cara mengurangi sampah plastik agar pandawara group tak capek capek amat membersihkan sungai - News | Good News From Indonesia 2026

Cara Mengurangi Sampah Plastik agar Pandawara Group Tak Capek-Capek Amat Membersihkan Sungai

Cara Mengurangi Sampah Plastik agar Pandawara Group Tak Capek-Capek Amat Membersihkan Sungai
images info

Cara Mengurangi Sampah Plastik agar Pandawara Group Tak Capek-Capek Amat Membersihkan Sungai


Sampah plastik masih jadi masalah bagi lingkungan Indonesia. Penggunaannya yang masif dan sering kali bersifat sekali pakai menjadikan plastik bekas membuat kotor lingkungan, termasuk sungai.

Tak heran apabila kampanye untuk mengurangi sampah plastik ramai dilangsungkan banyak pihak. Dari pemerintah hingga swasta, terdengar seruan agar jangan banyak-banyak menggunakan plastik sekali pakai. Cara mengurangi sampah plastik pun beragam, mulai dari membawa wadah belanja sendiri hingga beralih ke bahan yang lebih ramah lingkungan seperti daun.

Ajakan untuk mengurangi sampah plastik juga datang dari Pandawara Group. Di tengah hiruk-pikuk kawasan Blok M, Jakarta Selatan, pada Jumat (24/04/2026) lalu, Muchamad Ikhsan Destian selaku salah satu anggota Pandawara Group berbagi motivasi kepada masyarakat untuk mengelola sampah plastik. Ia mengajak publik lebih bijaksana agar plastik bekas tidak berakhir menjadi beban lingkungan yang bocor ke alam liar.

Ikhsan menekankan bahwa upaya mengurangi sampah plastik dimulai dari kesadaran individu. Baginya, limbah adalah soal ketidakmampuan masyarakat dalam mengelola sisa konsumsi secara tuntas. Tanpa tanggung jawab kolektif dan pemilahan yang tepat, sisa kemasan yang digunakan setiap hari akan terus menggunung dan mencemari ekosistem tanpa ada ujungnya.

"Kalau menurut Pandawara sendiri yang menjadi limbah itu ketika misalkan tidak terkelola secara sepenuhnya. Jadi ketika misalkan kita sudah mengonsumsi suatu produk yang menghasilkan nantinya sampah plastik, ini seharusnya kita bijaksana dalam pengolahannya," ujar Ikhsan.

Apa yang disinggung Ikhsan menjadi krusial di tengah krisis sampah yang kian nyata. Apalagi, Pandawara Group sendiri sudah sering berbagi cerita tentang bagaimana peliknya masalah sampah terutama plastik di Indonesia. Kelompok yang berisikan para pencinta lingkungan itu kerap melakukan aksi bersih-bersih di berbagai tempat termasuk sungai. Saat mereka beraksi, tampak pula bagaimana plastik menjadi salah satu jenis sampah yang berperan dalam kotornya sungai di negeri ini.

baca juga

3R, Cara Mengurangi Sampah Plastik

Karena persoalan sampah plastik itu pula, Ikhsan mengajak masyarakat untuk menerapkan gaya hidup berkelanjutan. Adapun cara mengurangi sampah plastik yang bisa dilakukan masyarakat adalah reuse, reduce, recycle alias 3R. Ia menyoroti bahwa banyak barang yang dianggap sampah sebenarnya masih memiliki nilai guna jika masyarakat mau sedikit lebih teliti. Salah satunya adalah barang-barang sandang yang sering kali langsung dibuang padahal masih layak pakai.

"Ketika reuse, reduce, recycle, kita memanfaatkan kembali barang-barang yang tadinya masih ada nilai. Teman-teman harus diedukasi bahwa seperti baju atau misalkan yang masih layak pakai itu seharusnya bisa dimanfaatkan lagi. Masih bisa dipakai jangan sampai itu menjadi sampah," kata Ikhsan.

Selain memaksimalkan barang lama, langkah pencegahan atau reduce menjadi kunci utama dalam upaya mengurangi sampah plastik. Masyarakat didorong untuk mengubah kebiasaan harian, terutama saat berbelanja. Ikhsan memberikan saran praktis yang bisa langsung dipraktikkan oleh siapa saja tanpa perlu menunggu instruksi pemerintah:

"Terus prinsip reduce dengan kita mengurangi barang penggunaan sekali pakai seperti kita belanja ke pasar itu harusnya membawa tote bag untuk mengurangi sampah sekali pakai seperti plastik kresek dan yang lainnya," lanjutnya.

"Terus prinsip recycle yang di mana pemanfaatan plastik itu menjadi circular economy. Jadi sampah-sampah itu bisa dimanfaatkan kembali," katanya lagi.

Harus diakui, perjalanan menuju Indonesia bebas sampah plastik tentu memiliki tantangan, mulai dari faktor ekonomi hingga kesiapan masyarakat secara luas. Ikhsan mengakui bahwa mengubah perilaku massa dan menyesuaikan ekosistem ekonomi bukanlah perkara instan:

"Mungkin perlu waktu karena kita perlu ada transisi yang di mana biasanya untuk transisi pengalihan dari yang tadi ada faktor ekonomis yang harus bisa menyesuaikan, apakah masyarakat bisa secara masif menerima hal tersebut atau tidak. Jadi kita belum bisa menjawab bahwa itu menjadi solusi yang cepat," tutur Ikhsan.

"Untuk bisa mungkin bisa, cuman butuh waktu dan kita melihat ke sektor yang lain apakah ini tidak mengganggu ke perputaran ekonominya atau tidak," pungkasnya.

baca juga

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aulli Atmam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aulli Atmam.

AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.