Permasalahan sampah di Desa Bojongjengkol, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, mulai diarahkan pada pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pengumpulan dan pembuangan, tetapi juga pada bagaimana sampah dapat dikelola, dimanfaatkan, dan kembali memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
Melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPKO) BEM Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, tim mengembangkan SASAMA (Sinergi Aksi Sampah Masyarakat) dengan menerapkan sistem pengelolaan sampah berbasis rantai pasok sirkular.
Pendekatan ini menghubungkan setiap tahapan pengelolaan sampah, mulai dari pemilahan di tingkat rumah tangga, pengolahan, hingga pemanfaatan kembali dan pemasaran produk. Dengan demikian, sampah tidak lagi dipandang sebagai barang yang harus segera dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang dapat kembali masuk ke dalam rantai nilai.
Menghubungkan Pengelolaan Sampah dengan Masyarakat
Desa Bojongjengkol memiliki lebih dari 10 ribu penduduk yang menghasilkan sekitar 56 ton sampah setiap bulan, dengan komposisi sekitar 60 persen sampah organik dan 40 persen sampah anorganik. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan tim PPKO BEM FEM IPB memilih membangun sistem pengelolaan sampah yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Penerapan sistem dilakukan melalui lima titik kegiatan atau “pojok” SASAMA yang saling terhubung. Masyarakat mendapatkan edukasi mengenai pemilahan sampah, kemudian diarahkan untuk mengolah sampah organik dan anorganik sesuai potensinya.
Pada sampah organik, masyarakat dilibatkan dalam pengolahan menggunakan maggot Black Soldier Fly (BSF) dan kompos. Sementara itu, sampah anorganik dipilah dan diolah menjadi produk bernilai guna, seperti gantungan kunci dan bantal leher, serta disalurkan kepada pengepul untuk material yang masih memiliki nilai jual.
Proses tersebut kemudian diperkuat dengan inovasi teknologi yang dikembangkan untuk mendukung kapasitas pengolahan masyarakat. Salah satunya adalah Maggowes, alat pemisah hasil budidaya maggot yang dioperasikan secara manual menggunakan pedal. Inovasi ini membantu mempercepat proses pengayakan dari sekitar lima menjadi hingga 20 kilogram per jam.
Selain itu, tim juga mengembangkan mesin pencacah plastik untuk meningkatkan kapasitas pengolahan sampah anorganik. Kehadiran teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun rantai pasok yang lebih efektif, dari sampah yang dikumpulkan hingga menjadi bahan atau produk yang memiliki nilai ekonomi.
Sampah sebagai Peluang Ekonomi
Penerapan sistem juga tidak berhenti pada proses pengolahan. Masyarakat didorong untuk mengembangkan aktivitas ekonomi melalui SASAMA Store sebagai ruang pemasaran produk hasil pengolahan sampah. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah dapat terhubung dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Hingga pelaksanaan program, kegiatan SASAMA telah menjangkau 372 peserta, melampaui target awal 125 peserta. Sebanyak 1,069 ton sampah organik dan anorganik telah berhasil diproses melalui rangkaian kegiatan yang dikembangkan bersama masyarakat.
Untuk menjaga keberlanjutan sistem, masyarakat juga didorong membentuk Paguyuban Cerdas Sampah sebagai wadah kelembagaan yang dapat melanjutkan pengelolaan sampah secara mandiri setelah program berakhir.
Menuju Desa Mandiri dalam Pengelolaan Sampah
Tim PPKO BEM FEM IPB menargetkan keberlanjutan program melalui roadmap empat tahun, yaitu 2026 sebagai Desa Inisiasi, 2027 Desa Usaha, 2028 Desa Mandiri, dan 2029 Desa Inspiratif. Pada tahap terakhir, Bojongjengkol diharapkan tidak hanya mampu menjalankan sistem secara mandiri, tetapi juga menjadi contoh bagi desa lain dalam menerapkan pengelolaan sampah berbasis rantai pasok sirkular.
Melalui SASAMA, PPKO BEM FEM IPB menunjukkan bahwa perubahan dalam pengelolaan sampah dapat dimulai dari tingkat desa. Ketika masyarakat tidak hanya menjadi penerima program, tetapi ikut menjadi bagian dari setiap prosesnya, sampah dapat berubah dari persoalan lingkungan menjadi peluang untuk membangun kemandirian dan nilai ekonomi masyarakat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


