Jika dilihat dari kejauhan atau dari balik jendela pesawat, hutan Kalimantan mungkin hanya tampak seperti hamparan hijau yang tak bertepi. Namun, di balik rimbunnya kanopi pepohonan tua yang telah tumbuh jutaan tahun, tersembunyi sebuah ruang kehidupan yang sangat kompleks.
Suara riuh primata, alur sungai yang membelah pedalaman, hingga embun pagi yang menyegarkan udara adalah bagian dari aktivitas harian yang terus berdenyut di sana.
Pembahasan mengenai ruang hidup sebesar ini tidak pernah bisa dilepaskan dari masyarakat yang tinggal berdampingan di sekitarnya. Peran hutan Kalimantan sejatinya jauh lebih luas dari sekadar klaim populer sebagai penghasil oksigen semata.
Hutan tropis ini bekerja secara berkesinambungan menyimpan cadangan karbon, mengatur siklus air pedalaman, menjaga struktur tanah dari erosi, menyediakan habitat bagi ribuan spesies, hingga menopang kehidupan sosial-ekonomi warga. Lantas, seperti apa sebenarnya karakteristik hutan yang tumbuh di tanah Kalimantan ini?
Hutan yang menjadi Rumah bagi Kehidupan yang Tak Terhitung
Struktur tajuk hutan Kalimantan yang berlapis-lapis menciptakan ruang hidup vertikal bagi berbagai organisme. Di kawasan bentang alam seperti Wehea-Kelay di Kalimantan Timur saja, kawasan seluas 532.143 hektare menjadi benteng penting bagi keberlangsungan keanekaragaman hayati.
Kehadiran pohon-pohon raksasa seperti borneol serta jenis-jenis vegetasi tropis lainnya membentuk ekosistem unik yang saling mendukung satu sama lain.
Kekayaan biodiversitas ini menjadikan hutan Kalimantan sebagai rumah bagi primata endemik dan satwa langka dunia. Menurut data International Union for Conservation of Nature (IUCN), orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) kini berstatus kritis (critically endangered), sementara bekantan (Nasalis larvatus) dan owa kalawat (Hylobates muelleri) berstatus terancam punah (endangered).
Kawasan ini juga dihuni oleh lutung kelabu (Trachypithecus cristatus), tiga jenis kukang, termasuk kukang kayan (Nycticebus kayan) hingga burung rangkong badak (Buceros rhinoceros).
Ketika tutupan pohon menyusut, dampaknya bukan sekadar kehilangan kayu, melainkan juga fragmentasi habitat yang memutus hubungan ekologis antarspesies. Padahal, keanekaragaman hayati ini memiliki nilai ekologis global yang sangat besar. Sebagai contoh, orangutan dan burung rangkong berperan penting sebagai penyebar biji alami yang membantu regenerasi pohon-pohon di hutan.
Dari Air hingga Udara, Begini Hutan Bekerja untuk Lingkungan
Hutan tropis basah ini menyerap karbon dioksida dari udara dalam jumlah besar dan menyimpannya ke dalam biomass vegetasi serta perakaran. Proses ini menjaga kestabilan iklim global melalui mekanisme evapotranspirasi dan interaksi atmosferik yang kompleks.
Peran hutan Kalimantan dalam menyerap karbon menjadi semakin krusial ketika menyoroti ekosistem lahan gambut, seperti yang tersebar di wilayah Kapuas Hulu atau Mempawah. Lahan gambut memiliki karakteristik hidrologis tersendiri yang mampu menyimpan cadangan karbon hingga tiga kali lebih banyak dibandingkan hutan tanah mineral biasa.
Selain menyimpan karbon, kerapatan jaringan akar vegetasi hutan juga berfungsi menahan laju air hujan, mencegah erosi tanah, serta mengatur tata air wilayah agar tidak terjadi banjir maupun kekeringan ekstrem.
Proses fotosintesis pohon pun sebetulnya berimbang dengan respirasi dan dekomposisi organik di dalam ekosistem itu sendiri. Oleh karena itu, manfaat utama hutan terhadap lingkungan global tidak terletak pada kemampuannya menjaga keseimbangan siklus air dan iklim. Fungsi ekologis ini pada akhirnya memberikan dampak langsung bagi kehidupan manusia di sekitarnya.
Bagi Masyarakat, Hutan Bukan Sekadar Hamparan Pepohonan
Bagi masyarakat setempat, peran hutan Kalimantan bagi masyarakat setempat berwujud dalam hubungan ketergantungan yang sangat erat. Hutan adalah ruang hidup sekaligus sumber penghidupan harian yang menyediakan pangan, air bersih, obat-obatan tradisional, hingga hasil hutan bukan kayu (HHBK).
Aktivitas ekonomi lokal seperti budi daya kakao lestari dan pemanfaatan komoditas ramah lingkungan lainnya menjadi bukti bahwa pemanfaatan hutan dapat berjalan secara selaras tanpa harus merusaknya.
Keterikatan ini tampak nyata pada berbagai komunitas lokal dan masyarakat hukum adat di Kalimantan. Di Kalimantan Timur, misalnya, masyarakat adat Wehea memiliki kelompok Petkuq Mehuwey yang secara mandiri melakukan patroli, pengumpulan data, dan pengawasan hutan secara berkala.
Hubungan masyarakat dengan hutan tentu bervariasi berdasarkan latar belakang budaya, wilayah, dan sejarah pengelolaannya, sehingga tidak bisa diseragamkan begitu saja.
Menempatkan masyarakat lokal semata-mata sebagai ancaman bagi konservasi adalah pandangan yang kurang tepat. Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) menunjukkan bahwa kawasan yang dikelola langsung oleh warga melalui skema Perhutanan Sosial atau pendekatan seperti Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan (SIGAP) justru menunjukkan tingkat deforestasi yang lebih rendah.
Pengelolaan berbasis masyarakat ini membuktikan bahwa pengetahuan tradisional dan kepastian hak kelola dapat menjadi pilar utama dalam menjaga kelestarian warisan budaya serta keberlanjutan generasi.
Hutan Kalimantan dan Julukannya sebagai “Paru-Paru Dunia”

Lahan Basah Taman Nasional Danau Sentarum, Kalimantan Barat | Sumber: Wikimedia Commons @RaiyaniM
Sebutan "Paru-Paru Dunia" telah lama melekat pada hutan Kalimantan dalam narasi populer. Metafora ini muncul karena hamparan hutan hujannya yang sangat luas diandaikan bekerja menyerupai organ pernapasan, yaitu dengan menyerap karbondioksida dan melepaskan oksigen bagi planet bumi.
Namun secara ilmiah, istilah ini perlu dipahami dengan kontekstual dan tidak ditafsirkan secara harfiah bahwa seluruh oksigen bumi berasal dari Kalimantan semata.
Keunggulan utama hutan Kalimantan dalam sistem iklim dunia sebenarnya terletak pada fungsinya sebagai penyimpan cadangan karbon raksasa dan pengatur siklus air kawasan.
Ketika tutupan hutan terganggu, karbon yang tersimpan selama ribuan tahun akan terlepas ke atmosfer dan mempercepat pemanasan global. Pemahaman yang tepat mengenai fungsi ekologis ini sangat penting agar upaya perlindungan difokuskan pada penanganan akar masalah kerusakan lingkungan.
Apa Penyebab Kerusakan Hutan di Kalimantan?
Kerusakan ekosistem di Pulau Borneo disebabkan oleh dinamika kompleks yang melibatkan berbagai sektor. Penting untuk membedakan antara deforestasi (penggundulan hutan total), degradasi (penurunan kualitas tutupan), fragmentasi habitat, serta alih fungsi lahan.
Di Kalimantan Tengah, yang memiliki kawasan hutan seluas 11.671.263,18 hektare (75,9% luas daratan provinsi) tantangan pengelolaan tutupan lahan memerlukan perhatian lintas sektor.
Secara umum, pendorong utama perubahan tutupan hutan meliputi alih fungsi lahan untuk pertanian skala besar, perkebunan kelapa sawit, penambangan komoditas mineral, pembalakan liar, serta pembangunan infrastruktur.
Selain itu, kebakaran hutan dan lahan yang dipicu oleh kombinasi kondisi cuaca ekstrem serta penyiapan lahan yang tidak terkontrol turut meningkatkan laju degradasi, terutama di area gambut. Dampak dari kerusakan ini sangat nyata, yaitu meningkatnya emisi karbon, ancaman kepunahan satwa, bencana banjir, hingga kabut asap yang merugikan kesehatan masyarakat.
Menjaga yang Tersisa, Memulihkan yang Telah Rusak
Menghadapi tantangan kerusakan lingkungan tersebut, berbagai upaya konservasi hutan Kalimantan terus digalakkan oleh banyak pihak secara kolaboratif.
Langkah nyata ini mencakup penetapan kawasan lindung, restorasi lahan gambut basah, penegakan hukum terhadap pembalakan liar, pemantauan tutupan lahan berbasis teknologi kamera perangkap (camera trap), hingga program rehabilitasi hutan.
Salah satu contoh sukses pengelolaan kolaboratif ditunjukkan oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) bersama pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat adat dalam menjaga bentang alam Wehea-Kelay.
Pendampingan melalui program SIGAP di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, bahkan telah diperkuat melalui Peraturan Daerah guna memastikan masyarakat memiliki akses legal dan kapasitas dalam mengelola sumber daya secara lestari.
Meski berbagai inisiatif telah memberikan hasil positif, pekerjaan rumah dalam menjaga hutan Kalimantan belum usai. Memulihkan ekosistem hutan tropis yang telah rusak membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun, sehingga mempertahankan sisa hutan primer yang masih utuh tetap menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar.
Hutan Kalimantan Bukan Hanya Milik Hari Ini
Hutan Kalimantan adalah warisan ekologis, sosial, dan budaya yang nilai keberadaannya melampaui perhitungan ekonomi jangka pendek. Apa yang terjadi pada tutupan hutan hari ini akan menentukan kualitas air, keterjaminan iklim, dan ruang hidup yang akan diwarisi oleh generasi mendatang.
Menjaga kelestarian hutan Kalimantan bukanlah tanggung jawab satu pihak semata, melainkan komitmen bersama antara pemerintah, masyarakat lokal, lembaga konservasi, dan publik secara luas. Ketika hutan tetap berdiri kukuh dan lestari, kita tidak hanya menyelamatkan pepohonan dan satwa di dalamnya, tetapi juga menjaga denyut kehidupan dan masa depan bangsa Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


