kisah isra difabel tuli yang menunggu 3 tahun untuk ke bogor hingga bisa mendengar takbiran pertama kalinya - News | Good News From Indonesia 2026

Kisah Isra, Difabel Tuli yang Menunggu 3 Tahun untuk ke Bogor hingga Bisa Mendengar Takbiran Pertama Kalinya

Kisah Isra, Difabel Tuli yang Menunggu 3 Tahun untuk ke Bogor hingga Bisa Mendengar Takbiran Pertama Kalinya
images info

Kisah Isra, Difabel Tuli yang Menunggu 3 Tahun untuk ke Bogor hingga Bisa Mendengar Takbiran Pertama Kalinya


“…Sekarang, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku bisa mendengar suara takbiran,” kata Isra.

Isra, seorang laki-laki berusia 29 tahun yang terlahir tuli. Ia anak tunggal dari keluarga sederhana di Padang, Sumatera Barat. Ayahnya buruh, sedangkan ibunya membuka warung kecil.

Isra memilih pergi jauh dari rumah untuk memperbaiki hidupnya. Dari Padang, Sumatera Barat ke Cibinong, Kabupaten Bogor, Isra membuka perjalanannya sendiri dimulai dari mengikuti pelatihan.

Ia bahkan pantang pulang saat lebaran sebelum bisa membawakan hasil jerih payahnya

“Aku tidak mau pulang sebelum bisa bawa uang untuk orang tuaku,” katanya lewat bahasa isyarat.

Sebenarnya, sebelum ke Bogor, Isra sempat bekerja sebagai staf gudang di pusat perbelanjaan di Padang. Ia menangani stock opname.

Stock opname adalah proses pencatatan ulang jumlah barang di gudang untuk memastikan data sesuai dengan kondisi ril di lapangan.

Pekerjaan itu memberinya pengalaman, tapi belum cukup stabil. Ia ingin lebih.

baca juga

Tiga Tahun Menunggu Kesempatan

Perjalanan Isra untuk sampai ke Bogor jelas tidak mudah. Ia harus menunggu tiga tahun untuk bisa masuk pelatihan vokasional di Sentra Terpadu Inten Soeweno (STIS), Cibinong, Kabupaten Bogor, unit layanan di bawah Kementerian Sosial.

Pelatihan vokasional adalah program pengembangan keterampilan kerja. Tujuannya membuat peserta siap masuk dunia kerja.

Isra memilih jurusan contact center. Bidang ini biasanya berkaitan dengan layanan pelanggan, komunikasi, dan pengelolaan informasi. Bagi difabel tuli, ini bukan pilihan mudah karena inti pekerjaannya adalah komunikasi.

Sedangkan, sejak kecil, Isra hidup dalam dunia tanpa suara. Ia mengandalkan penglihatan dan bahasa isyarat untuk memahami lingkungan. Artinya, komunikasi tidak terjadi secara verbal.

Meski dengan keterbatasan itu, di lingkungan pelatihan, ia dikenal tekun nan disiplin. Ia mengikuti workshop, tinggal di asrama, dan aktif membantu teman-temannya sesama tuli, terutama saat ada hambatan komunikasi.

Beberapa waktu kemudian, STIS memberikan Isra alat bantu dengar.

Alat bantu dengar adalah perangkat elektronik yang memperkuat suara agar bisa ditangkap oleh telinga. Bagi orang yang mengalami gangguan pendengaran, alat ini bisa menjadi jembatan pertama menuju dunia suara.

Tapi bagi yang tuli sejak lahir, kegiatan mendengarkan butuh adaptasi. Otak harus belajar mengenali suara yang sebelumnya asing. Meski demikian, bagi Isra, itu cukup untuk mengubah banyak hal.

“Dari yang biasanya cuma bisa melihat gerakan, sekarang sudah lebih lancar komunikasi,” katanya.

Saat malam Idulfitri, Isra akhirnya bisa mendengarkan suara gema takbir.

baca juga

Lolos, Isra Segera Meraih Mimpinya

Tanggal 13 Maret 2026 menjadi salah satu hari penting dalam hidupnya. Isra dinyatakan lulus sebagai kandidat cleaning service di Mandiri Contact Center.

Ia dijadwalkan mulai bekerja pada 1 April 2026. Bagi Isra, ini adalah pintu masuk menuju kemandirian.

baca juga

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.