rumah seorang gadis kauman jadi cikal bakal jaringan paud terbesar indonesia kisah tk aba - News | Good News From Indonesia 2026

Rumah Seorang Gadis Kauman Jadi Cikal Bakal Jaringan PAUD Terbesar Indonesia: Kisah TK ABA

Rumah Seorang Gadis Kauman Jadi Cikal Bakal Jaringan PAUD Terbesar Indonesia: Kisah TK ABA
images info

TK ABA Karangajen, salah satu jaringan TK 'Aisyiyah Bustanul Athfal, warisan pendidikan anak usia dini yang dirintis sejak 1919


Seratus tujuh tahun lalu, seorang gadis muda bernama Siti Umniyah merelakan rumah keluarganya dipakai untuk sekolah anak-anak kampung. Murid-muridnya adalah anak-anak buruh batik di Kampung Kauman, Yogyakarta, yang sehari-hari bermain tanpa bimbingan karena orang tua mereka sibuk bekerja.

Dari rumah itulah, pada 21 Agustus 1919, lahir Froubel Kindergarten 'Aisyiyah—cikal bakal Taman Kanak-kanak 'Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA) yang kini menjelma jadi jaringan PAUD terbesar di Indonesia, dengan lebih dari 20 ribu unit tersebar di 34 provinsi.

baca juga

Pendidikan adalah Kemewahan

Pada masa kolonial Hindia Belanda, sekolah bukan untuk semua orang. Pendidikan formal hanya terbuka bagi anak-anak elite Belanda dan kaum bangsawan pribumi. Bagi rakyat biasa, apalagi perempuan dan anak usia dini, bersekolah masih dianggap di luar kelaziman sosial.

Keprihatinan pada kondisi inilah yang menggerakkan Siti Walidah, istri KH Ahmad Dahlan yang kelak dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, untuk turun tangan. Ia mulai mengumpulkan anak-anak Kauman untuk bermain sambil diberi dasar-dasar agama dan budi pekerti.

Sebenarnya, itu bukan pertama kalinya Siti Walidah bergerak. Sejak 1914, Siti Walidah sudah merintis kelompok pengajian perempuan bernama Sapatresna, yang kemudian bermetamorfosis menjadi organisasi 'Aisyiyah pada 19 Mei 1917. Dari organisasi ini pula lahir Siswa Praja Wanita (SPW) pada 1919. SPW menjadi wadah remaja putri Muhammadiyah yang kelak menjadi motor penggerak berdirinya sekolah anak usia dini pertama milik bumiputera.

Generasi Muda Langsung Memimpin

KH Ahmad Dahlan dan Siti Walidah punya strategi unik dalam membangun 'Aisyiyah, Mereka tidak menaruh tokoh senior di posisi puncak. Kala itu, Siti Bariyah, yang baru berusia muda, langsung dipercaya menjadi ketua pertama 'Aisyiyah pada 1917.

Siti Walidah sendiri menyadari keterbatasannya dalam aksara modern dan dengan sukarela mendorong murid-muridnya yang telah mengenyam pendidikan Barat untuk memimpin. Siti Bariyah, Siti Umniyah, dan aktivis SPW lainnya dikirim belajar ke sekolah-sekolah Belanda seperti Neutraal Meisjes School dan Pawiyatan, untuk menyerap metode pengajaran modern sekaligus kecakapan administrasi organisasi.

Perpaduan basis keislaman yang kuat dengan metode pendidikan Barat inilah yang kemudian melahirkan lompatan besar. Para perempuan muda ini bukan sekadar mengajar di kelas. Mereka juga ikut merintis konsolidasi gerakan perempuan nasional, termasuk memprakarsai pembentukan Kongres Wanita Indonesia (KOWANI) pada 1928.

baca juga

Mengapa Namanya "Frobel"?

Nama awal sekolah ini, Frobelschool Muhammadiyah/'Aisyiyah, diambil dari nama Friedrich Fröbel, filsuf Jerman (1782-1852) yang dikenal sebagai bapak pendidikan anak usia dini modern. Fröbel membuka Kindergarten pertamanya pada 28 Juni 1840, sekitar 79 tahun sebelum sekolah 'Aisyiyah berdiri.

TK ABA Kauman
info gambar

TK ABA Kauman


Metode Fröbel menekankan bermain terstruktur, alat permainan edukatif, serta nyanyian dan gerak fisik untuk merangsang perkembangan anak. Pemerintah kolonial Belanda sendiri sudah lebih dulu mendirikan Frobelschool sejak 1914.

Nah, dengan memakai nama serupa plus embel-embel "Muhammadiyah/'Aisyiyah", organisasi ini ingin menegaskan bahwa ada lembaga PAUD modern yang dikelola bumiputera, dengan sistem setara, tapi berisi nilai Islam.

Nama itu bertahan sampai 1924. Setelah Kongres (Muktamar) 1922 memutuskan 'Aisyiyah harus menjangkau daerah luar Jawa yang mayoritas Muslim dan lintas etnis, dibutuhkan nama yang lebih mudah dipahami. Dipilihlah bahasa Arab: bustan (taman) dan athfal, bentuk jamak dari thiflun (anak-anak). Jadilah Bustanul Athfal, taman untuk anak-anak. Nama ini kemudian diseragamkan secara nasional pada 1973 lewat workshop ke-10 Wilayah 'Aisyiyah menjadi TK ABA.

baca juga

Sekolah sebagai Benteng, Sekolah sebagai Korban Konflik

Ekspansi TK ABA ke berbagai daerah tidak selalu mulus.

Di Semarang, pendirian TK ABA pada era 1950-an dipicu oleh kekhawatiran. Semarang Timur saat itu merupakan basis kuat Partai Komunis Indonesia. Para kader 'Aisyiyah, dibantu imigran dari Klaten, bergerak cepat mendirikan sekolah sebagai benteng aqidah anak-anak. TK ABA pertama di kota itu resmi terdaftar tahun 1958 di Pindrikan Lor.

Di Rappang, Sulawesi Selatan, majalah Suara 'Aisyiyah edisi 1952 mencatat kader lokal bahkan mendirikan unit usaha mandiri bernama Kedai Anak Yatim untuk membiayai pendidikan anak usia dini secara swadaya.

Sementara di Ambon, Maluku, TK ABA berakar dari TK Islam yang didirikan tahun 1952. Sekolah ini baru resmi terintegrasi jadi TK ABA pada 1972. Sekolah tertua di Ambon ini sempat terseret sengketa lahan pascakonflik sosial, hingga jumlah unitnya menyusut drastis dari 60 sekolah menjadi 35 sekolah pada 2019.

Di Kalimantan Selatan, 'Aisyiyah justru melangkah lebih jauh dengan mendirikan SD Alam Muhammadiyah Banjarbaru pada 2010. Sekolah alam dasar pertama di wilayah itu, dirancang meneruskan pola belajar eksploratif dari jenjang TK ABA.

baca juga

Warisan yang Bertahan Melampaui Zaman

Dari rumah kecil di Kauman yang dipinjamkan seorang gadis muda, TK ABA kini menjadi jaringan PAUD swasta terbesar di Indonesia. Jutaan lulusannya tersebar di berbagai profesi di seluruh pelosok negeri.

Yang membuatnya bertahan bukan sekadar fasilitas atau kurikulum yang berganti mengikuti zaman, melainkan kemampuan menyesuaikan diri tanpa kehilangan jati diri.


Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.