kisah rumah gratis di itb tempat mahasiswa bertahan saat biaya hidup hampir habis - News | Good News From Indonesia 2026

Kisah Rumah Gratis di ITB, Tempat Mahasiswa Bertahan Saat Biaya Hidup Hampir Habis

Kisah Rumah Gratis di ITB, Tempat Mahasiswa Bertahan Saat Biaya Hidup Hampir Habis
images info

Kisah Rumah Gratis di ITB, Tempat Mahasiswa Bertahan Saat Biaya Hidup Hampir Habis


“Tiba-tiba ada kabar, ‘Bu, saya sudah lulus. Terima kasih sudah diberi kesempatan tinggal di Rumah Anak Bangsa’. Bagi kami, kabar seperti itu sudah membahagiakan,” kata Ariati.

Selama bertahun-tahun menyediakan tempat tinggal bagi mahasiswa secara gratis, mendengar kabar kelulusan “anak-anak”-nya tentu menjadi kabar paling membahagiakan.

Sebagai alumni ITB, Ariati Arismunandar paham betul bagaimana rasanya berjuang di perantauan. Makanya, ia menghadirkan rumah secara gratis bagi mahasiswa yang dalam kondisi kesulitan.

Rumah itu diberi nama Rumah Anak Bangsa. Selayaknya rumah biasa memang, tapi bagi beberapa mahasiswa, rumah ini adalah alasan mereka tetap bertahan.

Rumah Anak Bangsa dihadirkan oleh pasangan Doddy Rahadi (Mesin 85) dan istri Ariati Arismunandar, putri Rektor ITB ke-10, Prof. Wiranto Arismunandar.

Selama lebih dari sepuluh tahun, rumah ini sudah dihuni mahasiswa dari berbagai daerah. Mereka datang dengan cerita yang hampir mirip, yakni membawa harapan, tapi dengan kondisi finansial yang terbatas.

Beberapa dari mereka bahkan berada di fase paling kritis. Tinggal selangkah lagi lulus, tapi kehabisan cara untuk bertahan.

“Rata-rata anak-anak beasiswa yang kemudian sudah hampir lulus tapi sudah tidak cukup untuk membiayai kehidupan di luar sekolah, jadi kami bantu supaya jadi sarjana bagaimana caranya jangan sampai putus,” kata Ariati.

baca juga

Rumah yang Jadikan Penghuni sebagai Keluarga

Awalnya, rumah ini hanya untuk mahasiswa Teknik Mesin. Sebab, Doddy adalah lulusan Mesin. Lalu, seiring berjalannya waktu, rumah ini juga terbuka untuk anak Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara. Sejak 2026, Rumah Anak Bangsa terbuka untuk seluruh mahasiswa ITB.

Kapasitasnya tidak besar, hanya cukup untuk sembilan orang. Tapi bagi penghuninya, kebaikan Ariati dan Doddy jelas tidak bisa dikalkulasikan.

Apalagi, selama ini, lebih dari 20 mahasiswa telah tinggal di sana dan berhasil lulus.

“Kami ingin manfaatkan yang selama ini ada tapi belum termanfaatkan maksimal. Saya pikir ini bisa bermanfaat untuk orang banyak. Sudah lebih dari 10 tahun dihuni oleh mahasiswa. Ini sumbangsih kita untuk ITB khususnya, umumnya untuk orang banyak, untuk anak-anak harapan bangsa,” kata Doddy Rahadi, dikutip dari laman ITB.

Para penghuni rumah pun hidup tidak sekedar numpang tidur seperti di kos. Mereka punya kehidupan yang dibangun bersama, seperti memasak, kerja bakti, diskusi, dan masih banyak lagi.

Koordinator rumah, Imam Tantowi, menggambarkan bahwa rumah itu akan menjadikan penghuninya seolah punya keluarga di Bandung.

“Kebersamaannya di sana. Seperti apa yang dipesankan kepada anak-anak agar dapat tinggal bersama, menjaga ketertiban satu sama lain, saling menjaga dan saling membantu. Itu yang sering disampaikan Bu Ariati,” katanya.

baca juga

Filosofi yang Sengaja Ditinggalkan

Hal ini sebagaimana yang Ariati dan Doddy harapkan. Di ruang utama rumah, ada tulisan berisi harapan yang tidak diubah sejak awal.

“Tempat ini kami namakan RUMAH ANAK BANGSA. Supaya lulusannya menjadi orang-orang hebat yang bukan hanya pandai pada bidangnya tapi terampil berkomunikasi, mempunyai jiwa sosial yang tinggi, dan peduli kepada sesama. Didedikasikan pada orang tua, keluarga, dan bangsa sebagai rasa syukur kami kepada Allah SWT atas karunia dan rahmat-Nya yang begitu besar.”

Bagi Ariati, keberhasilan rumah ini tidak diukur dari angka. Tapi yang paling berkesan adalah saat anak-anaknya berhasil lulus dari ITB.

“Tiba-tiba ada kabar, ‘Bu, saya sudah lulus. Terima kasih sudah diberi kesempatan tinggal di Rumah Anak Bangsa’. Bagi kami, kabar seperti itu sudah membahagiakan.”

Di dinding rumah, foto-foto alumni yang pernah tinggal di sana masih tersimpan. Foto itu menjadi pengingat bahwa rumah itu pernah jadi bagian dari perjalanan mereka.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.