Ada sebuah cerita rakyat dari Sulawesi Tengah yang berkisah tentang petaka pada saat malam purnama. Cerita rakyat ini menceritakan murka alam yang terjadi saat malam purnama akibat perilaku dua orang yang tidak pada tempatnya.
Kejadian di masa lalu ini kemudian berkembang sebagai salah satu mitos yang diwariskan secara turun temurun di tengah masyarakat. Lantas bagaimana kisah lengkap dari cerita rakyat Sulawesi Tengah tersebut?
Petaka di Malam Purnama, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tengah
Dinukil dari buku Suparman Tampuyak yang berjudul Kesik: Kumpulan Cerita Rakyat Saluan, alkisah pada zaman dahulu ada sebuah kampung yang bernama Dalagan. Kampung ini berada dekat di pinggir pantai.
Saat malam purnama tiba, masyarakat Dalagan akan keluar dari rumah mereka. Masyarakat akan menghabiskan malam di luar rumah sembari menikmati cahaya rembulan.
Anak-anak akan banyak bermain di pinggir pantai. Mereka akan membuat perahu dari sabut kelapa dan memainkannya bersama.
Hal yang sama juga dilakukan oleh para pemuda pemudi. Para remaja ini bersenang-senang sambil bernyanyi bersama.
Begitulah kehidupan saat malam purnama di Kampung Dalagan. Semua masyarakat saling berinteraksi antara satu sama lain dengan hangatnya.
Pada malam itu, ada dua orang pemuda yang berniat untuk pergi ke laut. Kondisi laut yang tenang waktu itu membuat mereka yakin akan mendapatkan tangkapan yang banyak.
Kedua pemuda ini kemudian mempersiapkan semua peralatan yang dibutuhkan. Setelah itu mereka langsung pergi ke laut.
Sesampainya di tengah laut, kedua pemuda ini langsung memasang alat-alat yang dibutuhkan. Dengan sabar kedua pemuda itu menunggu hasil tangkapan.
Namun realita yang terjadi jauh dari harapan. Bukannya mendapatkan banyak ikan, mereka hanya berhasil menangkap satu ekor gurita saja.
Akhirnya mereka kembali lagi ke pantai. Walaupun mendapatkan tangkapan sedikit, mereka tetap bersyukur atas hasil itu.
Begitu tiba di pantai, ternyata semua masyarakat sudah beristirahat di rumah masing-masing. Terlebih malam itu memang sudah larut.
Salah seorang pemuda kemudian berkata jika dia akan membakar gurita saat itu juga. Dirinya khawatir jika besok gurita itu sudah tidak enak lagi rasanya.
Teman pemuda itu hanya bisa mengikuti keinginannya saja. Mereka kemudian mempersiapkan kayu bakar dan memasak gurita itu.
Pada awalnya situasi berlangsung baik-baik saja. Kedua pemuda ini memasak gurita hasil tangkapan mereka.
Namun situasi ini ternyata hanya sementara. Perilaku kedua pemuda ini ternyata memancing marabahaya tidak lama kemudian.
Tiba-tiba cuaca di pantai langsung berubah drastis. Cuaca yang awalnya cerah berubah menjadi badai kencang.
Perapian yang dibuat oleh pemuda ini ikut terdampak. Karena ketakutan, kedua pemuda ini langsung lari ke Kampung Dalagan.
Di sana mereka bertemu dengan salah seorang warga. Begitu mengetahui apa yang terjadi, kedua pemuda tersebut disuruh menghadap Si Biang, orang pintar yang ada di sana.
Ternyata kedua pemuda ini sudah membuat alam murka. Si Biang kemudian menyuruh mereka kembali ke pantai dan membuang celana.
Setelah itu, Si Biang melakukan ritual adat agar kondisi alam kembali tenang. Untungnya situasi kembali normal setelah ritual dilakukan.
Kedua pemuda ini menjadi merasa bersalah atas apa yang sudah mereka lakukan. Meskipun alam sudah kembali tenang, mereka berjanji tidak akan mengulangi perbuatan tersebut di masa depan nantinya.
Sejak saat itu muncul kepercayaan di masyarakat agar tidak membakar gurita saat malam purnama tiba. Dengan demikian, mereka tidak mendapatkan petaka pada malam purnama tersebut.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


