Menjelang Hari Raya Iduladha, umat Islam biasanya akan berbondong-bondong membeli hewan ternak seperti sapi atau kambing untuk dikurbankan. Berkurban di Hari Raya Iduladha memang dianjurkan bagi umat Islam yang dianggap mampu secara finansial.
Dalam berkurban, bukan hanya kesehatan hewannya saja yang harus diperhatikan, tapi juga tempat fasilitas pemotongan hewan, khususnya penampungan kambing atau sapi. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan agar pelaksanaan kurban berjalan sesuai dengan prinsip ihsan atau kesejahteraan hewan (animal welfare).
Lalu, bagaimana seharusnya mempersiapkan fasilitas pemotongan hewan kurban yang baik agar tetap sesuai dengan syariat sekaligus memperhatikan kesejahteraan hewan?
Perbaiki Fasilitas Penampungan Kurban
Melansir dari sebuah tulisan yang dipublikasikan di laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dosen Fakultas Peternakan IPB University, Henny Nuraini, mengatakan bahwa kesejahteraan hewan kurban sebetulnya harus dimulai sejak hewan ternak pertama kali diturunkan di lokasi pemotongan.
Menurutnya, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) atau panitia kurban perlu menyiapkan fasilitas penerimaan hewan secara memadai. Hal ini dikarenakan fasilitas penerimaan merupakan bagian dari rangkaian proses pemotongan yang baik.
Menurutnya, tahapan ini kerap hanya dianggap sebagai teknis semata. Padahal, hal tersebut sangatlah berpengaruh pada kenyamanan hewan dan kualitas penanganan kurban secara keseluruhan.
“Fasilitas pemotongan hewan, DKM atau panitia kurban harus menyiapkan tahapan proses penerimaan hewan,”jelas Henny.
Lebih lanjut, auditor Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) ini juga menjelaskan jika dalam proses penerimaan hewan kurban, panitia perlu menyiapkan tempat untuk menurunkan ternak atau rampa yang posisinya dekat dengan area penampungan.
Keberadaan rampa menurutnya sangat penting untuk menghindari cedera pada hewan ternak. Tak hanya itu, ramp juga bisa membantu mengurangi stres pada hewan saat proses bongkar muat.
Selanjutnya, Henny menekankan bahwa desain rampa pun tak boleh diabaikan. Permukaanya harus dibuat tidak licin, tidak memiliki celah yang berpotensi mencederai hewan, dan memiliki sudut kemiringan kurang dari 30 derajat agar ternak bisa turun dengan aman dan tidak mengalami tekanan berlebihan.
“Rampa dibuat tidak licin, tidak ada celah, sudut kemiringan kurang dari 30 derajat dan tidak melukai ternak,” imbuhnya.
Tak Perlu Mahal, Asal “Manusiawi” untuk Hewan
Penyediaan fasilitas bagi hewan kurban yang memenuhi prinsip kesejahteraan hewan dinilai Henny tak perlu mahal dan rumit. Meskipun dalam kondisi terbatas, menurutnya panitia tetap bisa melakukan modifikasi sesuai dengan keadaan lapangan selama prinsip ihsan tetap terpenuhi.
“Dapat dimodifikasi sesuai kondisi yang ada, contoh menggunakan papan atau tumpukan karung berisi pasir,” katanya.
Bagi Henny, perhatian pada tahap penerimaan hewan menunjukkan bahwa prinsip ihsan dalam kurban bukan hanya terkait dengan penyembelihan, tetapi juga mencakup seluruh rangkaian penanganan ternak sejak awal.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


