Mungkin tak banyak yang mengenal Arthur Rimbaud. Akan tetapi, setelah lebih dari satu abad sejak ia datang ke Jawa, jejaknya masih ada.
Arthur Rimbaud adalah sastrawan Prancis yang amat kondang di negara asalnya. Ia adalah salah satu tokoh terbesar dalam dunia sastra Prancis sekaligus pelopor puisi modern yang karya-karyanya turut mendorong lahirnya aliran surealisme. Siapa sangka, ternyata ada suatu masa saat ia datang ke Jawa dan berpetualang untuk sejenak di negeri ini.
Semua bermula pada tahun 1876. Rimbaud yang kala itu berusia sekitar 21 atau 22 tahun mendaftarkan diri di Tentara Kerajaan Hindia Belanda alias Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger alias KNIL. Didorong oleh alasan keuangan, ia menjadi anggota pasukan KNIL hingga kemudian tiba di Semarang, lalu melanjutkan perjalanan ke Salatiga menggunakan kereta api melalui Kedungjati dan Tuntang.
Sebagai tentara, kiprah Rimbaud sangat pendek. Ia membelot dari kesatuannya hanya beberapa hari setelah menerima gaji. Itulah yang membuat catatan dan dokumentasi keberadaannya di Jawa sangat sedikit. Tidak heran pula namanya tak dikenal luas di Indonesia hingga kini.
Terlepas dari itu semua, tak bisa diungkiri Rimbaud merupakan sosok yang amat berpengaruh di dunia sastra. Ia menginspirasi para seniman generasi setelahnya di berbagai penjuru dunia. Penyair modernis Jepang Nakahara Chuya, penyanyi Amerika Bob Dylan, Jim Morrison, dan Patti Smith, hingga seniman visual Jean-Michel Basquiat adalah beberapa nama yang berkarya lewat inspirasi Rimbaud. Di Indonesia sendiri, ada Chairil Anwar yang kerap dijuluki sebagai Arthur Rimbaud dari Indonesia.
Sejak 2025, jejak Rimbaud di Jawa mulai diangkat kembali melalui buku Indonesia, Cahaya yang Mempesona – 150 Tahun Hubungan Prancis-Indonesia untuk merayakan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Prancis. Tak berhenti di situ, tahun ini ada pula Program Residensi Rimbaud yang menghadirkan sastrawan Prancis di Indonesia untuk mengubah memori sejarah Rimbaud menjadi karya dan dialog antara pegiat sastra dari kedua negara.
Sastrawan Prancis yang berkesempatan menjadi residen Rimbaud yang pertama adalah Louis-Philippe Dalembert. Ia merupakan sastrawan kontemporer Prancis yang punya segudang karya berupa novel dan syair. Pria kelahiran Haiti yang menetap di Paris itu kerap mengeksplorasi tema mulai dari kenangan, perjalanan, pengasingan, hingga identitas dan migrasi dalam bahasa Prancis dan Kreol. Selama mengikuti program Residensi Rimbaud, ia akan tinggal selama tiga bulan di Semarang untuk menulis karya di Lawang Sewu.
Bisa dibilang, Semarang kedatangan tamu besar dengan hadirnya Dalembert. Maklum saja, ia bukan penulis sembarangan. Sederet penghargaan bergengsi adalah bukti atas kualitas karyanya. Beberapa penghargaan yang pernah diraihnya antara lain Prix Orange du Livre 2017, Prix de la Langue Française 2019, serta Choix Goncourt di Swiss dan Polandia.

Banyak Kegiatan dan Satu Misi dari Residensi Rimbaud
Ada misi penting di balik program Residensi Rimbaud. Menurut Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, program ini adalah tindak lanjut dari kerja sama kebudayaan antara Indonesia dan Prancis yang tertuang dalam Deklarasi Borobudur yang disepakati kedua negara saat kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Mei 2025 lalu.
“Deklarasi ini menetapkan peta jalan untuk memperdalam kerja sama budaya kita dan memperkuat pertukaran antara kedua negara kita. Hal ini mencerminkan suatu keyakinan yang kita bagi bersama dengan mitra Indonesia kita: budaya dan industri kreatif adalah bagian penting dari hubungan bilateral kita,” ujar Penone kepada awak media di Jakarta pada Kamis (10/9/2026).
Selama di Semarang, Dalembert tidak hanya menulis karya. Ia juga akan terlibat dalam berbagai aktivitas mulai dari lokakarya, kunjungan ke sekolah, hingga pertemuan dengan para penulis muda. Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, menyambut baik program Residensi Rimbaud ini.
“Setiap kali kita pergi ke suatu tempat, kita membawa sesuatu yang baru pulang bersama kita. Sebuah pengalaman, sebuah pertemuan, atau kisah yang sebelumnya tidak pernah kita ketahui. Mungkin ini juga alasan mengapa kunjungan Arthur Rimbaud ke Jawa 150 tahun lalu terus terasa penting hingga hari ini,” ujarnya.
Agustina juga memberi bocoran mengenai isi karya yang akan ditulis Dalembert di Semarang. Menurutnya, karya tersebut akan banyak bercerita tentang kehidupan masyarakat di ibu kota Jawa Tengah itu.
“Di kota kami, dia akan tinggal, menulis, mengobrol, dan belajar lebih banyak tentang kehidupan Semarang. Kisahnya berfokus pada Kota Lama, kota, sekolah, ruang seni, lingkungan sekitar, dan kehidupan sehari-hari warga lokal Semarang,” pungkasnya.


