legenda pilanduk takial kial cerita rakyat dari labuhan batu sumatera utara - News | Good News From Indonesia 2026

Legenda Pilanduk Takial-kial, Cerita Rakyat dari Labuhan Batu Sumatera Utara

Legenda Pilanduk Takial-kial, Cerita Rakyat dari Labuhan Batu Sumatera Utara
images info

Legenda Pilanduk Takial-kial, Cerita Rakyat dari Labuhan Batu Sumatera Utara | Wikimedia Commons/Adrian Pingstone


Legenda pilanduk takial-kial adalah salah satu cerita rakyat yang berasal dari daerah Labuhan Batu, Sumatera Utara. Legenda ini berkisah tentang seorang anak laki-laki yang berbuat baik pada seekor pelanduk betina walau sudah merusak hasil kebunnya.

Bagaimana kisah dalam legenda pilanduk takial-kial tersebut?

Legenda Pilanduk Takial-kial, Cerita Rakyat dari Labuhan Batu Sumatera Utara

Dinukil dari buku Bunga Rampai Cerita Rakyat Labuhanbatu, dikisahkan pada zaman dahulu hiduplah sepasang suami istri di sebuah desa. Pasangan suami istri ini dikaruniai seorang anak laki-laki.

Ketika anaknya berusia satu tahun, sang suami meninggal dunia. Alhasil anak tersebut menjadi yatim dan hidup berdua bersama sang ibu.

Ibunya sangat menyayangi anak laki-laki tersebut. Dia selalu berusaha memenuhi semua kebutuhan yang diperlukan oleh sang anak.

Tahun demi tahun berlalu, sang anak mulai tumbuh dewasa. Dirinya menjelma menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan.

Meskipun demikian, anak laki-laki tersebut memiliki sifat pemalu. Dia selalu kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang lain yang ada di sekitarnya.

Sehari-hari anak laki-laki tersebut bekerja sebagai pencari kayu api. Setiap hari dia akan masuk ke dalam hutan untuk mencari kayu api.

baca juga

Setelah itu dia akan pergi ke pasar untuk menjual kayu api itu. Hasil penjualan inilah yang dia gunakan untuk memenuhi kebutuhan bersama sang ibu.

Selain itu, dia juga pergi untuk mencari ikan di sungai. Semua hal dia lakukan untuk menjadi tulang punggung keluarga kecilnya.

Anak laki-laki ini mengambil tanggung jawab menggantikan sang ibu. Dia tidak membiarkan ibunya bekerja lagi karena sudah tua dan lanjut usia.

Setiap hari anak laki-laki ini akan bertemu gadis desa ketika menjala ikan di sungai. Namun dia tidak memiliki nyali untuk menyapa anak gadis tersebut.

Terlebih para gadis ini tidak menunjukkan rasa tertarik padanya. Meskipun gagah dan tampan, anak gadis ini tetap tidak tertarik karena dia termasuk pemuda miskin yang ada di desanya.

Pada suatu hari, anak laki-laki ini memutuskan untuk berkebun di dekat rumahnya. Dia menanam berbagai macam sayuran, seperti kacang, kangkung, dan lainnya.

Dia berharap hasil kebun ini bisa menjadi modal agar bisa menikah nantinya. Modal inilah yang dia gunakan untuk meminang gadis desa nantinya.

Anak laki-laki ini mulai berkebun dengan giatnya. Hari-harinya dihabiskan untuk mengolah lahan yang ada di kebunnya tersebut.

Beberapa bulan berlalu, musim panen akhirnya tiba. Sayuran yang ditanam mulai menampakkan hasilnya.

Anak laki-laki ini tentu senang melihat hal itu. Dia pun bersiap untuk memanen semua hasil kebun besok hari.

Namun apa yang dia pikirkan tidak terjadi sama sekali. Ketika dia kembali ke kebun keesokan harinya, semua sayuran yang dia tanam sudah habis tidak tersisa.

Anak laki-laki ini pun emosi melihat hal itu. Dia berniat untuk menghabisi binatang yang sudah merusak kebunnya.

Dia pun memasang perangkap di setiap sisi kebun. Keesokan hari, dia melihat seekor pelanduk betina yang terjerat di perangkapnya.

baca juga

Anak laki-laki ini bersiap menghabisi pelanduk itu. Namun saat mendekat, dia melihat dua anak pelanduk yang terdiam di dekat induknya.

Dua ekor anak pelanduk itu memakan apa yang diberikan oleh induknya. Pemandangan ini ternyata mengetuk hati anak laki-laki itu.

Dia pun teringat dengan perjuangan sang ibu yang membesarkannya seorang diri. Dia pun membatalkan niat untuk menghabisi pelanduk betina itu.

Anak laki-laki itu melepaskan pelanduk betina itu. Dia berpesan agar pelanduk itu tidak menghabiskan semua isi kebunnya agar bisa menikah kelak.

Pelanduk betina ini seakan paham dengan ucapan anak laki-laki tersebut. Dia pun menari bersama anak-anaknya seakan mengucapkan rasa terima kasih karena dibiarkan kembali berkumpul bersama.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

IJ
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.