanya kepada pendengar.
Pelaksanaannya pun bisa berlangsung sederhana. Di Desa Wonoboyo, mamaca dilakukan dengan duduk bersila dan secara bergiliran, tanpa panggung, kostum, alat musik, ataupun penari pendamping. Bentuk ini merupakan gambaran praktik mamaca di Wonoboyo, bukan berarti semua pertunjukan mamaca di daerah lain memiliki bentuk yang sama.
Cerita, Agama, hingga Nasihat: Apa Tujuan Tradisi Mamaca?
Mamaca memiliki fungsi yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat Madura. Tradisi ini digunakan sebagai bagian dari ritual untuk menjauhkan musibah, sekaligus menjadi sarana untuk belajar mengenali diri sendiri. Mamaca juga dapat hadir dalam rangkaian upacara adat, kegiatan penting, maupun aktivitas budaya dalam kehidupan sosial masyarakat.
Di dalam pelaksanaannya, mamaca juga membawa nilai sosial. Kegiatan ini melibatkan masyarakat secara bersama-sama sehingga dapat memperkuat solidaritas dan hubungan antaranggotanya. Pertunjukan mamaca menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul dan terlibat dalam satu kegiatan budaya yang dilakukan secara bersama.
Fungsi lainnya berkaitan dengan pendidikan. Cerita yang dibacakan dalam mamaca mengandung nilai moral dan kearifan lokal, sehingga tradisi ini dapat menjadi salah satu sarana bagi masyarakat untuk mengenal nilai-nilai tersebut. Proses mempelajari dan membawakan mamaca juga dapat mengembangkan keterampilan membaca dan bernyanyi, terutama bagi generasi muda.
Isi cerita yang dibawakan pun tidak selalu sama. Naskah yang digunakan dapat berisi babad, kisah nabi, cerita tokoh sejarah, maupun cerita tertentu yang mengandung petuah atau nasihat. Karena itu, apa yang disampaikan melalui mamaca sangat bergantung pada naskah dan konteks pelaksanaannya. Jadi, secara tidak langsung mamaca berperan yang lebih luas daripada sekadar hiburan.
Mamaca di Tengah Zaman Modern, Masihkah Tradisi Ini Bertahan?
Di tengah perubahan cara masyarakat menikmati hiburan dan mencari informasi, tradisi mamaca menghadapi tantangan untuk tetap bertahan. Buku Tradisi Mamaca Madura: Sepenggal Kearifan Bondowoso yang diterbitkan BRIN mencatat bahwa penyelenggaraan mamaca semakin jarang ditemukan dalam kehidupan modern.
Tantangannya tidak hanya berkaitan dengan perubahan bentuk hiburan. Di dalam mamaca, ada kemampuan yang perlu diwariskan, mulai dari membaca naskah, menembangkan teks, hingga memahami dan menerjemahkan isinya kepada pendengar. Ketika orang-orang yang menguasai kemampuan tersebut semakin sedikit, keberlangsungan pertunjukan juga ikut menghadapi persoalan.
Mamaca Menunjukkan bahwa Sebuah Cerita Bisa menjadi Ruang Belajar Bersama
Dalam mamaca, sebuah cerita tidak berhenti sebagai tulisan dalam naskah. Ketika ditembangkan dan diterangkan kembali, cerita tersebut bisa menjadi pertunjukan, pengetahuan, nasihat, sekaligus ruang bagi masyarakat untuk berkumpul dan mendengarkan bersama.
Cara ini memperlihatkan bagaimana pengetahuan dapat disampaikan dari satu orang kepada orang lain melalui suara dan interaksi. Jauh sebelum informasi bisa ditemukan dalam hitungan detik melalui internet, masyarakat memiliki cara sendiri untuk menyampaikan cerita dan nilai yang mereka anggap penting. Mamaca menjadi salah satu contohnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


