yaki monyet punk indonesia asli sulawesi yang terancam punah - News | Good News From Indonesia 2026

Yaki, Monyet “Punk” Indonesia Asli Sulawesi yang Terancam Punah

Yaki, Monyet “Punk” Indonesia Asli Sulawesi yang Terancam Punah
images info

Yaki, Monyet “Punk” Indonesia Asli Sulawesi yang Terancam Punah


Yaki atau monyet hitam Sulawesi adalah primata endemik Indonesia yang hanya hidup di Sulawesi Utara. Nama ilmiahnya Macaca nigra, dideskripsikan pertama kali oleh Anselme Desmarest tahun 1822. Dalam bahasa lokal, ia dikenal sebagai yaki, wolai, atau bolai.

Penampilannya langsung mencuri perhatian, dengan bulu hitam legam dan jambul khas di kepala. Jambul itu membuatnya dijuluki monyet punk Indonesia. Di balik tampilannya yang unik, yaki menyimpan kisah rapuh tentang hutan yang menyusut dan hidup yang terancam.

Secara taksonomi, yaki termasuk famili Cercopithecidae dan genus Macaca, kelompok monyet Dunia Lama. Ia merupakan makaka terbesar di Sulawesi, lebih besar dibanding kerabatnya di pulau sama.

Yaki atau monyet hitam Sulawesi adalah primata endemik Indonesia yang hanya hidup di Sulawesi Utara (Foto: Fabian S.R.)
info gambar

Yaki atau monyet hitam Sulawesi adalah primata endemik Indonesia yang hanya hidup di Sulawesi Utara (Foto: Fabian S.R.)


Panjang tubuhnya sekitar 44 hingga 60 sentimeter, dengan berat 7 hingga 15 kilogram. Ekornya sangat pendek, hanya sekitar 20 sentimeter, sehingga sering tampak seperti tanpa ekor. Banyak orang keliru mengira yaki sebagai kera, padahal ia jelas monyet.

Warna tubuh yaki hampir seluruhnya hitam mengilap, memberi kesan gagah sekaligus misterius. Wajahnya tidak berbulu, berwarna gelap, dengan moncong menonjol dan rahang kuat. Gigi taring jantan besar dan tajam, berfungsi dalam pertarungan hierarki sosial.

baca juga

Ciri paling mencolok adalah pantat berwarna merah muda cerah, terutama pada betina saat masa kawin. Kombinasi warna hitam pekat dan merah muda ini membuat yaki sangat mudah dikenali di alam.

Habitat asli yaki adalah hutan hujan tropis Sulawesi bagian utara. Ia hidup di hutan primer dan sekunder, dari pesisir hingga dataran tinggi 2.000 meter. Kawasan penting meliputi Cagar Alam Tangkoko Batuangus, Dua Saudara, dan Manembo Nembo.

Yaki sangat bergantung pada hutan primer yang rimbun untuk tidur dan mencari makan. Ketika hutan rusak, ruang hidupnya langsung terancam.

Kelompoknya bersifat matrilineal, dengan betina sebagai anggota tetap dan pusat sosial (https://commons.wikimedia.org/w/index.php?search=Celebes+crested+macaque&title=Special%3AMediaSearch&type=image)
Kelompoknya bersifat matrilineal, dengan betina sebagai anggota tetap dan pusat sosial (commons.wikimedia.org)

Yaki adalah omnivora oportunistik dengan menu sangat beragam. Penelitian mencatat lebih dari 145 jenis buah dikonsumsi yaki, terutama buah ara genus Ficus. Ia juga memakan daun muda, bunga, biji, umbi, serangga, moluska, bahkan vertebrata kecil.

Di beberapa lokasi, yaki turun ke pantai untuk mencari kerang. Pola makan ini menjadikannya aktor penting dalam penyebaran biji hutan Sulawesi.

baca juga

Dalam struktur sosial, yaki hidup berkelompok besar, rata-rata 20 hingga 70 individu. Kelompoknya bersifat matrilineal, dengan betina sebagai anggota tetap dan pusat sosial. Jantan dewasa sering berpindah kelompok setelah matang seksual.

Menurut Lee dan Riley dalam Primate Societies tahun 2010, sistem ini meningkatkan stabilitas sosial. Hierarki jelas terbentuk melalui interaksi, vokalisasi, dan bahasa tubuh.

Aktivitas harian yaki berlangsung pada siang hari, menjadikannya primata diurnal. Ia bersifat semiarboreal, aktif di pohon dan di tanah. Daerah jelajahnya bisa mencapai 320 hektar, dengan perjalanan harian hingga lima kilometer.

baca juga

Cara bergeraknya beragam, dari berjalan bipedal hingga memanjat cepat. Malam hari dihabiskan tidur berkelompok di pohon tinggi dan rimbun.

Aktivitas harian yaki berlangsung pada siang hari, menjadikannya primata diurnal. Ia bersifat semiarboreal, aktif di pohon dan di tanah (Gambar: https://commons.wikimedia.org/w/index.php?search=Celebes+crested+macaque&title=Special%3AMediaSearch&type=image)
Aktivitas harian yaki berlangsung pada siang hari, menjadikannya primata diurnal. (Gambar: commons.wikimedia.org)

Pemilihan pohon tidur bukan perkara sepele bagi yaki. Penelitian Sylvia Laatung dari Universitas Sam Ratulangi, dipublikasikan di Jurnal Zootek tahun 2019, menunjukkan preferensi kuat pada tajuk tinggi.

Yaki memilih pohon besar dengan percabangan rapat, terutama beringin. Pohon ini berfungsi sebagai benteng alami dari predator seperti ular sanca. Tajuk rapat juga memungkinkan kohesi kelompok tetap terjaga.

Peran ekologis yaki sangat besar bagi kesehatan hutan. Dengan menyebarkan biji melalui kotorannya, yaki membantu regenerasi alami hutan. Rhett Butler dalam laporan Mongabay tanggal 12 Juni 2020 menegaskan peran primata ini sebagai penjaga keanekaragaman.

Tanpa yaki, beberapa pohon hutan berisiko kehilangan agen penyebar alaminya. Hilangnya yaki berarti hutan kehilangan salah satu arsitek ekologisnya.

Sayangnya, status konservasi yaki sangat mengkhawatirkan. IUCN Red List menetapkan Macaca nigra sebagai Critically Endangered sejak 2008. Dalam tiga generasi terakhir, populasinya menurun lebih dari 80 persen.

Data IUCN tahun 2020 memperkirakan hanya sekitar 3.000 individu tersisa di alam. Angka ini mencerminkan krisis sunyi di jantung hutan Sulawesi.

Penyebab utama penurunan yaki adalah hilangnya habitat dan perburuan. Ekspansi pertanian, tambang, dan infrastruktur memecah hutan menjadi fragmen kecil. Yaki yang masuk kebun sering dianggap hama dan dibunuh.

baca juga

Selain itu, perburuan untuk konsumsi daging meningkat saat perayaan tertentu. Menurut Kyes et al. dalam Asian Primates Journal tahun 2012, tekanan ini memukul populasi secara brutal.

Upaya konservasi sebenarnya telah berjalan, meski belum cukup cepat. Pemerintah Indonesia melindungi yaki melalui Permen LHK Nomor P.106 Tahun 2018. Program edukasi seperti kampanye Malo Makang Yaki sejak 2015 mulai mengubah persepsi publik.

Konservasi berbasis masyarakat dan ekowisata memberi harapan baru. Yaki bukan sekadar monyet punk, tetapi cermin hubungan manusia dengan alamnya sendiri.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.