Hidup di pondok, Muhamad Syafiq Yunensa tidak serta-merta berubah menjadi lebih alim atau mudah diatur. Lingkungan pesantren yang identik dengan disiplin tidak langsung membentuknya menjadi santri yang patuh. Justru, di sana ia makin giat mencari jati diri yang baginya terasa lebih hidup dan membebaskan.
Saat itulah ia mulai mengenal musik punk.
Kaset dan obrolan teman, jadi titik awal perkenalannya dengan musik punk. Dari sana, ketertarikannya pada punk jadi makin menggila.
Menurutnya, musik punk memberikan ruang yang tidak ia temukan di kelas atau di asrama. Lewat punk, ia merasa memiliki kebebasan, termasuk bagaimana cara berekspresi dan memahami diri.
Syafiq mulai mendengarkan punk sejak kelas 1 MTs, jenjang pendidikan yang setara SMP.
Belum jadi punk kalau belum nyetreet, begitupun Syafiq. Meskipun statusnya sebagai santri, ia terbiasa ikut nyetreet. Syafiq kerap keluar saat ada konser atau sekadar ikut perjalanan ke luar, bahkan ketika ada momen ziarah ke makam Sunan Gunung Jati.
“Sejak kelas 1 MTs itu saya kenal musik punk terus mulai ‘nyetreet’ saat ada konser atau ziarah ke makam Sunan Gunung Jati,” kata Syafiq.
Dunia santri dan punk berjalan beriringan dalam hidupnya. Keduanya membentuk dua sisi dalam dirinya. Di satu sisi ia tetap menjalani kehidupan pesantren. Di sisi lain, ia menemukan identitas baru di jalanan dan musik yang ia dengar.
Pernah jadi Siswa yang Tidak Dianggap
Kebiasaan itu pun terbawa selama masa sekolah. Bagi guru, Syafiq dikenal sebagai siswa yang sulit diatur. Nilai rapor pun jauh dari kata memuaskan.
“Aku ditolak daftar sekolah lewat jalur nilai karena memang raporku jelek. Hampir tidak ada yang dapat 8. Semua mata pelajaran di bawah 8, kecuali satu mapel,” ujarnya, dikutip dari Mojok.
Guru-gurunya sempat menyerah. Label anak nakal pun sudah terlanjur melekat. Tapi setelah lulus SMA, ia ingin membuktikan bahwa dirinya tidak sebagaimana Syafiq yang selama ini orang kira.
Langkah pertama yang Syafiq coba adalah mengenali dirinya sendiri.
“Ketimbang sekolah tinggi, yang terpenting adalah mengenal diri sendiri, serta mengetahui metode belajar yang cocok,” kata Syafiq.
Di sini, Syafiq mulai menjalani apa yang disebut sebagai pendidikan nonformal. Artinya, proses belajar tidak hanya bergantung pada sekolah. Ia belajar dari pengalaman, komunitas, bahkan dari jalanan.
Kuliah di UIN Walisongo Semarang, tapi Tidak Jadi Mahasiswa Kupu
Pada akhirnya, 2018, Syafiq memutuskan melanjutkan pendidikan formal. Ia memilih Pendidikan Agama Islam di UIN Walisongo Semarang. Dari sini lah ia berambisi untuk mengejar “ketertinggalan”, bahkan dengan durasi yang lebih cepat.
Saat masuk kuliah, Syafiq sebenarnya tidak langsung fokus pada akademik semata. Ia justru aktif di berbagai kegiatan. Tercatat, ia mengikuti lebih dari 20 organisasi, komunitas, dan lembaga.
Sebagai sosok yang suka dengan eksplorasi banyak hal, Syafiq tidak menyelesaikan kuliah layaknya mahasiswa pada umumnya yang menggarap skripsi. Syafiq memilih menulis novel.
Di kampusnya, ada kebijakan alternatif pengganti skripsi. Mahasiswa bisa lulus lewat karya, misalnya artikel ilmiah, buku ber-ISBN, atau karya lain yang diakui.
“Tugas akhirku adalah novel best seller Catatan Sang Berandal dan artikel pendamping karya berjudul ‘Pendidikan Karakter Berbasis Kenakalan’,” kata Syafiq.
Novel ini bukan sekadar cerita. Isinya diambil dari pengalaman hidupnya sendiri; dunia punk, kehidupan santri, dan pencarian jati diri ia rangkai menjadi satu.
Ia menyelesaikan novel itu dalam waktu sekitar empat bulan.
Sebenarnya, ia sempat menyusun skripsi tentang kehidupan anak punk di Semarang. Bahkan, ia sudah melakukan pendekatan penelitian selama satu tahun. Namun di tengah proses itu, ia memilih jalur karya.
Syafiq pun lulus S1 dalam 3,5 tahun, tanpa skripsi.
Syafiq lantas melanjutkan S2 di kampus yang sama. Kali ini, ia mulai lebih fokus.
Tidak main-main, ia berhasil lulus di usia 22 tahun dengan IPK 3,78 dan menjadi lulusan terbaik di programnya.
Tesis yang ia tulis tetap konsisten dengan latar hidupnya: “Pendidikan Agama Kaum Punk.”
“Alhamdulillah, saat dulu saya lulus pakai novel berhasil mendorong regulasi lulus dengan karya pengganti skripsi di UIN Walisongo. Semoga kini tesis yang saya tulis juga kedepannya bisa bermanfaat,” ujarnya.
Prinsip Punk yang Tidak Ia Tinggalkan
Di awal, ia mengaku ingin membuktikan diri setelah dicap nakal saat masih di bangku sekolah. Bahkan, ia punya target yang cukup menantang.
“Aku berharap bisa lulus S3 di usia 25 tahun, hanya untuk membuktikan bahwa kuliah itu nggak terlalu penting,” katanya.
Namun seiring waktu, cara pandangnya berubah.
Setelah sempat bekerja sebagai staf ahli di DPRD Jawa Tengah hingga 2024, ia mulai memikirkan arah hidupnya. Bukan hanya gelar yang Syafiq kejar.
“Saya punya cita-cita membangun penerbitan buku dan mencetak banyak penulis muda, serta ingin menjadi dosen,” ujarnya.
Ia pun melanjutkan S3. Bukan lagi untuk pembuktian, tapi untuk memberi dampak.
Meski kini berada di dunia akademik, Syafiq tidak meninggalkan prinsip yang ia pegang sejak dulu, salah satunya adalah DIY (Do It Yourself).
“Do It Yourself adalah prinsip yang sejak dulu kuyakini. Dimulai dari kenali diri sendiri, kembangkan potensi diri, belajar di alam raya, lalu menjadi diri sendiri,” katanya.
DIY dalam konteks ini berarti mandiri, tidak bergantung pada sistem, mampu belajar dan berkarya sendiri. Intinya, menciptakan jalan sendiri.
Syafiq bahkan sedang merintis Yayasan Pendidikan Digdaya Book. Ia ingin mencetak penulis muda dan membuka akses belajar, terutama bagi mereka yang tidak punya banyak kesempatan.
“Sejak menjadi siswa, saya sering belajar di pesantren, jalanan, dan tempat mana pun di alam raya ini. Gurunya semua orang atau apa pun yang kutemui,” kata Syafiq.
Kini, Syafiq menjadi dosen di Sekolah Tinggi Islam Kendal (STIK).
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


