Di tengah banyaknya pilihan makanan yang serba cepat dan praktis, sejumlah kuliner tradisional Indonesia saat ini perlahan mulai jarang dilirik. Menurut Ketua Tim Pusaka Rasa Nusantara, Mei Batubara, salah satu penyebabnya adalah semakin sedikit orang, terutama anak muda yang tidak tahu cara memasaknya.
Selain itu, orang lebih memilih makanan cepat saji karena dianggap praktis dan lebih kekinian dibanding masakan tradisional. Kondisi ini semakin diperkuat oleh media sosial yang banyak menampilkan kuliner modern dengan tampilan yang terlihat lebih menarik untuk dibagikan. Alhasil, kuliner tradisional di Indonesia makin kalah bersaing untuk mendapat perhatian, termasuk di Jawa Barat.
Dalam riset Jurnal Pendidikan dan Kajian Seni (JPKS), Wara Candrasari dan tim peneliti menggelar diskusi kelompok bersama 10 orang yang berasal dari Jawa Barat asli. Dari situ, muncul tiga nama kuliner yang disebut hampir punah, yaitu Deblo, Ali Agrem, dan Awug. Padahal dulu ketiganya dikenal sebagai jajanan khas yang cukup akrab di kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda.
Deblo adalah jajanan khas Jawa Barat berbahan singkong yang dicampur daun bawang, seledri, dan rempah-rempah seperti lada, garam, dan ketumbar, lalu dibentuk pipih dan digoreng. Ali Agrem merupakan makanan tradisional asal Karawang berbentuk bulat menyerupai cincin yang terbuat dari tepung beras dan dicampur gula merah lalu digoreng.
Sedangkan awug adalah kudapan berbentuk kerucut menyerupai tumpeng mini dengan adonan tepung beras, kelapa parut, daun pandan, dan gula aren yang dikukus menggunakan aseupan.
Untuk memastikan temuan tersebut, tim peneliti turun langsung mencari ketiga makanan ini di lapangan. Hasilnya, ketiganya memang sulit ditemukan bahkan di destinasi kuliner yang biasanya menjual aneka jajanan tradisional.
Kondisi ini semakin memperkuat bahwa Deblo, Ali Agrem, dan Awug memang berada di ambang kepunahan, jadi bukan sekadar jarang terdengar namanya saja.

Deblo atau perkedel singkong, makanan tradisional khas Jawa Barat | Tangkapan Layar YouTube | Komariah Herman

Ali agrem atau kue cincin, kue tradisional khas Jawa Barat | Wikimedia Commons | Tim WikiPuluran

Awug atau kue dodongkal, makanan tradisonal khas Jawa barat | Wikimedia Commons | Yuriandrian85
Lewat Teknik Punch Needle, Kuliner Diubah Jadi Karya Tekstil
Dari situ, muncul ide untuk melestarikan ketiga kuliner tersebut lewat cara yang berbeda, yaitu memindahkannya ke dalam karya seni kriya tekstil dengan teknik punch needle.
Teknik ini menggunakan jarum khusus berongga untuk menyulam benang ke atas kain dan membentuk motif bertekstur di permukaannya. Belakangan, teknik ini juga memang sedang digemari oleh banyak orang karena hasilnya yang unik dan prosesnya yang relatif mudah dipelajari.
Prosesnya dimulai dari membuat sketsa awal bentuk makanan, lalu memindahkannya ke kain yang sudah direntangkan pada bidangan atau hoop. Warna benang yang dipakai pun tidak dipilih sembarangan, melainkan disesuaikan semirip mungkin dengan foto dokumentasi asli ketiga makanan tersebut.
Sehingga bentuk dan kesannya tetap terasa autentik. Setelah motif selesai disulam, kain diberi lem agar benang tidak mudah lepas, sebelum akhirnya dirapikan sebagai sentuhan akhir.
Lewat proses ini, Deblo, Ali Agrem, dan Awug yang tadinya hanya bisa dikenang lewat cerita atau foto lama, kini bisa dihadirkan kembali dalam wujud karya tekstil yang bisa dilihat, disentuh, bahkan dipelajari cara pembuatannya.
Dari Karya Seni ke Peluang Usaha
Menariknya, proyek ini tidak berhenti di soal estetika semata. Dalam risetnya, tim peneliti juga menyoroti potensi lain yang bisa tumbuh dari kegiatan tersebut, yaitu jiwa kewirausahaan.
Pembelajaran punch needle bertema makanan tradisional dinilai bisa mendorong inovasi produk, pengemasan yang lebih kreatif, hingga pemanfaatan kearifan lokal sebagai peluang usaha di bidang seni.
Berdasarkan hasil angket yang dilakukan oleh peneliti, karya-karya ini disambut cukup baik oleh masyarakat sekitar. Aspek daya tarik visual dari karya punch needle tersebut mendapat penilaian yang cukup positif dari audiens. Artinya, pendekatan semacam ini memiliki peluang untuk terus dikembangkan, baik sebagai media edukasi di dunia seni maupun sebagai produk kreatif yang memiliki nilai jual.
Pelestarian kuliner tradisional di Indonesia tidak selalu harus lewat cara lama, seperti belajar memasak resep turun-temurun atau membaca buku sejarah kuliner. Riset ini menunjukkan bahwa medium seni, kriya, dan visual yang sudah dekat dengan keseharian anak muda juga bisa jadi jalan alternatif yang tak kalah efektif, bahkan mungkin lebih relevan bagi generasi sekarang.
Deblo, Ali Agrem, dan Awug hanyalah tiga dari sekian banyak kuliner tradisional Indonesia yang nasibnya mulai terlupakan. Namun lewat tangan-tangan kreatif, ketiganya berhasil dihadirkan kembali di atas sehelai kain, disulam dengan teknik punch needle hingga bentuk dan warnanya bisa dikenali kembali.
Dengan demikian, karya semacam ini membuktikan bahwa upaya melestarikan budaya bisa berjalan seiring dengan peluang berkarya dan bernilai secara ekonomi.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


