Tahukah Kawan GNFI jika Kemantren Pakualaman di Kota Yogyakarta adalah kecamatan terkecil di Indonesia? Luas wilayah Kemantren Pakualaman tercatat hanya sekitar 0,63 kilometer persegi.
Sebagai informasi, ukuran ini hanya mencakup sekitar 1,9 persen dari total luas keseluruhan Kota Yogyakarta. Keberadaan Pakualaman berpusat di seputar kompleks istana Puro Pakualaman. Hal ini menjadikan kasawan mungil ini kaya dengan sejarah dan budaya khas Yogyakarta.
Profil Wilayah Kemantren Pakualaman
Sebagai kecamatan terkecil di Indonesia, Kemantren Pakualaman memiliki wilayah seluas 0,63 km² yang diapit oleh Kali Code dan Kali Manunggal. Batas wilayah utara berhadapan dengan Danurejan serta Gondokusuman. Sisi timur berbatasan dengan Umbulharjo, selatan dengan Mergangsan, dan barat dengan Gondomanan.
Kemantren Pakualaman membawahi dua kelurahan utama, yaitu Kelurahan Purwokinanti dan Kelurahan Gunungketur. Kelurahan Purwokinanti dengan kode pos 55112 mencakup kampung Kepatihan, Jagalan Beji, Purwokinanti, dan Jagalan Ledoksari. Sementara Kelurahan Gunungketur ber-kode pos 55111 membawahi kampung Margoyasan, Gunungketur, dan Kauman.
Secara keseluruhan, wilayah ini terbagi menjadi 7 kampung, 19 RW, dan 83 RT. Dengan struktur wilayah yang padat dan efisien, tata kelola pemerintahan di Pakualaman terus melayani masyarakat secara optimal.
Sejarah Berdirinya Kadipaten Pakualaman
Melansir dari situs resmi Kemantren Pakualaman, nama Pakualaman berasal dari keberadaan Puro Pakualaman, istana keluarga Paku Alam yang menjadi pusat pemerintahan Kadipaten Pakualaman.
Pada era kolonial Belanda, Kadipaten Pakualaman merupakan salah satu dari empat kerajaan swapraja di Jawa. Tiga lainnya adalah Kasunanan Surakarta, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, dan Kadipaten Praja Mangkunegaran.
Puro Pakualaman dibangun di atas lahan seluas 54.238 m² oleh Pangeran Natakusuma atau KGPA Paku Alam I. Ia lahir di Keraton Yogyakarta pada 21 Maret 1764 dari pasangan Sri Sultan Hamengku Buwana I dan Raden Ayu Srenggoro. Nama kecil nya adalah Bendara Raden Mas Harya Sujadi.
Secara de jure, Pangeran Natakusuma menjadi pangeran merdeka sejak 29 Juni 1812. Namun, tanggal 17 Maret 1813 dijadikan peringatan lahirnya Kadipaten Pakualaman setelah disepakatinya kontrak politik dengan pemerintah Inggris. Sebelum bertakhta, ia tinggal di sebelah timur Kali Code, yaitu Kampung Natakusuman yang berbenteng pagar keliling.
Kompleks Puro Pakualaman dibangun dengan pola dasar tata ruang Jawa klasik yang terdiri dari istana, alun-alun, masjid, dan pasar. Saat ini, istana tersebut masih didiami oleh keturunan Paku Alam I, yakni Sri Paduka Paku Alam X bersama keluarganya. Tradisi serta toponimi kampung di Pakualaman pun memiliki kemiripan dengan Mangkunegaran di Surakarta.
Dulunya, wilayah Kadipaten Pakualaman tidak hanya mencakup sekitar istana, tetapi juga daerah Adikarto di Kulon Progo. Selain itu, wilayahnya meliputi Karang Kemuning yang membawahi empat distrik, yaitu Galur, Tawangharjo, Tawangsongko, dan Tawangkerto dengan pusat di Brosot.
Perubahan Nomenklatur Kecamatan Menjadi Kemantren
Pakualaman sempat menjadi bagian dari Kabupaten Kota Pakualaman sebelum akhirnya dihapus pasca-pembentukan Pemerintah Kota Yogyakarta pada 1947. Setelah itu, wilayah ini resmi menjadi salah satu kecamatan di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta.
Pada tahun 2020, nomenklatur kelembagaan disesuaikan berdasarkan Peraturan Gubernur DIY Nomor 25 Tahun 2019 dan Perda Kota Yogyakarta Nomor 4 Tahun 2020. Istilah kecamatan di Kota Yogyakarta diubah menjadi kemantren, dan posisi camat berganti nama menjadi Mantri Pamong Praja.
Mantri Pamong Praja menjalankan kewenangan pelimpahan dari Wali Kota di berbagai sektor pelayanan publik. Urusan tersebut meliputi bidang pemerintahan, pendidikan, kesehatan, pekerjaan umum, ketenteraman masyarakat, hingga kependudukan.
Untuk diketahui, khusus di Daerah Istimewa Yogyakarta, kecamatan memang memang memiliki istilah khusus, yakni kemantren dan kapanewon.
Istilah “kemantren” hanya dipakai di wilayah Kota Yogyakarta saja. Penyebutan ini dilakukan sebagai upaya untuk melestarikan sistem pemerintahan Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman.
Sementara itu, di kabupaten lain di Provinsi DIY, seperti Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, dan Sleman, kecamatan disebut dengan “kapanewon”.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


