hutan terbakar mengusir satwa liar ri perlu siapkan jalur aman - News | Good News From Indonesia 2026

Hutan Terbakar Mengusir Satwa Liar, RI Perlu Siapkan Jalur Aman

Hutan Terbakar Mengusir Satwa Liar, RI Perlu Siapkan Jalur Aman
images info

Orangutan


Ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas, manusia dapat memilih untuk mengungsi ke wilayah yang lebih aman. Satwa liar tidak memiliki pilihan yang sama. Mereka mengandalkan insting, jalur jelajah, dan kondisi bentang alam untuk mencari tempat berlindung. Dalam situasi tertentu, pergerakan itu bahkan dapat membawa satwa melintasi batas negara.

Pakar Konservasi dan peneliti senior BRIN, Prof Gono Semiadi, menjelaskan bahwa satwa memiliki kemampuan mendeteksi ancaman kebakaran dan meresponsnya dengan mencari lokasi yang lebih aman. Namun, kemampuan tersebut tidak sama pada setiap jenis satwa.

“Hewan itu punya insting, ketika sudah mulai datangnya kebakaran, punya insting,” kata Gono di Jakarta, pada 25 Agustus 2026 lalu. 

Menurut Gono, kondisi satwa perlu dilihat berdasarkan ukuran tubuh, perilaku, dan wilayah jelajahnya. Satwa yang memiliki home range kecil menghadapi persoalan berbeda dibandingkan satwa yang mampu bergerak dalam wilayah luas.

Ketika Semua Jalur Melarikan Diri Tertutup

Insting untuk menghindari api tidak selalu cukup. Ketika kebakaran berlangsung masif, habitat yang biasanya menjadi tempat berlindung dapat ikut terbakar sehingga satwa kehilangan pilihan untuk bergerak.

“Kalaupun dia mempunyai insting untuk melarikan diri, tetapi kan (kebakarannya) masif, itu kan akhirnya tidak ada lagi (jalan untuk melarikan diri), kemana saya harus lari,” ujar Gono.

Situasi tersebut menjadi semakin serius bagi satwa yang bergantung pada habitat tertentu. Prof Drs Jatna Supriatna MSc PhD, pakar konservasi dan ilmuwan biologi, menyebut karhutla sebagai salah satu ancaman besar bagi keanekaragaman hayati Indonesia.

Orang utan di Kalimantan menjadi salah satu contoh. Satwa arboreal ini menghabiskan banyak aktivitasnya di pepohonan dan membutuhkan tutupan kanopi untuk berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya.

“Sangat besar sekali (ancaman karhutla bagi keanekaragaman hayati RI). Ini karena apa? Karena hasil penelitian banyak ya bahwa orang utan semuanya ada di kanopi, di pohon-pohon itu kan nggak bisa kemana-mana, dia larinya ke mana lagi,” kata Jatna.

Gono menjelaskan bahwa keberadaan pohon saja tidak cukup bagi orang utan. Kanopi harus memiliki konektivitas sehingga satwa dapat berpindah tanpa harus turun ke permukaan tanah.

“Untuk berpindah, itu kan perlu kanopi yang tinggi, yang saling ada punya connectivity di antara dahannya,” jelasnya.

Jika hubungan antarkanopi terputus akibat kebakaran, kawasan yang sebelumnya menjadi habitat dapat kehilangan fungsinya. “Kalau tidak ada, biar kata disitu ada 100 tegakan atau pohon tapi tidak ada connectivitas, berarti habitat dari orang utan-nya ya sudah hilang,” sambung Gono.

Satwa Tidak Mengenal Batas Negara

Pergerakan satwa ketika menghindari kebakaran juga dipengaruhi kondisi bentang alam. Founder Conservation Action Network (CAN) Borneo, Paulinus Kristanto, mengatakan satwa akan memanfaatkan jalur jelajah dan jalur migrasi yang telah dikenalnya untuk mencari tempat aman.

“Satwa bisa berpindah dan satwa akan menggunakan insting. Sejauh tempat itu aman, ya mereka akan berpindah ke tempat yang aman,” kata Paulinus.

Pergerakan tersebut tidak selalu menuju Malaysia. Namun, di kawasan Kalimantan yang memiliki bentang hutan saling terhubung, satwa dapat saja melintasi wilayah Indonesia-Malaysia ketika mencari habitat yang lebih aman.

“Satwa tidak mengenal batas negara. Sejauh tempat itu aman, ya mereka akan berpindah ke tempat yang aman,” ujarnya.

Artinya, batas administratif yang berlaku bagi manusia tidak menjadi batas bagi satwa. Selama tutupan hutan dan jalur pergerakannya masih tersambung, perpindahan lintas negara secara ekologis tetap mungkin terjadi.

Penyelamatan Terkendala Api dan Data

Persoalan berikutnya adalah mengetahui berapa banyak satwa yang terdampak. Co-Founder Kawan Alam Indonesia, Wanda Syahputra, mengatakan hingga kini pihaknya masih berkoordinasi dengan berbagai lembaga untuk memperoleh data dari lapangan.

“Kami belum memiliki data yang konkret. Tapi kita terus berkoordinasi dengan rekan-rekan yang turun langsung di area karhutla,” ujar Wanda, Selasa (1/9/2026).

Kebakaran menyebabkan satwa kehilangan tempat berlindung, sumber makanan, dan wilayah jelajah. Sebagian lainnya dapat terjebak atau mengalami gangguan kesehatan akibat paparan api dan asap.

Namun, penyelamatan langsung tidak dapat dilakukan ketika api masih berkobar. “Kendala yang paling utama itu sebenarnya adalah medan itu sendiri. Sepanjang api belum dapat dipadamkan, para relawan belum bisa masuk,” kata Wanda.

Peneliti Ahli Madya di Pusat Riset Veteriner BRIN, Fitrine Ekawasti, menambahkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada kerusakan habitat. Kesehatan satwa juga menjadi persoalan yang perlu ditangani dalam kerangka One Health.

“Karhutla ini bukan hanya menjadi masalah lingkungan atau konservasi. Tetapi juga menjadi masalah untuk satwa itu sendiri,” ujar Fitrine.

Karena itu, penanganan satwa terdampak membutuhkan kerja sama pemerintah, lembaga konservasi, dokter hewan, peneliti, dan relawan. Pendataan menjadi tahap penting untuk mengetahui spesies yang terdampak, kondisi kesehatannya, serta kebutuhan rehabilitasi setelah kebakaran mereda.

baca juga

baca juga

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.