Sektor pertanian menjadi tulang punggung perekonomian di banyak desa di Indonesia, termasuk Desa Kudubanjar. Namun, di balik peran pentingnya, para petani kerap dihadapkan pada tantangan klasik yang belum kunjung usai: biaya olah lahan yang terus merangkak naik, tenaga kerja tanam yang semakin sulit dicari, durasi pengerjaan yang panjang, hingga pola cuaca yang kian sulit diprediksi.
Berangkat dari persoalan inilah, Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB University hadir di Desa Kudubanjar dengan membawa sebuah solusi sederhana namun aplikatif: alat Tanam Benih Langsung, atau yang lebih dikenal dengan sebutan TABELA.
Kegiatan sosialisasi dan demonstrasi alat TABELA ini digelar sebagai bagian dari upaya mahasiswa KKNT IPB University untuk mendukung Program Pertanian Modern – Advanced Agricultural System (PM-AAS) yang digalakkan oleh Kementerian Pertanian. Program PM-AAS sendiri merupakan sistem budidaya padi intensif yang memadukan penggunaan perangkat modern dengan ketepatan pola tanam, dengan tujuan akhir mendongkrak produktivitas padi sekaligus mewujudkan cita-cita swasembada pangan nasional.
Melalui pendekatan teknologi tepat guna yang ramah lingkungan, program ini diharapkan mampu mengoptimalkan hasil panen secara terukur sekaligus menekan pengeluaran modal kerja dan waktu pengelolaan sawah dari awal hingga akhir musim tanam.
Menjawab Tantangan Petani lewat Inovasi Tanam
Selama ini, metode tanam konvensional yang melalui tahap pesemaian dan pindah tanam (tandur) dinilai memakan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Di sinilah TABELA hadir sebagai jawaban. Berbeda dengan cara tanam biasa, metode TABELA memungkinkan benih padi yang telah berkecambah langsung ditempatkan pada hamparan lahan sawah, tanpa melalui proses pesemaian maupun pindah tanam. Dengan memangkas rantai pengerjaan awal ini, waktu penanaman menjadi jauh lebih singkat dan alur kerja pertanaman padi pun lebih sederhana.
Dalam sosialisasi yang digelar Tim KKNT IPB University, dijelaskan bahwa terdapat dua jenis alat TABELA yang diperkenalkan kepada warga Desa Kudubanjar, yaitu tipe rolling (berputar) dan tipe tuas (manual). Pada tipe rolling, pengeluaran benih bekerja secara otomatis mengikuti perputaran roda alat saat ditarik, sehingga cocok digunakan pada hamparan sawah yang permukaannya sudah rata guna menjaga keseragaman jarak tanam. Sementara itu, tipe tuas mengandalkan mekanisme manual melalui penekanan tuas pada gagang kendali, yang memberikan keleluasaan lebih bagi petani untuk mengatur sendiri jarak penempatan benih sesuai kebutuhan lahan.
Kedua tipe alat ini dirancang dengan prinsip yang sama: praktis digunakan, tidak membebani fisik penggunanya, serta menggunakan komponen mekanis sederhana agar mudah dibuat dan dirawat. Dari sisi teknis, keduanya memiliki delapan lubang keluar benih dengan jarak antar baris tetap 25 cm, mengikuti pola tanam jajar legowo dengan sistem 25-25-25-25-50 cm — pola yang selama ini dikenal efektif meningkatkan populasi tanaman sekaligus sirkulasi udara di antara barisan padi.
Dari Bahan Sederhana hingga Uji Coba Lapangan
Menariknya, alat TABELA yang disosialisasikan oleh Tim KKNT IPB University ini dibuat dari bahan-bahan yang relatif mudah didapat dan terjangkau oleh warga desa. Untuk tipe rolling, komponen utamanya berupa pipa PVC ukuran 4 inci sebagai tabung benih, kayu sebagai penopang dan gagang kendali, roda dari triplek dan sterofoam, serta sekrup, engsel, dan lem putih sebagai penyambung. Adapun tipe tuas memanfaatkan kayu kaso, botol plastik sebagai wadah benih, kawat penghubung, serta karet ban untuk mekanisme penekan.
Proses pembuatan kedua alat ini pun dijelaskan secara bertahap kepada warga, mulai dari persiapan dan pemotongan material, perakitan struktur dan dudukan, hingga uji coba mekanis untuk memastikan alat benar-benar berfungsi dengan baik sebelum digunakan di lahan sesungguhnya. Tahapan ini sengaja disusun secara rinci agar warga Desa Kudubanjar tidak hanya memahami cara pakai, tetapi juga berpotensi memproduksi atau memperbaiki alat secara mandiri di kemudian hari.
Rangkaian kegiatan tidak berhenti pada sosialisasi dan penjelasan teknis semata. Tim KKNT IPB University turut mengajak warga untuk terlibat langsung dalam agenda demonstrasi praktik lapangan.
Kegiatan ini dibagi menjadi empat tahap, dimulai dari peragaan bersama mengenai takaran ideal pengisian benih ke dalam alat, dilanjutkan dengan uji coba penarikan alat tipe rolling untuk melihat kelancaran jatuhnya benih secara otomatis, kemudian uji coba alat tipe tuas yang mengombinasikan tarikan jarak dan ketukan tuas manual, hingga tahap akhir berupa pengamatan bersama terhadap kerapian, kerapatan, dan keseragaman posisi benih yang telah ditanam di atas permukaan tanah.
Harapan untuk Pertanian Desa Kudubanjar
Melalui sosialisasi dan praktik langsung penggunaan TABELA ini, Tim KKNT IPB University berharap warga Desa Kudubanjar dapat merasakan manfaat nyata dari inovasi tanam ini, baik dari sisi efisiensi waktu pengerjaan lahan maupun penghematan biaya dan tenaga kerja tanam. Faktor pendukung keberhasilan metode ini juga turut ditekankan, yaitu pentingnya menggunakan benih berkualitas dengan tingkat kecambah yang seragam, serta memastikan permukaan tanah sawah dalam kondisi rata sebelum proses penanaman dilakukan.
Kehadiran mahasiswa KKNT IPB University dengan program penerapan TABELA ini menjadi salah satu bentuk nyata sinergi antara dunia akademik dan masyarakat desa dalam mendukung program PM-AAS dari Kementerian Pertanian. Diharapkan, inovasi sederhana namun berdampak ini dapat terus dikembangkan dan diadopsi secara berkelanjutan oleh petani Desa Kudubanjar, sehingga cita-cita pertanian yang lebih efisien, modern, dan produktif dapat terwujud secara bertahap, sejalan dengan semangat besar mewujudkan swasembada pangan nasional.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


