Di kandang Mutiara Eva milik Adi Karnadi (33) yang terletak di Godegan, Tamantirto, Kasihan, Bantul itu, empat penyandang disabilitas direkrut khusus jadi tenaga pemasaran hewan kurban menjelang Idul Adha 2026. Bukan menjual rasa iba, tapi Adi meyakini bahwa lapangan kerja berhak diisi oleh siapapun.
Buktinya, para pembeli merasa cocok dengan pelayanan yang ditawarkan Adi dan rekannya.
“Pelayanannya bagus kok, mereka menguasai soal kambing yang sehat gimana, diolahnya gimana, dan penawarannya juga menarik,” kata Lurida (35), pembeli asal Bantul.
Awalnya Cuma Ingin Kasih Kesempatan
Adi mengaku sebenarnya sederhana saja alasannya merekrut pekerja difabel. Ia ingin membuktikan kalau keterbatasan fisik tidak otomatis bikin seseorang kehilangan kemampuan bekerja.
“Saya ingin membuktikan kalau difabel itu mampu, jadi saya beri kesempatan untuk difabel bekerja,” kata Adi di Bantul, Jumat (1/5/2026), sebagaimana dikutip dari Kompas.com.
Empat pekerja difabel yang direkrut tidak cuma disuruh duduk menjaga kandang atau bantu administrasi. Mereka malahan langsung ditempatkan di lini depan dan melayani pembeli.
Adi jelas paham risiko. Kalau pelayanan buruk atau pengetahuan kurang mumpuni, pembeli bisa kabur. Soalnya urusan kurban bukan perkara receh. Harga kambing di sana berkisar Rp2 juta sampai Rp7 juta.
Tapi Adi ternyata tidak salah pilih orang.
Mereka Hafal Cara Mengecek Kambing Layak Kurban
Adi tidak serta-merta menerjunkan orang awam untuk menjadi orang yang menawarkan produk. Sebelum mulai bekerja, para tenaga pemasaran ini dibekali pengetahuan soal hewan kurban. Mereka belajar mengenali kesehatan kambing sampai memahami istilah “powel”.
Buat yang jarang beli kambing kurban, powel adalah tanda pergantian gigi pada kambing. Biasanya dipakai untuk memastikan umur hewan sudah memenuhi syarat kurban atau belum. Mereka harus paham detail. Dan rupanya para pekerja itu serius belajar.
Adi bahkan mengaku sering heran dengan semangat mereka. Sebab beberapa pekerja harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk sampai ke kandang.
“Saya sempat tanya kenapa selalu semangat, dan mereka jawab karena betul-betul harus berjuang untuk keluarga,” ujar Adi.
Naik Bus Dua Jam Demi Bisa Kerja
Rubiyanto (30), salah satu pekerja, datang dari Kulon Progo. Untuk sampai ke kandang di Bantul, ia kadang harus naik bus atau diantar. Waktu tempuhnya sekitar dua jam.
Ada juga Ahmad Dodi (27), pengguna kursi roda yang sehari-hari berjualan kerajinan tangan secara online. Buat Dodi, pekerjaan musiman ini cukup membantu kebutuhan ekonomi.
“Alhamdulillah, saya merasa senang karena ekonomi saya terbantu,” katanya.
Apalagi, Adi tidak cuma memberi gaji tetap. Ia juga memberi bonus Rp100 ribu untuk setiap kambing yang berhasil dijual. Skema itu ternyata cukup memantik semangat bagi rekan-rekannya untuk memasarkan kambing-kambing tersebut.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


