tembang macapat pengertian - News | Good News From Indonesia 2026

Apa Itu Tembang Macapat? Pengertian, Ciri, dan Jenisnya

Apa Itu Tembang Macapat? Pengertian, Ciri, dan Jenisnya
images info

Apa Itu Tembang Macapat? Pengertian, Ciri, dan Jenisnya


Tembang macapat bukan sekadar bentuk puisi lama, melainkan warisan intelektual yang menyimpan nilai filosofis, etis, dan spiritual masyarakat Jawa. Keberadaannya telah mengakar kuat dalam tradisi lisan maupun tulisan, digunakan sebagai media pendidikan, dakwah, hingga refleksi perjalanan hidup manusia.

Dalam konteks kebudayaan Jawa, tembang macapat diposisikan sebagai sarana penyampaian pesan yang halus namun mendalam.

Setiap baitnya tidak hanya tunduk pada aturan teknis, tetapi juga mengandung simbol dan makna yang merepresentasikan fase kehidupan manusia dari awal hingga akhir.

Oleh karena itu, memahami tembang macapat berarti juga memahami cara pandang orang Jawa terhadap kehidupan.

Pengertian Tembang Macapat

Tembang macapat adalah bentuk puisi tradisional Jawa yang terikat oleh aturan metrum (ukuran irama) tertentu, yakni guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu. Tembang ini berkembang pesat pada masa Jawa Baru dan banyak ditemukan dalam karya sastra klasik seperti serat, babad, dan suluk.

Secara fungsi, tembang macapat digunakan sebagai media untuk menyampaikan ajaran moral, nilai keagamaan, nasihat sosial, hingga kisah-kisah historis. Bahasa yang digunakan cenderung simbolik dan puitis, sehingga menuntut pemahaman konteks budaya agar maknanya dapat ditangkap secara utuh.

Berbeda dengan puisi modern yang bersifat bebas, tembang macapat memiliki struktur baku yang tidak bisa diubah. Ketundukan pada struktur inilah yang menjadikan macapat bukan hanya karya sastra, tetapi juga latihan disiplin rasa dan pikir.

Ciri-Ciri Tembang Macapat

Salah satu ciri utama tembang macapat terletak pada aturan metrum yang ketat. Aturan ini menjadi fondasi yang membedakan macapat dari bentuk sastra lainnya dalam tradisi Jawa.

Ciri pertama adalah guru gatra, yaitu jumlah baris dalam setiap bait. Setiap jenis tembang macapat memiliki jumlah baris yang berbeda dan bersifat tetap. Ciri kedua adalah guru wilangan, yakni jumlah suku kata dalam setiap baris yang harus sesuai dengan pola tembangnya.

Ciri ketiga adalah guru lagu, yaitu vokal akhir pada setiap baris. Guru lagu menentukan irama dan rasa tembang ketika dilagukan. Ketiga unsur ini saling berkaitan dan membentuk harmoni antara bunyi, makna, dan rasa.

Selain aspek teknis, ciri lain tembang macapat adalah kandungan filosofisnya. Setiap tembang memiliki watak tertentu, seperti sedih, gembira, tegas, atau kontemplatif, yang disesuaikan dengan pesan yang ingin disampaikan.

Urutan Jenis Tembang Macapat dan Maknanya

Urutan tembang macapat tidak disusun secara acak, melainkan melambangkan siklus kehidupan manusia. Setiap jenis tembang merepresentasikan fase tertentu dalam perjalanan hidup.

Tembang Maskumambang melambangkan kondisi manusia sebelum lahir, ketika jiwa masih berada dalam ketidakpastian. Wataknya cenderung murung dan reflektif, menggambarkan kerapuhan awal kehidupan.

Tembang Mijil menggambarkan proses kelahiran dan awal kehidupan manusia. Nuansa yang muncul adalah harapan, kelembutan, dan permulaan. Selanjutnya, Kinanthi melambangkan masa kanak-kanak, ketika manusia membutuhkan bimbingan dan tuntunan dalam hidupnya.

Tembang Sinom merepresentasikan masa muda, fase pencarian jati diri yang penuh semangat dan idealisme. Setelah itu, Asmaradana menggambarkan fase cinta dan gejolak perasaan, baik cinta kepada sesama maupun kepada kehidupan itu sendiri.

Tembang Gambuh melambangkan keselarasan dan kematangan berpikir. Pada fase ini, manusia dianggap mulai menemukan kecocokan antara pikiran, perasaan, dan tindakan. Kemudian, Dhandhanggula merepresentasikan kebahagiaan, kemapanan, dan keseimbangan hidup.

Namun, kehidupan tidak selalu berjalan lurus. Tembang Durma menggambarkan fase amarah, konflik, dan nafsu yang harus dikendalikan. Setelah itu, Pangkur melambangkan sikap menjauh dari hiruk-pikuk dunia dan mulai menata ulang tujuan hidup.

Menjelang akhir kehidupan, terdapat tembang Megatruh yang bermakna perpisahan antara raga dan jiwa. Tembang ini sarat dengan nuansa keheningan dan kepasrahan. Urutan terakhir adalah Pocung, yang melambangkan kematian dan penutup perjalanan manusia di dunia.

Relevansi Tembang Macapat di Era Modern

Meskipun berasal dari tradisi lama, tembang macapat tetap relevan dalam kehidupan modern. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti pengendalian diri, kebijaksanaan, dan keseimbangan hidup, masih kontekstual dengan tantangan zaman sekarang.

Di dunia pendidikan, tembang macapat dapat dijadikan sarana pembelajaran karakter dan literasi budaya. Sementara dalam ranah seni, macapat terus mengalami adaptasi melalui musik, pertunjukan, dan media digital tanpa kehilangan esensi dasarnya.

Dengan memahami pengertian, ciri, dan urutan jenisnya, tembang macapat tidak lagi dipandang sebagai peninggalan masa lalu semata, melainkan sebagai sumber pengetahuan dan refleksi yang tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.