krisis identitas kenapa banyak anak muda merasa lost - News | Good News From Indonesia 2026

Krisis Identitas: Kenapa Banyak Anak Muda Merasa Lost?

Krisis Identitas: Kenapa Banyak Anak Muda Merasa Lost?
images info

Foto seorang pria yang bingung akan identitas dirinya. Foto: Pexels/Cup of Couple


Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial dipenuhi curhatan anak muda tentang perasaan “lost”: bingung mau ke mana, tidak tahu tujuan hidup, atau merasa tertinggal dari teman-teman sebayanya. Tren seperti quarter-life crisis, sad girl era, hingga konten “lagi cari jati diri” di TikTok menunjukkan bahwa fenomena ini bukan hanya menyerang individu, tapi generasi.

Fenomena ini sebenarnya bisa dijelaskan lewat psikologi humanis, khususnya teori Carl Rogers tentang diri nyata (Real Self) dan diri ideal (Ideal Self). Ketika dua hal ini bertabrakan, muncul rasa cemas, ragu, dan kehilangan arah yang dialami banyak anak muda hari ini.

Tekanan Zaman Membuat Banyak Anak Muda Merasa Tidak Cukup

Di media sosial kita melihat pencapaian orang lain setiap hari: karier yang cepat naik, wajah glowing, hidup stabil, pasangan harmonis, dan pencapaian finansial sejak usia muda. Tanpa disadari, semua itu membentuk gambaran tentang siapa “seharusnya” kita.

Inilah yang dalam psikologi disebut Ideal Self, versi diri yang kita inginkan atau kita pikir wajib kita capai. Sebaliknya, ada Real Self, yaitu keadaan kita yang sebenarnya: kondisi ekonomi, kemampuan, kesehatan mental, pengalaman hidup, dan ritme perkembangan masing-masing. Masalahnya, standar hidup zaman sekarang membuat jarak antara keduanya semakin besar.

baca juga

Ketika Real Self Tidak Sama dengan Ideal Self, Terjadilah Krisis Identitas

Menurut Rogers dalam Schultz & Schultz (2021), seseorang akan merasa sehat dan stabil ketika dirinya yang nyata selaras dengan dirinya yang ideal, ini disebut congruence. Namun yang banyak terjadi hari ini adalah sebaliknya: Real Self tertinggal jauh dari Ideal Self yang terbentuk oleh tuntutan hidup modern.

Akibatnya:

  • Merasa gagal meski sudah berusaha
  • Overthinking soal masa depan
  • Takut mengambil keputusan
  • Mudah minder
  • Merasa hidup “nggak sesuai ekspektasi”
  • Kehilangan arah dan tujuan

Inilah inti dari krisis identitas yang banyak dirasakan generasi muda.

Kenapa Ideal Self Bisa Begitu Berat?

Ideal Self tidak datang dari diri sendiri saja. Ia dibentuk oleh:

1. Ekspektasi keluarga & lingkungan

Banyak yang tumbuh dengan tuntutan “harus sukses”, “harus mapan”, atau “harus berprestasi”.

2. Tekanan sosial media

Dari glow up hingga gaji besar, konten di media sosial menciptakan standar tinggi yang seolah wajib.

3. Perbandingan terus-menerus

Scrolling membuat kita merasa hidup orang lain lebih teratur, sedangkan hidup kita penuh ketidakpastian. Jika Real Self tidak mampu mengejar Ideal Self yang berat ini, muncullah perasaan “nggak cukup” yang berkepanjangan.

Apa Kata Psikologi Humanis?

Carl Rogers menekankan bahwa manusia butuh:

  • Penerimaan diri
  • Lingkungan yang mendukung
  • Kesempatan mengeksplorasi diri
  • Hubungan yang aman

Semua itu membantu seseorang membangun Ideal Self yang realistis, bukan yang terbentuk oleh tekanan eksternal. Maslow juga menambahkan bahwa seseorang akan kesulitan beraktualisasi jika kebutuhan dasarnya, yaitu: keamanan, rasa diterima, harga diri belum terpenuhi.

Banyak anak muda belum mencapai stabilitas itu, sehingga wajar jika mereka merasa “belum tahu dirinya”.Krisis identitas bukan tanda lemah, tapi tanda bahwa seseorang sedang bertumbuh dan mencari dirinya.

Bagaimana Mengurangi Perasaan ‘Lost’?

Berikut langkah yang direkomendasikan psikologi humanis, yang disederhanakan untuk kehidupan sehari-hari:

1. Terima kondisi diri saat ini

Penerimaan bukan berarti menyerah. Ini fondasi untuk melangkah.

2. Revisi Ideal Self agar lebih realistis

Tujuan hidup tetap penting, tapi sesuaikan dengan kapasitas dan situasi sekarang.

3. Kurangi perbandingan yang tidak sehat

Unfollow akun yang membuat stres atau membangun ekspektasi tidak realistis.

4. Beri ruang untuk mencari tahu pelan-pelan

Tidak semua orang menemukan jati diri di usia 20-an. Dan itu hal yang normal.

5. Bangun lingkungan yang suportif

Teman, pasangan, atau keluarga yang menerima diri apa adanya membantu mengurangi gap Real–Ideal Self.

6. Cari bantuan profesional jika perlu

Terapi bisa membantu memahami konflik batin dan menemukan arah yang lebih jelas.

baca juga

Semua Orang Punya Ritme Hidupnya

Generasi muda hidup di era dengan tekanan yang belum pernah ada sebelumnya. Wajar jika banyak yang merasa “lost”. Namun memahami diri nyata dan diri ideal membantu kita melihat bahwa masalah ini bukan karena kita kurang, tetapi karena standarnya tidak realistis.

Menemukan jati diri bukanlah lomba cepat. Ini adalah proses panjang untuk menyatukan dua sisi diri: yang kita inginkan, dan yang kita jalani sekarang. Asal bergerak sedikit demi sedikit, kita tetap melangkah.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AF
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.