dr semiartin dokter wanita indonesia yang bantu korban banjir di pantai timur malaysia pada 1967 - News | Good News From Indonesia 2026

Dr. Semiartin, Dokter Wanita Indonesia yang Bantu Korban Banjir di Pantai Timur Malaysia pada 1967

Dr. Semiartin, Dokter Wanita Indonesia yang Bantu Korban Banjir di Pantai Timur Malaysia pada 1967
images info

Dr. Semiartin, Dokter Wanita Indonesia yang Bantu Korban Banjir di Pantai Timur Malaysia pada 1967 | Berita Harian, 18 Januari 1967


Pada awal 1967 silam, pernah terjadi sebuah musibah yang melanda pesisir timur Malaysia. Pada waktu itu, terjadi musibah banjir yang melanda beberapa daerah yang ada di wilayah tersebut, mulai dari Kelantan, Terengganu, hingga Pahang.

Musibah banjir yang terjadi pada 1967 tersebut menjadi salah satu yang terparah dalam sejarah Malaysia. Tidak hanya menelan kerugian materil, musibah ini juga menelan puluhan korban jiwa saat itu.

Penanganan bencana, khususnya dalam bidang kesehatan mengalami kendalanya tersendiri. Sebab ketersediaan tenaga kesehatan di Negeri Jiran pada waktu itu masih terbatas.

Hal ini membuat penanganan kesehatan bagi para korban yang terdampak musibah banjir sulit untuk dilakukan. Walau begitu, bala bantuan dari negara tetangga yang datang waktu itu cukup berarti untuk mengatasi kondisi tersebut.

Indonesia menjadi salah satu negara yang turut memberikan bantuan ke Malaysia pada waktu itu. Dr. Christine Semiartin dari Jakarta menjadi salah satu dokter yang dikirim ke Malaysia waktu itu.

Uniknya, Dr. Semiartin menjadi satu-satunya dokter wanita dari Indonesia yang dikirim untuk membantu musibah di Negeri Jiran tersebut. Dirinya pun merasa senang dalam menjalankan tugas kemanusiaan tersebut.

Bagaimana momen saat Dr. Semiartin dikirim ke Malaysia untuk bantu penanganan kesehatan saat terjadi musibah banjir pada 1967 silam? Berikut ulasannya.

baca juga

Bantu Korban Banjir di Malaysia

Dinukil GNFI dari artikel "Jakarta Kirim Doktor Wanita Ka-daerah Banjir" yang terbit di surat kabar Berita Harian edisi 18 Januari 1967, Dr. Semiartin yang pada waktu itu masih berusia 29 tahun bertugas di Rumah Sakit Umum Jakarta. Dirinya dikirim untuk membantu korban yang terdampak akibat musibah banjir di Pantai Timur Malaysia waktu itu.

Secara khusus, Dr. Semiartin bertugas untuk membantu korban yang ada di Kelantan. Dirinya bertugas selama lebih kurang sebulan pada waktu itu.

Momen ini tidak menjadi kali pertama Dr. Semiartin berkunjung dan datang ke Malaysia. Beberapa bulan sebelumnya, Dr. Semiartin diketahui juga baru saja mendatangi Negeri Jiran tersebut.

Hanya saja, kunjungan yang terjadi pada November 1966 berbeda dengan kondisi yang dia alami pada awal 1967. Pada waktu itu, dia mendatangi Malaysia bersama rombongan mahasiswa dalam sebuah rangkaian kunjungan.

Sambut Baik Tugas Kemanusiaan

Dr. Semiartin menyambut baik tugas yang diberikan pada dirinya pada waktu itu. Dirinya merasa jika momen tersebut bisa menjadi kesempatan untuknya agar bisa menolong masyarakat yang terdampak langsung akibat musibah banjir tersebut.

Terlebih dirinya memiliki pengalaman tersendiri dalam penanganan musibah banjir sebelumnya. Sebab dirinya juga pernah menangani permasalahan kesehatan bagi para korban banjir di Indonesia.

Selama sebulan bertugas, Dr. Semiartin berfokus untuk memberikan stimulus bagi para korban agar wabah penyakit yang umum dijumpai saat musibah banjir bisa dicegah. Dengan demikian, penyakit yang berkaitan dengan situasi tersebut bisa terkendali dan tidak memakan banyak korban.

baca juga

Bantuan yang Berarti

Kedatangan Dr. Semiartin ke Malaysia pun disambut baik oleh pihak Negeri Jiran. Dr. Ungku Omar Ahmad dari Pusat Penyelidekan Perubatan Malaysia menyebutkan jika bantuan tenaga kesehatan dari Indonesia menjadi sangat berarti.

Terlebih pada waktu itu, Malaysia tengah mengalami krisis tenaga kesehatan. Situasi ini membuat tidak banyak dokter yang bisa dikerahkan untuk membantu korban yang terdampak langsung akibat musibah banjir tersebut.

Selain mengirimkan tenaga kesehatan, Pemerintah Indonesia juga mengirimkan bantuan lainnya untuk para korban yang terdampak. Salah satu bantuan yang juga diberikan adalah 70 pikul kopi yang dikirim langsung dari Indonesia ke Malaysia pada waktu itu.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

IJ
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.