Indonesia merupakan negara yang terletak di zona rawan bencana dengan tingkat risiko yang tergolong tinggi. Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 4.727 kejadian bencana alam melanda berbagai kawasan di tanah air. Fenomena ini menuntut kesiapsiagaan yang matang dari setiap pemerintah daerah demi menekan angka kerugian dan korban jiwa.
Untuk mengukur sejauh mana kesiapan dan kapasitas instansi daerah dalam menghadapi ancaman tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggunakan indikator Indeks Ketahanan Daerah (IKD). Penilaian ini mengukur kemampuan pemerintah daerah yang mencakup tujuh prioritas utama penanggulangan bencana secara menyeluruh.
Melalui Laporan Kinerja BNPB Tahun 2025, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berhasil menduduki peringkat pertama secara nasional.
Daftar 10 Provinsi dengan Indeks Ketahanan Daerah Tertinggi
Skor Indeks Ketahanan Daerah dihitung berdasarkan nilai rata-rata kapasitas dari seluruh kabupaten dan kota di dalam wilayah provinsi tersebut. Mengutip data IKD 2025, berikut adalah daftar 10 provinsi dengan persentase Indeks Ketahanan Daerah tertinggi di Indonesia:
- Daerah Istimewa Yogyakarta: 0,76
- Jawa Tengah: 0,74
- Banten: 0,67
- Jawa Barat: 0,65
- DKI Jakarta: 0,64
- Bali: 0,63
- Jawa Timur: 0,61
- Kalimantan Timur: 0,57
- Kalimantan Utara: 0,57
- Nusa Tenggara Barat: 0,55
Seluruh provinsi yang berada di dalam posisi 10 besar tersebut dikategorikan memiliki tingkat kapasitas sedang, yakni berada pada kisaran skor 0,4 hingga 0,8. Penilaian ketahanan ini merangkum perkuatan kebijakan kelembagaan, sistem informasi kebencanaan, efektivitas mitigasi, hingga kesiapsiagaan penanganan darurat. Ketersediaan infrastruktur pendukung di tingkat kabupaten/kota turut mendorong tingginya nilai indeks di provinsi-provinsi ini.
Potensi Bencana Besar di Wilayah Yogyakarta
Yogyakarta sebetulnya berada di kawasan yang menyimpan potensi bencana sangat besar. Berdasarkan hasil kajian risiko, wilayah DIY mencatatkan nilai Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) sebesar 124,15 yang tergolong dalam kategori risiko tinggi.
Kondisi geografi dan bentang alam Yogyakarta membuatnya terpapar oleh tujuh ancaman bencana alam utama dari total 12 jenis bencana yang ada di Indonesia. Potensi ancaman tersebut meliputi letusan gunung berapi, gempa bumi, banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, kekeringan, hingga tsunami di sepanjang garis pantai selatan. Keberadaan Gunung Merapi dan aktivitas tektonik menjadi salah satu pemicu utama risiko tersebut.
Tingkat kerentanan di kawasan Yogyakarta juga mengalami kenaikan berkelanjutan yang sejalan dengan pertumbuhan jumlah penduduk. Perkembangan permukiman, alih fungsi lahan, serta peningkatan aktivitas ekonomi turut memperbesar potensi dampak materiil maupun sosial jika terjadi bencana.
Merespins besarnya potensi risiko tersebut, Pemerintah Daerah DIY bersama BPBD melancarkan berbagai langkah strategis dan sistematis. Salah satu langkah krusial yang ditempuh adalah penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) DIY periode 2022–2027.
Dokumen RPB DIY ini disusun melalui proses sinkronisasi intensif dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) DIY. Langkah ini memastikan bahwa seluruh program pengurangan risiko bencana dapat terintegrasi ke dalam rencana kerja dan penganggaran di tiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Dengan instrumen kebijakan ini, pendekatan mitigasi bencana dapat berjalan secara lintas sektor dan berkelanjutan.
Selain regulasi di tingkat daerah, penguatan kapasitas teknis juga terus disalurkan hingga ke level masyarakat dan kabupaten/kota. Sebagai bukti nyata, pendampingan penyusunan dokumen Rencana Kontingensi (Renkon) dilaksanakan di wilayah seperti Kabupaten Gunungkidul untuk menghadapi ancaman spesifik. Pemerintah daerah juga aktif menggelar bimbingan teknis penanganan pengungsi, simulasi kesiapsiagaan, serta penguatan instrumen peringatan dini.
Sinergi antara kebijakan yang terarah, kesiapsiagaan instansi, dan partisipasi aktif masyarakat menjadi fondasi utama ketangguhan Yogyakarta. Melalui kolaborasi berkelanjutan ini, Yogyakarta tidak hanya mampu merespons bencana secara cepat, tetapi juga berhasil membangun ketahanan daerah yang semakin kokoh di masa depan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


