Apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar kata "sampah"? Sebagian besar dari kita mungkin akan langsung membayangkan barang sisa yang tak lagi berguna.
Namun, bagaimana jika tumpukan kardus dan botol bekas itu justru bisa disulap menjadi jaring pengaman sosial bagi kehidupan para penjaga rumah Tuhan?
Kabar baik dan sangat menginspirasi ini datang dari Desa Penolih, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga. Sekelompok kaum intelektual muda dari KKN) Kelompok 48 UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, berhasil membawa inovasi sosial-ekonomi yang luar biasa melalui Gerakan EcoMasjid melalui Sedekah Sampah.
Pada Jumat, 11 September 2026, inovasi tersebut secara resmi dilimpahkan keberlanjutannya dalam Rapat Konsolidasi kepada jajaran Takmir Masjid Thoriqotussalam, Desa Penolih. Namun, daya tarik utama dari program ini bukanlah sekadar urusan memilah sampah, melainkan ke mana muara hasil pengelolaan sampah tersebut disalurkan.
Perlindungan untuk Pahlawan Masjid yang Kerap Terlupakan

Penyerahan Kartu BPJS Ketenagakerjaan
Selama ini, kita sering melihat imam masjid, muadzin, marbot, dan takmir bekerja tanpa lelah menjaga kemakmuran masjid. Mereka membersihkan lantai, mengumandangkan azan di waktu subuh yang dingin, hingga memimpin ibadah umat.
Namun, sebagai pekerja keagamaan, dedikasi mereka sering kali bersifat sukarela. Banyak dari mereka tidak memiliki jaminan kesehatan maupun perlindungan kecelakaan kerja, padahal risiko kehidupan bisa datang kapan saja.
Melihat realitas tersebut, mahasiswa KKN 48 UIN Gus Dur meracik sebuah terobosan. Mereka mengajak warga untuk bersedekah tidak dengan uang, melainkan dengan sampah anorganik rumahan yang bisa didaur ulang. Warga cukup membawa botol plastik atau kardus bekas ke tempat penampungan di area Masjid Thoriqotussalam. Sampah-sampah ini kemudian dijual secara berkala kepada pengepul.
Hasil penjualan dari sedekah sampah tersebut secara khusus dialokasikan untuk membayarkan iuran BPJS Ketenagakerjaan bagi para pekerja keagamaan di Masjid Thoriqotussalam.
Inovasi ini memastikan bahwa para takmir, marbot, imam, dan muadzin mendapatkan hak perlindungan sosial berupa Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM), tanpa membebani kas utama masjid.
Estafet Kebaikan: Haru dalam Pelimpahan Program
Momen rapat konsolidasi dan pelimpahan program yang digelar oleh KKN 48 berlangsung dalam suasana yang hangat dan penuh keharuan.
Moh. Fakhry, selaku perwakilan dari KKN 48, menyampaikan pesan mendalam saat menyerahkan cetak biru program tersebut.
"Kami menyadari bahwa bapak-bapak yang mengurus masjid adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Melalui Gerakan EcoMasjid ini, kami ingin memastikan bahwa di saat bapak-bapak menjaga rumah Allah, bapak-bapak juga dijaga kesejahteraan dan masa depannya melalui BPJS Ketenagakerjaan. Kami titipkan amanah ini kepada warga Desa Penolih, karena menjaga lingkungan kini berarti juga melindungi nyawa dan keluarga para pejuang masjid kita," paparnya.
Ubah Paradigma Dakwah di Era Modern
Langkah visioner dari para mahasiswa ini disambut dengan rasa syukur yang luar biasa oleh warga dan jajaran pengurus masjid. Imam H. Rochani, selalu Ketua Takmir Masjid Thoriqotussalam, menyatakan komitmen penuhnya untuk merawat program ini.
"Terima kasih atas program dan keberhasilan dalam membuka dan mencetuskan program ini. Ini adalah dakwah dan amal sosial tingkat tinggi. Anak-anak muda dari UIN Gus Dur tidak hanya mengajarkan kami kebersihan, tapi juga keadilan sosial. Selama ini kami tidak pernah terpikirkan bahwa dari sampah yang dibuang, kita bisa membiayai asuransi tenaga kerja untuk para marbot dan muadzin. Kami berjanji akan meneruskan estafet kebaikan ini," tuturnya dalam konsolidasi.
Kini, dengan pelimpahan resmi tersebut, Masjid Thoriqotussalam bersiap menjadi pionir masjid ramah lingkungan sekaligus ramah pekerja di Kabupaten Purbalingga.
Gerakan dari mahasiswa KKN UIN Gus Dur ini mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru negeri: Bahwa kepedulian pada bumi (ekologi) dan kepedulian pada manusia (sosial) dapat disatukan dalam satu harmoni yang indah. Sebuah inovasi dari desa yang pantas untuk ditiru oleh ribuan masjid lain di Indonesia.
Inspirasi Kebaikan dari Penolih untuk Indonesia
Kini, dengan pelimpahan resmi tersebut, Masjid Thoriqotussalam Desa Penolih bersiap mengukir sejarah baru. Mereka bertransformasi menjadi percontohan "Masjid Ramah Lingkungan sekaligus Ramah Pekerja" di Kabupaten Purbalingga.
Apa yang dilakukan oleh Kelompok 48 KKN UIN Gus Dur Pekalongan membuktikan bahwa kolaborasi antara kepekaan sosial, intelektualitas kaum muda, dan kearifan lokal warga desa mampu menciptakan solusi yang nyata. Gerakan ini mengirimkan pesan yang sangat kuat ke seluruh penjuru negeri: bahwa merawat bumi dan memberdayakan umat ternyata bisa berjalan beriringan.
Sebuah langkah kecil yang bermula dari pelataran masjid di Purbalingga, tetapi membawa dampak besar yang sangat pantas untuk diadaptasi oleh ribuan masjid lainnya di seluruh Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


