Ini Kopi Tuli, kedai kopi yang seluruh pegawainya, dari kasir sampai peracik kopi adalah teman Tuli. Memesan kopi di sini berarti belajar bahasa isyarat secara spontan, terutama saat memesan.
Kopi Tuli berdiri pada 12 Mei 2018, digagas tiga sahabat yang sama-sama Tuli, yakni Putri Sampaghita Trisnawinny Santoso, Andhika Prakoso, dan Tri Erwinsyah Putra (Erwin).
Awalnya, usaha ini murni soal hobi ngopi si Andhika. Mereka mencanangkan untuk membangun warung kopi. Akan tetapi, mereka sadar, bisnis kopi sudah menjamur di mana-mana. Lalu, bagaimana caranya mereka bersaing jika membangun usaha yang sama? Putri, yang akrab disapa Thie, punya jawabannya.
"Saya tenangkan Adhika, 'tenang saja kita buat konsep yang berbeda'," kenang Putri, seperti dikutip VOA Indonesia.
Konsep yang dimaksud Putri adalah pemberdayaan. Mereka melihat lapangan kerja bagi teman Tuli masih sangat terbatas di Indonesia. Maka lahirlah kedai kopi yang seluruh krunya adalah Tuli. Sekarang, mereka sudah punya beberapa cabang yang berada di BSD, Tebet, dan Pasar Santa.
Kopi dengan Nama-Nama yang Bikin Penasaran
Koptul menyediakan gambar bahasa Isyarat di beberapa titik. Mereka juga menghadirkan gambar Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) di setiap gelas. Gambar itu menjadi identitas visual sekaligus alat edukasi. Andhika sengaja merancangnya begitu, seperti dijelaskannya dalam kanal YouTube Filantropi.
"Sejauh ini, respons konsumen sangat senang dan mereka jadi penasaran untuk mempelajari bahasa isyarat... saat mereka duduk-duduk dan tertarik untuk belajar bahasa isyarat, saya akan datang dan mengajari mereka," kata Andhika.
Untuk menarik komuniikasi lebih jauh dengan pelanggan, Koptul menghadirkan menu dengan nama-nama unik, di antaranya Kosu Koso, Daun Susu, Marmer Hitam, Kopi Awan. Daun susu ternyata bukan daun sungguhan, melainkan matcha. Tanah susu bukan tanah, tapi cokelat susu.
"Biar ada penasaran... kenapa enggak tulis 'greentea' saja? Biar ada pertanyaan, interaksi," jelas Putri kepada Kompas.com.
Menurutnya, itulah inti tujuan Kopi Tuli, yakni menjembatani teman dengar dengan teman Tuli lewat komunikasi.
Meski demikian, tujuan itu tidak selalu berjalan mulus. Erwin, salah satu pendiri, pun merasakan tantangannya, ketika pelanggan bicara terlalu cepat. Sebab, teman Tuli membaca gerak bibir lawan bicara.
"Kalau ada konsumen dengar berbicara dengan cepat saat memesan makanan, saya cukup kesulitan untuk memahami apa yang diucapkan," ujar Erwin
Untuk mengatasi itu, tak jarang Erwin meminta pelanggan mengetik pesanan di ponsel, menulis di kertas, atau bicara lebih pelan.
Pengalaman Sulitnya Mencari Kerja
Cerita Aldila, salah seorang pekerja di kedai ini mungkin menggambarkan kenapa Kopi Tuli lahir. Ia tahu persis sulitnya mencari pekerjaan karena perbedaan yang ia sandang.
"Ketika mencari pekerjaan, saya sudah melamar ke 3 perusahaan tapi ditolak karena (kemampuan) bicara saya kurang. Dan saya merasa ada sedikit diskriminasi," ujar Aldila.
Putri menilai, kesenjangan ini nyata. Pengalaman itu bukan milik Aldila seorang. Mayoritas penyandang disabilitas lainnya juga merasakan hal serupa, khususnya yang sama-sama tuli. Bahkan, dirinya sendiri menghitung sekitar 500 penolakan yang ia alami ketika mencari kerja. Makanya, ketika tidak mendapat kesempatan, ia memutuskan untuk membuat kesempatan bagi teman-teman lewat Koptul.
“Perusahaan ini kami bangun untuk menampung penyandang disabilitas seperti kami yang sulit mendapatkan pekerjaan,” katanya, sebagaimana dikutip dari Warta Kertas.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


