Di Jalan Wijaya Kusuma Nomor 48, Surabaya, ada satu kompleks bangunan tua bergaya Eropa dengan menara intai di atapnya. Siapa sangka, di dalamnya berdiri beberapa bangunan sekolah. Bukan sekolah sembarangan tentu, karena bangunannya punya nilai sejarah.
Gedung ini menyimpan jejak salah satu presiden pertama Republik Indonesia, markas pelajar pejuang saat pertempuran 10 November, sampai status resmi sebagai cagar budaya kota. Warga Surabaya mengenalnya sebagai SMA Komplek Surabaya.
Disebut komplek karena di kawasan itu berdiri berdampingan empat sekolah negeri sekaligus, yakni SMA Negeri 1, SMA Negeri 2, SMA Negeri 5, dan SMA Negeri 9 Surabaya.
SMAN 1, SMAN 2, dan SMAN 9 berada di Jalan Wijaya Kusuma, sedangkan SMAN 5 terletak di Jalan Kusuma Bangsa.
Awalnya Bukan di Wijaya Kusuma
Sebelum menjadi rumah bagi sekolah-sekolah tersebut, kawasan Ketabang pernah menjadi lokasi berdirinya Hoogere Burgerschool (HBS) Surabaya, salah satu sekolah menengah paling bergengsi pada masa kolonial Belanda. Jejak HBS inilah yang kemudian menjadi cikal bakal sejarah pendidikan di kawasan yang kini dikenal sebagai SMA Komplek. Meski demikian, dulunya HBS Surabaya tidak langsung berlokasi di Ketabang.
Menurut riset Indra Cipta Jaya dan Gayung Kasuma dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga yang dikutip detikJatim, Hoogere Burgerschool (HBS) pertama kali didirikan pada 1875.
HBS adalah sekolah menengah umum yang didirikan pemerintah kolonial untuk mencetak tenaga terdidik di tanah jajahan. Lokasi awalnya berada di kawasan Kebon Rojo, dekat pelabuhan Surabaya Utara.
Barulah pada 1923, HBS pindah ke Regentstraat—yang kemudian dikenal sebagai HBS Straat, sekarang Jalan Wijaya Kusuma—di kawasan Ketabang. Perpindahan ini didorong dua alasan.
Pertama, kawasan Kebon Rojo yang makin ramai dan padat. Kedua, perluasan Kota Surabaya yang dilakukan oleh pemerintah kota sejak 1906 hingga 1940, sehingga permukiman baru dibuka ke arah selatan, ke Ketabang, sebagaimana dicatat dalam laman Pesona Cagar Budaya Surabaya.
Gedung baru ini dirancang arsitek Belanda J. Gerber dari BOW (Burgerlijke Openbare Werken, dinas pekerjaan umum kolonial). Bangunan itulah yang hingga sekarang masih berdiri dan dipakai sebagai sekolah.
Sekolah untuk Sinyo dan Noni, dengan Sedikit Pengecualian
HBS pada masanya adalah sekolah lanjutan tinggi pertama—gabungan setingkat SMP dan SMA—yang diperuntukkan bagi warga negara Belanda, Eropa, dan kalangan elite pribumi. Murid pribumi memang ada, tapi terbatas pada anak-anak pembesar dan pejabat.
Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, adalah salah satu lulusannya. Namun Soekarno bersekolah di HBS Kebon Rojo, bukan di gedung Wijaya Kusuma yang sekarang jadi SMA Komplek, karena saat itu HBS belum pindah.
Soekarno mengenyam pendidikan di HBS Kebon Rojo sekitar 1915/1916 hingga 1920/1921. Ia bisa diterima berkat bantuan HOS Tjokroaminoto, tokoh pergerakan nasional yang juga kawan dekat ayah Soekarno, Soekemi Sosrodiharjo.
Gedung HBS Kebon Rojo sendiri kini sudah tidak lagi menjadi sekolah. Sejak direnovasi pada 1926-1928 oleh arsitek GJPM Bolsius, bangunan itu beralih fungsi menjadi Kantor Pos Besar Kebon Rojo dan masih beroperasi sampai sekarang.
Sebagai penanda sejarah, Wali Kota Surabaya saat itu, Tri Rismaharini, meresmikan sebuah plakat di lokasi tersebut pada 6 Juni 2011. Tulisan pada plakat itu berbunyi: "Di Sini Tempat Bersekolah Ir. Soekarno, Penggali Pancasila, Proklamator, Presiden Pertama RI, ketika Di Hogere Burger School (HBS) 1915-1920," seperti dicatat dalam Mojok.co.
Soekarno bukan satu-satunya alumnus HBS yang kemudian punya nama besar. Beberapa lulusan lain yang sukses berkarier di pemerintahan antara lain Roeslan Abdulgani (mantan Menteri Luar Negeri), Soedjatmiko (mantan Duta Besar RI untuk PBB), dan Widjojo Nitisastro (mantan Menteri Keuangan dan Ketua Bappenas), menurut data ADINDA Surabaya.
Markas Pelajar Pejuang di Tengah Pertempuran
Gedung SMA Komplek tidak hanya menyimpan sejarah pendidikan, tapi juga sejarah perjuangan. Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini pernah dijadikan markas Rikugun, tentara Jepang. Kemudian, saat pertempuran 10 November 1945 meletus, gedung ini berubah fungsi menjadi Markas Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP).
Sebagai penanda, di halaman sekolah kini berdiri Monumen Pelajar Pejuang Bersenjata, sebuah tugu yang mencatat nama-nama pelajar pejuang bersenjata yang gugur dalam pertempuran tersebut, menurut catatan Pesona Cagar Budaya Surabaya.
Dari HBS ke Empat SMA Negeri
Pada 1 Agustus 1950, kepemimpinan sekolah diserahterimakan dari B.J. Pieters, direktur HBS terakhir, kepada Marakamil S.P., orang Indonesia asli. Sejak saat itu, sekolah selalu dipimpin oleh bangsa sendiri.
Proses pemecahan HBS menjadi empat sekolah negeri berjalan bertahap selama belasan tahun berikutnya:
Sebenarnya, SMA Negeri 1 Surabaya cikal bakalnya bukan langsung dari HBS, melainkan dari SMA Dr. Sutomo yang didirikan tokoh pendidikan Surabaya pada April 1949. Muridnya berasal dari tentara pelajar yang meninggalkan sekolah "Pertemuan Dr. Sutomo". Sekolah ini resmi dinegerikan menjadi SMA Negeri 1 Surabaya pada 1 April 1950. R. Suhardi Notodipuro menjadi kepala sekolah pertama.
Kemudian, SMA Negeri 2 Surabaya resmi berdiri sebagai sekolah negeri pada 1 Agustus 1950, langsung menempati bekas gedung HBS.
Selanjutnya, SMA Negeri 5 Surabaya lahir dari pemisahan SMAN 2 bagian B berdasarkan SK Menteri PP&K Nomor 6738/B III tertanggal 18 Desember 1956, dan mulai beroperasi pada 1 Agustus 1957. Sekolah ini sempat berbagi gedung dengan SMAN 1 dan SMAN 2 sebelum akhirnya pindah ke Jalan Kusuma Bangsa 21 pada era kepemimpinan Soehartojo (1983-1989).
SMA Negeri 9 Surabaya berdiri belakangan, mulai beroperasi 1 Februari 1967 di lokasi yang sama, Jalan Wijaya Kusuma 48.
Pembagian jurusan pun sempat berubah-ubah. SMA 1 dan SMA 2 pernah bertukar jurusan pada tahun ajaran 1954/1955. SMA 1 menyerahkan jurusan sosial budaya (bagian B) ke SMA 2, sementara SMA 2 memberikan jurusan bahasa (bagian A) ke SMA 1. Sistem penjurusan lama itu akhirnya dihapus mulai tahun ajaran 1964/1965, dan sejak itu SMA 1 resmi menjadi SMA Negeri 1 Surabaya tanpa embel-embel jurusan.
Cagar Budaya yang Masih Hidup
Yang membuat SMA Komplek istimewa dibanding banyak bangunan kolonial lain adalah statusnya yang tetap aktif berfungsi sebagai sekolah, bukan sekadar museum atau bangunan mati. Meski sudah ada tambahan gedung baru di dalam kompleks, bangunan asli peninggalan Belanda tetap dipertahankan dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya.
Ciri khas arsitektur tropis kolonial pada gedung ini, menurut ADINDA Surabaya, juga mencerminkan peran besarnya dalam sejarah pendidikan di tanah air—sebuah warisan dari masa ketika pendidikan menengah masih menjadi barang langka dan eksklusif di Hindia Belanda.
Kini, ratusan pelajar dari empat sekolah negeri berbeda tetap belajar setiap hari di bawah atap yang sama dengan menara intai tua itu—melanjutkan cerita panjang sebuah gedung yang pernah mendidik seorang proklamator, menjadi markas perjuangan, dan akhirnya menjelma jadi salah satu ikon pendidikan Kota Pahlawan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


