Istilah self-reward mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita, apalagi di kalangan Generasi Z yang tumbuh berdampingan dengan media sosial dan kemudahan dalam bertransaksi digital. Mulai dari beli makanan favorit setelah seharian beraktivitas padat, mencoba jajanan viral, sampai belanja barang yang sudah lama menjadi wishlist.
Semua itu jadi cara Gen Z ketika ingin memberi hadiah untuk diri mereka sendiri, sebagai bentuk apresiasi atas usaha, kerja keras atau pencapaian yang sudah dilalui.
Ternyata, kebiasaan yang terasa sepele ini cukup menarik perhatian Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) UGM untuk diteliti lebih jauh. Hasilnya, dari 384 responden Generasi Z, makanan jadi bentuk self-reward yang paling banyak dipilih, mencapai 42 persen. Hal tersebut mengalahkan pembelian barang yang hanya 33,5 persen.
Namun, meskipun makanan cenderung lebih murah dibanding barang mewah, riset ini tetap mengingatkan bahwa self-reward bisa bergeser jadi kebiasaan konsumtif. Kenapa bisa begitu?
Tim PKM-RSH UGM menemukan bahwa literasi keuangan yang baik tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari pembelian impulsif. Seseorang bisa saja paham pentingnya menyusun anggaran, menabung, dan membedakan kebutuhan primer dengan keinginan, tapi keputusan belanja tetap bisa dikalahkan oleh dorongan untuk memperoleh kepuasan secara cepat.
Salah satu anggota tim, Anggita Rasya Ananta, menjelaskan bahwa situasi ini membuat kemampuan mengendalikan dorongan menjadi bagian yang cukup penting dalam mengelola self-reward.
“Literasi keuangan memberi dasar bagi seseorang untuk memahami konsekuensi dari keputusan finansial, tetapi dalam praktiknya kita juga perlu melihat bagaimana seseorang mengendalikan dorongan ketika ada keinginan untuk mendapatkan kepuasan secara langsung,” ujar Anggita.

Ilustrasi Gen Z self-reward dengan makanan favorit | Foto: Unsplash | Dan Gold
Sisi Emosional Self Reward yang Berubah mejadi Kebiasaan Konsumtif
Selain soal keuangan, penelitian ini juga menyoroti sisi emosional di balik self-reward itu sendiri seperti rasa lelah, tekanan pekerjaan, stres rasa kejenuhan.
Kegiatan ini memancing rasa bahagua setelah berhasil mencapai sesuatu, semuanya bisa jadi pemicu yang mendorong seseorang untuk mencari kepuasan lewat konsumsi.
Dari situlah ketika makanan favorit, barang baru, atau sekadar aktivitas belanja kemudian menjadi cara bagi banyak orang untuk memberi penghargaan pada diri sendiri setelah melewati momen emosional tertentu.
"Dari temuan kualitatif, kami melihat bahwa keputusan self-reward bisa muncul sebagai respons terhadap perasaan yang sedang dialami, sehingga konteks emosional menjadi hal yang penting untuk dipahami ketika membicarakan perilaku konsumsi," ungkap Anggita.
Titik kritisnya ada di pengulangan saat pembelian mulai dilakukan berulang kali sebagai cara meredakan rasa lelah atau stres. Kalau belanja atau makan enak sudah menjadi kebiasaan yang terus berulang setiap kali merasa lelah atau stres, di situlah self-reward mulai bergeser menjadi kebiasaan yang konsumtif, sebab kepuasan yang sifatnya hanya sesaat, akan terus-menerus dikejar lewat transaksi.
Karena hal tersebut, tim peneliti menilai bahwa yang membedakan self-reward sebagai apresiasi diri dengan self-reward yang sudah mengarah ke perilaku konsumtif terletak pada apakah keputusan tersebut masih mempertimbangkan kondisi keuangan dan kebutuhan di masa mendatang, atau justru tidak lagi memperhitungkan keduanya?
Meski begitu, bukan berarti self-reward selalu berujung negatif. Karena pada dasarnya, menghargai diri sendiri tetap sah-sah saja dilakukan, asal tetap mempertimbangkan kondisi finansial dan kebutuhan di masa depan.
Kabar baiknya lagi, bentuknya juga tidak harus selalu belanja. Istirahat yang cukup, menjalani hobi, atau menghabiskan waktu dengan orang-orang terdekat bisa jadi cara lain yang sama berartinya untuk menghadiahi diri sendiri.
Jadi, self-reward tetap boleh dilakukan, selama Kawan juga mulai lebih sadar dengan pola yang ada di baliknya. Sesekali, ada baiknya menyadari apakah keputusan itu benar-benar bentuk apresiasi, atau sekadar pelarian dari rasa lelah yang belum terselesaikan. Seperti kata Anggita, menghargai diri sendiri juga berarti memastikan keputusan hari ini tidak menjadi beban bagi diri kita di masa depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


