Upaya meningkatkan daya saing pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di era digital terus dilakukan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat. Salah satunya diwujudkan oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Bela Negara Kelompok 33 UPN "Veteran" Jawa Timur yang mengadakan kegiatan pendampingan digitalisasi UMKM di Desa Wonomerto, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang.
Program tersebut difokuskan kepada pelaku UMKM olahan durian yang menjadi salah satu potensi unggulan desa. Melalui kegiatan ini, mahasiswa membantu para pelaku usaha memanfaatkan teknologi digital sebagai media promosi sekaligus memperluas jangkauan pemasaran produk mereka. Pendampingan dilakukan secara langsung agar setiap peserta dapat memahami tahapan digitalisasi usaha dengan lebih mudah.
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai pentingnya digital marketing bagi pelaku UMKM di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat. Dalam sesi tersebut, mahasiswa menjelaskan bahwa pola belanja masyarakat kini telah banyak beralih ke platform digital. Oleh karena itu, pelaku usaha perlu beradaptasi agar mampu bersaing dan tidak hanya bergantung pada penjualan secara konvensional.
Selain memberikan pemahaman mengenai pemasaran digital, mahasiswa juga memperkenalkan berbagai platform yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha. Mereka menjelaskan bahwa marketplace, media pencarian lokasi usaha, hingga legalitas usaha merupakan bagian penting dalam membangun kepercayaan konsumen sekaligus memperluas peluang penjualan.
Setelah sesi materi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pendampingan praktik. Para pelaku UMKM didampingi satu per satu dalam membuat akun toko di marketplace Shopee. Mahasiswa membantu proses pendaftaran, melengkapi informasi toko, hingga memberikan arahan mengenai cara mengunggah foto produk dan menuliskan deskripsi yang menarik agar produk lebih mudah ditemukan calon pembeli.
Tidak hanya itu, mahasiswa juga membantu pelaku usaha mendaftarkan lokasi usahanya ke Google Maps. Langkah ini dinilai penting karena dapat memudahkan pelanggan menemukan lokasi produksi maupun tempat penjualan secara lebih akurat. Dengan adanya informasi usaha di Google Maps, masyarakat yang berasal dari luar daerah juga dapat mengetahui keberadaan UMKM tersebut hanya melalui pencarian di internet.
Dalam pendampingan tersebut, mahasiswa turut menjelaskan bahwa kehadiran usaha di platform digital tidak hanya meningkatkan kemudahan akses bagi pelanggan, tetapi juga mampu membangun citra usaha yang lebih profesional. Informasi yang lengkap mengenai lokasi, jam operasional, hingga ulasan pelanggan dapat menjadi nilai tambah yang meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk yang ditawarkan.
Selain fokus pada pemasaran digital, kegiatan ini juga mencakup pendampingan pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) melalui sistem Online Single Submission (OSS). Mahasiswa memberikan penjelasan mengenai manfaat kepemilikan NIB sebagai identitas legal usaha, sekaligus mendampingi peserta selama proses pendaftaran hingga data yang diperlukan berhasil diinput ke dalam sistem.
Antusiasme peserta terlihat sejak awal hingga akhir kegiatan. Banyak pelaku UMKM yang aktif bertanya mengenai proses pemasaran digital, pengelolaan toko di marketplace, hingga tahapan memperoleh legalitas usaha. Sebagian peserta bahkan langsung mempraktikkan setiap langkah yang dijelaskan dengan pendampingan dari mahasiswa sehingga proses belajar berlangsung lebih interaktif.
Salah satu pelaku UMKM mengaku bahwa sebelum mengikuti kegiatan ini, ia masih mengandalkan pembeli yang datang langsung ke lokasi usaha atau promosi dari mulut ke mulut. Menurutnya, pemasaran digital sebelumnya terasa rumit karena belum pernah mendapatkan pendampingan secara langsung.
"Selama ini kami hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung atau informasi dari mulut ke mulut. Setelah didampingi membuat Shopee dan Google Maps, kami jadi lebih percaya diri untuk memasarkan produk ke luar daerah," ujar salah satu peserta.
Pendampingan pengurusan NIB juga mendapatkan respons yang tidak kalah positif. Beberapa peserta mengaku sempat menganggap proses perizinan usaha cukup rumit. Namun setelah memperoleh penjelasan dan bimbingan secara langsung, mereka menyadari bahwa proses tersebut sebenarnya dapat dilakukan secara daring dengan langkah-langkah yang relatif mudah apabila didampingi dengan baik.
"Kami sebelumnya belum tahu cara mengurus NIB. Dengan adanya pendampingan ini prosesnya jadi lebih mudah dipahami dan kami merasa lebih siap mengembangkan usaha secara resmi," ungkap peserta lainnya.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Bela Negara Kelompok 33 berharap para pelaku UMKM di Desa Wonomerto semakin siap menghadapi tantangan perkembangan ekonomi digital. Digitalisasi diharapkan tidak hanya menjadi sarana promosi, tetapi juga mampu membuka akses pasar yang lebih luas, meningkatkan daya saing produk lokal, serta mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat desa.
Ke depan, mahasiswa berharap ilmu yang telah diberikan dapat terus diterapkan dan dikembangkan oleh para pelaku usaha secara mandiri. Dengan memanfaatkan marketplace, Google Maps, serta memiliki legalitas usaha melalui NIB, UMKM olahan durian di Desa Wonomerto diharapkan mampu berkembang lebih pesat, menjangkau konsumen dari berbagai daerah, dan menjadi salah satu produk unggulan yang mampu bersaing di pasar digital.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


