bermula dari gabah yang tercecer kakek 82 tahun di gunungkidul ciptakan sawah rongsok dari galon bekas - News | Good News From Indonesia 2026

Bermula dari Gabah yang Tercecer, Kakek 82 Tahun di Gunungkidul Ciptakan Sawah Rongsok dari Galon Bekas

Bermula dari Gabah yang Tercecer, Kakek 82 Tahun di Gunungkidul Ciptakan Sawah Rongsok dari Galon Bekas
images info

Metode Sawah Rongsok memanfaatkan galon bekas sebagai media tanam padi, menawarkan solusi bercocok tanam di wilayah minim lahan dan air.


Waktu itu, segenggam gabah kering jatuh dan tercecer di tanah pekarangan rumah. Beberapa hari kemudian, Suhantara, kakek berusia 82 tahun asal Susukan II, Genjahan, Ponjong, Gunungkidul, mendapati gabah-gabah itu tumbuh jadi bibit padi.

"… gabah kering saya bawa ke rumah dan ternyata ada yang tercecer di tanah. Yang gabah tercecer itu tumbuh jadi benih (padi)," kata Suhantara, sebagaimana dikutip dari detikJogja, Selasa (7/7/2026).

Siapa sangka, kejadian tak sengaja itu dikembangkan lebih serius lagi dan jadi gerakan pertanian yang kini mulai ditiru tetangga-tetangganya. Namanya sawah rongsok. Sistemnya, para petani tidak menanam padi di hamparan sawah, melainkan di dalam galon dan kaleng bekas.

baca juga

Dari Kaleng Kecil Kini Jadi Ratusan Galon

Setelah melihat gabah yang tercecer itu tumbuh, Suhantara penasaran. Ia melakukan percobaan dengan menanam bibit padi varietas Inpari-24 di beberapa kaleng bekas yang ada di rumahnya.

"Kaleng isi benih itu saya siram dengan rutin dan ternyata bisa tumbuh baik. Nah, karena tumbuh baik terus punya ide lagi untuk memperbesar medianya, karena kalau kaleng itu kan kecil," ujarnya.

Dari situ ia beralih ke galon bekas air mineral, karena wadahnya bisa menampung tanah jauh lebih banyak dibanding kaleng.

"Saya beli sekitar 100 galon ada sepertinya, harganya Rp2 ribu per galon. Lalu galon-galon itu saya isi tanah, tanahnya sembarang saja dan diberi pupuk kandang sama sedikit pupuk kimia lalu diberi benih padi," ucapnya.

Bagian atas galon dipotong hingga menyerupai pot. Perawatannya pun disamakan seperti menanam padi di sawah sungguhan—hanya bedanya, kalau air di dalam galon berkurang, tinggal disiram lagi sampai penuh. Dari situlah nama sawah rongsok tercetus karena media tanamnya berasal dari sampah bekas yang disebut rongsok.

"Jadi seperti menanam padi di sawah sebenarnya, hanya kalau ini pakai galon... karena pakai galon dan kaleng bekas maka ini saya sebut sawah rongsok," katanya.

baca juga

Solusi Bertani di Kawasan Minim Air

Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono, mengatakan metode ini berpotensi menjadi solusi bagi daerah yang memiliki keterbatasan lahan sawah dan sumber air. Hal itu dinilai relevan mengingat Gunungkidul merupakan wilayah yang didominasi bentang alam karst berbatu kapur, sehingga dikenal memiliki kondisi lahan yang cenderung kering.

"Ini bisa menjadi solusi keterbatasan lahan. Sebab, dengan 100 galon bekas air mineral sudah bisa menghasilkan 30-40 kilogram gabah kering giling. Pemeliharaannya juga mudah dan lebih irit air," katanya.

Ia menambahkan, metode ini bisa dikembangkan di wilayah mana pun karena tidak bergantung pada ketersediaan air yang melimpah.

"Metode sawah rosok juga bisa memanfaatkan lahan di sekitar rumah karena praktis dan bisa untuk memperkuat program ketahanan pangan dalam keluarga," ujarnya.

baca juga

Berapa Sebenarnya Hasil Panennya?

Berdasarkan pengubinan yang dilakukan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul saat panen perdana, setiap pot galon mampu menghasilkan sekitar 400 gram gabah kering giling. Satu pot diisi tiga bibit benih padi Inpari-24 dengan usia tanam sekitar 115 hari.

"Satu pot galon diisi dengan tiga bibit benih padi. Untuk jenis yang ditanam padi varietas Inpari-24 dengan usia tanam sekitar 115 hari," kata Raharjo.

Sebagai gambaran, Inpari-24 sendiri merupakan varietas unggul baru hasil pemuliaan Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian, dengan umur tanaman sekitar 111 hari dan bentuk tanaman tegak setinggi kurang lebih 106 cm, menurut dokumen deskripsi varietas unggul padi yang diterbitkan Kementerian Pertanian.

Sementara itu, dari catatan Suhantara sendiri setelah empat kali panen sejak 2025, angkanya sedikit berbeda tergantung jenis bibit yang dipakai.

"Hasil panen satu galon dengan isi tiga tanaman padi bisa menghasilkan sekitar 130 gram gabah kering panen. Untuk jenis padi hibrida yang sudah dicobakan tanam lebih lebat dengan 1 bibit bisa mencapai 30 anakan, itu belum umur panen, kalau sudah panen bisa 300-400 gram gabah kering panen per galon," jelasnya.

Dengan kata lain, jika dikalikan hingga 100 galon, total panen bisa mencapai 30-40 kilogram gabah kering—angka yang diakui dua sumber berbeda, baik dari Dinas Pertanian maupun perhitungan Suhantara sendiri.

Memang bukan angka besar dibanding hasil sawah konvensional per hektare, tapi cukup berarti untuk lahan pekarangan rumah yang sebelumnya tidak produktif sama sekali.

baca juga

Perawatan Murah, Modal Cuma Beli Galon

Salah satu daya tarik sawah rongsok adalah biayanya yang murah. Suhantara menyebut, pupuk NPK yang dibutuhkan tiap pot cuma setengah sendok makan, dan hanya diberikan sekali selama masa tanam sampai panen.

"Pemupukan ini hanya sekali sampai panen. Hasilnya juga bagus," katanya.

Karena itu pula, ia sengaja membuka pintu rumahnya bagi siapa pun yang ingin belajar langsung.

"Saya berharap banyak orang yang mengikuti apa yang saya lakukan. Kalau mau belajar, monggo datang ke rumah saya nanti belajar bersama. Apalagi biayanya murah, paling hanya beli galon saja sama beli pupuk," ujarnya.

baca juga

Bukan Sekadar Solusi Pangan, tapi Juga Solusi Sampah

Selain bicara hasil panen, Suhantara juga punya alasan lain di balik idenya, yakni mengurangi tumpukan sampah plastik di rumah warga.

"Saya berpikir, daripada dibuang, kenapa tidak dijadikan pot untuk menanam padi? Akhirnya kami coba, dan ternyata berhasil tumbuh subur," ujarnya.

Ia menegaskan, gagasan ini ingin membuktikan bahwa barang yang selama ini dianggap sampah sebenarnya masih bisa punya nilai guna.

"Kami ingin membuktikan bahwa sampah bisa jadi sumber pangan, bukan sekadar masalah," katanya.

Pendekatan semacam ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, yaitu upaya memperpanjang umur pakai suatu barang alih-alih langsung membuangnya begitu selesai dipakai. Di banyak daerah, galon dan botol plastik bekas biasanya berakhir di tempat pembuangan sampah atau menumpuk bertahun-tahun karena sulit terurai. Di tangan Suhantara, barang-barang itu berubah fungsi jadi wadah tanam yang produktif.

baca juga

Sudah Ditiru 8 Tetangga

Perlahan, ide Mbah Suhan mulai menular. Saat ini sudah ada delapan anggota Gapoktan Genjahan Makmur—kelompok tani yang dipimpinnya—yang ikut menanam padi memakai galon bekas di pekarangan rumah masing-masing.

"Mudah-mudahan jumlahnya semakin banyak dan orang-orang yang tertarik menanam padi pakai galon juga tambah banyak," ujarnya.

Gapoktan Genjahan Makmur sendiri turut mendampingi proses budi daya ini secara kelompok, bukan sekadar eksperimen pribadi Suhantara. Dengan begitu, sawah rongsok punya potensi berkembang jadi gerakan kolektif warga Ponjong dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga dari lahan sekecil apa pun.

Suhantara sendiri realistis. Ia mengakui sawah rongsok belum bisa menggantikan sawah konvensional dalam skala besar. Hasilnya pun jauh lebih kecil dibanding sawah beririgasi yang bisa menghasilkan berton-ton gabah per hektare.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.