Live 16 jam sehari selama tiga hari berturut-turut jelas bukan pekerjaan ringan. Itulah yang dilakukan Sinada atau Ma’e Arik pada kampanye 8.8 tahun 2021. Akan tetapi, usahanya itu lah yang pada akhirnya membawa Ma’e bangkit.
Saat banyak orang yang masih menganggap program afiliasi sekadar pekerjaan sambilan; Ma’e Arik, perempuan asal Madura ini memilih untuk lebih mendalami pekerjaannya. Ma’e menjadikan siaran langsung di TikTok sebagai jalan keluar dari kesulitan ekonomi keluarga.
Ma’e Arik dan suaminya, Siswanto, pernah berada di titik ketika warung yang mereka buka sendiri kehabisan stok barang dan kesulitan modal untuk mengisi kembali dagangan.
Setelah konsisten dan sukses jadi affiliator, Ma’e Arik berhasil menjual lebih dari 3.000 barang.
Kisah pasangan lulusan Madrasah Tsanawiyah (MTS) ini memperlihatkan bagaimana perubahan ekonomi digital tidak hanya dinikmati artis atau influencer besar. Orang biasa pun bisa ikut naik kelas jika memahami cara kerja platform digital.
Program Afiliasi yang Kini Dilirik Banyak Orang
Program afiliasi jadi salah satu model pemasaran digital yang dinilai paling mudah dilakukan oleh warga. Data dari Populix pada Juni 2024 menunjukkan bahwa 67% responden di Indonesia melihat program afiliasi sebagai sumber penghasilan yang menjanjikan. Angka ini memperlihatkan perubahan pola pikir masyarakat terhadap pekerjaan digital.
Banyak orang mulai melihat internet bukan hanya tempat hiburan, tetapi juga sumber penghasilan baru. Tidak terbatas pada anak muda, bahkan generasi yang lebih tua pun bisa turut andil.
Sistemnya cukup mudah, seseorang mempromosikan produk milik penjual, lalu mendapatkan komisi dari setiap transaksi yang berhasil dilakukan melalui tautan atau akun mereka. Sederhananya, affiliator bukan pemilik barang. Mereka menjadi perantara promosi antara penjual dan pembeli.
Fenomena ini makin besar setelah platform e-commerce dan media sosial mulai menyatu. TikTok Shop misalnya, membuat promosi tidak lagi berbentuk foto statis atau iklan biasa. Kreator bisa langsung menjelaskan produk sambil berinteraksi dengan penonton lewat siaran langsung.
Berawal dari Scroll TikTok
Sebelum dikenal sebagai kreator affiliate besar, Ma’e Arik menjalani kehidupan yang sangat sederhana. Suaminya bekerja sebagai sopir, sementara mereka juga pernah bertani sebelum akhirnya merantau ke Jakarta pada 2019.
Di ibu kota, mereka menjaga warung Madura milik saudara Siswanto di Jakarta Pusat. Setelah itu, pasangan ini mencoba membuka warung sendiri pada 2021.
Usaha tersebut tidak langsung berjalan mulus. Modal terbatas membuat mereka kesulitan mempertahankan stok barang. Situasi itu membuat Ma’e Arik mulai mencari peluang lain lewat internet.
“Awalnya saya hanya scroll-scroll di TikTok. Saat itu, saya melihat beberapa kreator menjual kopi yang sedang naik daun. Dari situ, saya tertarik untuk bergabung sebagai afiliasi,” kata Ma’e Arik dalam keterangannya.
Dari situ, ia mulai mencoba masuk ke program affiliate TikTok Shop.
Dalam prosesnya, Ma’e Arik sempat mendaftarkan tiga akun berbeda. Ia memakai namanya sendiri, nama anaknya, dan nama suaminya. Namun, hanya akun “Siswanto140688” yang diterima platform.
Komisi Rp100 Ribu per Minggu yang Jadi Titik Awal
Pada awal bergabung, penghasilannya jauh dari fantastis. Ia pun mengaku penontonnya dulu hanya sekitar 5 sampai 15 orang.
“Waktu pertama kali live, penonton hanya sekitar 5-15 orang. Namun sekarang, penonton bisa mencapai 6.400 orang. Saya selalu percaya bahwa rezeki sudah ada yang mengatur,” ujar Ma’e Arik.
Komisi yang diterima Ma’e Arik hanya sekitar Rp100 ribu per minggu. Alih-alih menyerah, Ma’e Arik mulai mempelajari pola siaran langsung.
Ia memahami bahwa live streaming bukan sekadar menawarkan barang. Kreator harus mampu menjaga interaksi dengan penonton dalam waktu lama. Mereka juga harus memahami cara berbicara yang membuat audiens bertahan menonton.
“Saya bukan penjual langsung, melainkan affiliator. Saya hanya memasarkan produk dari seller,” jelasnya.
Dalam dunia live commerce, konsistensi sangat penting. Kreator harus rutin muncul agar algoritma platform terus merekomendasikan akun mereka kepada pengguna lain.
Ma’e Arik membuktikan itu saat kampanye 8.8 tahun 2021. Ia live hingga 16 jam sehari selama tiga hari berturut-turut. Strategi itu berhasil menghasilkan ribuan transaksi dan membuat TikTok mulai melirik akunnya.
Dari Warung Kecil ke Top Creator TikTok Shop
Perjalanan Ma’e Arik terus berkembang. Pada 2023, akun mereka masuk kategori Top Creator. Setahun kemudian, mereka berhasil masuk jajaran Top 5 Creator Affiliate Shop di TikTok Shop Tokopedia.
Puncaknya terjadi pada kampanye Guncang 12.12 tahun 2024. Dalam sesi live selama 24 jam, mereka berhasil mencatat sekitar 40 ribu pesanan. Angka ini menunjukkan bagaimana live commerce kini menjadi salah satu mesin ekonomi baru di Indonesia.
Keberhasilan Ma’e Arik juga membawanya masuk nominasi TikTok Awards kategori Shop Tokopedia Creator pada 2024.
Mereka bahkan meraih Top Creator Beli Lokal Awards dalam acara TikTok Shop Tokopedia Summit karena dinilai berkontribusi mendukung UMKM lokal.
Fenomena affiliate marketing ini memperlihatkan bagaimana ekonomi digital membuka lapangan kerja baru yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.
Namun, profesi ini juga tidak selalu mudah. Kreator harus menghadapi persaingan ketat, perubahan algoritma platform, hingga tekanan menjaga performa penjualan.
Karena itu, keberhasilan Ma’e Arik bukan hanya soal viral sesaat. Ada proses panjang, kerja keras, dan ketahanan mental di balik layar siaran langsung yang ditonton ribuan orang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


