Selama puluhan tahun, tanaman nyamplung cuma dianggap penghias pantai karena buahnya tidak bisa langsung dimakan. Sekarang, tanaman itu jadi rebutan tiga industri sekaligus: kosmetik, pakan ternak, dan bahan bakar pesawat. Itulah nasib nyamplung, atau yang lebih dikenal secara internasional dengan nama tamanu (Calophyllum inophyllum).
Aktris Maudy Ayunda mengumumkan lewat Instagram pribadinya bahwa ia bersama Fakultas Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) resmi mengajukan paten bersama untuk inovasi produk berbahan nyamplung.
"Dan dua minggu lalu, perjalanan itu mencapai satu milestone baru: kami mengajukan paten bersama!!" tulisnya dalam unggahan pada Selasa (7/7/2026).
Perlu Waktu Tiga Tahun Riset
Kolaborasi riset antara Maudy dengan Fakultas Farmasi ITB sebenarnya sudah berjalan sejak 2023. Fokusnya adalah mengembangkan potensi nyamplung untuk produk perawatan kulit, mulai dari standardisasi bahan baku, metode ekstraksi, hingga pemurnian polifenol tamanu.
Direktur Riset dan Inovasi (DRI) ITB, Prof. Dr. apt. Elfahmi, menjelaskan bahwa tim peneliti memanfaatkan senyawa calophyllolide sebagai bahan aktif utama dalam formulasi produk kecantikan. Bagi orang awam, calophyllolide adalah salah satu senyawa alami dalam minyak nyamplung yang dikenal punya sifat anti-inflamasi dan menenangkan kulit.

Maudy Ayunda saat berada di ITB
Tahun 2026 ini, paten resmi terkait metode produksi polifenol dari biji nyamplung berhasil diajukan.
"Kerja sama ini telah menghasilkan paten resmi pada tahun 2026 terkait metode produksi polifenol dari biji nyamplung. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa hasil penelitian di lingkungan kampus dapat memiliki nilai ekonomi dan manfaat langsung bagi industri jika dikelola melalui tahapan pengembangan yang tepat," tulis pernyataan DRI ITB.
Riset ini juga melibatkan EBM Scitech dan PT Inovasi Alam Nusantara, perusahaan di balik merek perawatan kulit From This Island—brand yang ternyata ikut dirintis Maudy Ayunda sebagai Co-Founder. Maudy sendiri tampak bangga bisa terlibat dalam proses ini.
"Suatu kebahagiaan pribadi bagi saya untuk bekerja dengan para profesor luar biasa dari berbagai bidang dan spesialisasi akademik yang percaya bahwa ahli botani Indonesia dapat menjadi pemimpin inovasi," ungkap alumnus Oxford dan Stanford ini.
Bukan Tanaman Pangan, Tapi Kaya Manfaat
Nyamplung sejak awal memang bukan tanaman pangan. Pohon ini tersebar luas di pesisir Indonesia, dari Sumatra hingga Papua, dan justru dikenal tahan hidup di kondisi lingkungan ekstrem, termasuk lahan marginal yang tidak cocok untuk tanaman pangan lain.
Biji nyamplung selama ini diolah menjadi minyak nabati yang disebut tamanu crude oil (TCO). Dosen Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Ir. Dimas Hand Vidya Paradhipta, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPP., menjelaskan bahwa TCO punya banyak fungsi sekaligus.
"Sebagai produk komestik dan obat-obatan, TCO dapat digunakan sebagai biofuel dan saat ini telah digunakan untuk perawatan wajah maupun bahan obatan-obatan herbal yang sangat diminati di Indonesia," papar Dimas, sebagaimana dikutip dari laman UGM.
Limbahnya Pun Tak Terbuang, Jadi Pakan Ternak
Proses produksi TCO menyisakan limbah bernama bungkil. Alih-alih dibuang, limbah ini justru terbukti berguna sebagai pakan ternak ruminansia seperti sapi dan domba.
Riset tim dosen Fapet UGM bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) lewat hibah program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) 2023–2025 menemukan bahwa bungkil biji nyamplung mampu menurunkan produksi gas metan pada ternak secara in vitro. Ini jadi kabar baik di tengah upaya global menekan emisi gas rumah kaca dari sektor peternakan.
Dari sisi kandungan gizi, bungkil biji nyamplung memiliki protein kasar sekitar 20%, lemak kasar 15,3%, total phenol 6,47%, dan total flavonoid 1,70%. Sayangnya, kandungan serat kasarnya yang mencapai hampir 18%vmembuat bungkil ini belum direkomendasikan untuk pakan unggas. Dimas berharap perbaikan metode pengepresan, dari sistem hidrolik ke screw press expeller, bisa menurunkan kadar serat tersebut di masa depan.
Kandidat Bahan Bakar Pesawat Masa Depan
Cerita nyamplung belum selesai di situ. Peneliti Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Budi Leksono, mengungkap potensi lain yang jauh lebih besar skalanya, sebagai bahan bakar nabati untuk penerbangan.
"Minyak nyamplung berpotensi diolah menjadi biokerosin, biodiesel, hingga bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang saat ini menjadi kebutuhan penting dalam agenda transisi energi global. Biji nyamplung dapat mengandung minyak hingga 60–70 persen," ujar Budi.
Menurutnya, keunggulan nyamplung bukan cuma soal kadar minyaknya yang tinggi, tapi juga karena tanaman ini bisa tumbuh di lahan kritis tanpa bersaing dengan lahan pangan. BRIN bahkan mengembangkan pendekatan ekonomi sirkular penuh: tempurung dan ampas biji diolah jadi pellet, biochar, arang aktif, dan pakan ternak berprotein tinggi, sementara residu cair seperti resin dan gliserol diolah menjadi bahan biofarmaka dan sabun.
"Pengembangan nyamplung tidak hanya berorientasi pada produksi energi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi rehabilitasi lahan dan peningkatan nilai ekonomi kawasan," jelas Budi.
Kenapa Ini Penting bagi Masyarakat Pesisir
Di luar nilai ilmiah dan bisnisnya, potensi sosial dari kebangkitan nyamplung ini layak digarisbawahi. Masyarakat di wilayah pesisir dan lahan kritis berpeluang terlibat langsung dalam budidaya, pengumpulan buah, hingga pengolahan bahan baku sehingga membuka lapangan kerja baru sekaligus memperkuat rantai pasok bioenergi dalam negeri.
Dari paten kecantikan Maudy Ayunda hingga ambisi bahan bakar pesawat rendah emisi, nyamplung menunjukkan bagaimana biodiversitas Indonesia bisa disulap jadi aset ekonomi bernilai global—asalkan riset dan hilirisasinya dikelola serius.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


