seulawah ri 001 dari emas rakyat aceh lahirlah pesawat pertama indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

Seulawah RI-001: Dari Emas Rakyat Aceh, Lahirlah Pesawat Pertama Indonesia

Seulawah RI-001: Dari Emas Rakyat Aceh, Lahirlah Pesawat Pertama Indonesia
images info

Seulawah RI-001: Dari Emas Rakyat Aceh, Lahirlah Pesawat Pertama Indonesia


Kalau Kawan naik Garuda Indonesia hari ini, ada satu kisah di baliknya yang mungkin belum banyak Kawan tahu. Kisah tentang sebuah pesawat tua, rakyat yang rela berkorban, dan semangat yang mengudara jauh melampaui zamannya. Namanya Seulawah RI-001.

Dan ini adalah ceritanya.

Bermula dari Sebuah Pidato di Aceh

Kisah ini bermula pada kunjungan Presiden Soekarno ke Aceh, 16 Juni 1948. Dalam sebuah pertemuan di Hotel Kutaraja, Bung Karno menyampaikan kondisi genting negara yang baru berdiri, Republik membutuhkan pesawat udara, sementara kas negara sangat terbatas.

Aceh dipilih bukan tanpa alasan. Saat itu, Aceh merupakan satu-satunya daerah yang belum dikuasai Belanda sepenuhnya. Bung Karno pun menyebutnya sebagai "daerah modal" perjuangan bangsa Indonesia.

Pidato itu langsung menggugah patriotisme masyarakat Aceh. Dalam waktu singkat, sebuah panitia penggalangan dana dibentuk, dipimpin Djuned Yusuf dan Said Muhammad Alhabsji. Dari pengumpulan itu terkumpul sumbangan setara 20 kilogram emas, yang kemudian dilengkapi uang tunai hingga mencapai sekitar 130 ribu dolar Malaya.

Salah satu yang berkorban adalah Teungku Nyak Sandang, yang baru saja wafat kemarin. Ia rela menjual tanah yang sudah ditanam 40 pohon kelapa dan menyerahkan 10 gram emasdemi pesawat yang belum pernah ia lihat sekalipun.

Lahirlah Seulawah — Si Gunung Emas

Dana yang terkumpul digunakan untuk membeli pesawat jenis Dakota, dengan misi pembelian dilakukan di Singapura yang dipimpin oleh Wiweko Supono. Pesawat tiba di tanah air pada Oktober 1948.

Pesawat itu kemudian diberi nama Seulawah, yang dalam bahasa Aceh berarti Gunung Emas. Nama Seulawah dipasangkan sebagai apresiasi kepada rakyat Aceh, karena uang yang digunakan untuk membeli pesawat ini setara dengan 20 kg emas. Sebuah nama yang tepat, untuk sebuah pengorbanan yang luar biasa.

Pesawat Dakota DC-3 Seulawah ini memiliki panjang badan 19,66 meter dan rentang sayap 28,96 meter, ditenagai dua mesin Pratt & Whitney berbobot 8.030 kg, serta mampu terbang dengan kecepatan maksimum 346 km/jam.

Lebih dari Sekadar Pesawat

Begitu tiba di Indonesia, Seulawah RI-001 langsung bekerja keras. Kehadirannya mendorong dibukanya jalur penerbangan Jawa-Sumatra, bahkan hingga ke luar negeri. Pada November 1948, Wakil Presiden Mohammad Hatta mengadakan perjalanan keliling Sumatera menggunakan pesawat ini.

Di masa genting menghadapi agresi Belanda, pesawat yang diterbangkan penerbang AURI Wiweko Soepono ini kerap kali bertugas membawa senjata, mesiu, dan obat-obatan, sekaligus menjadi penghubung antara pemerintah pusat di Yogyakarta dengan daerah-daerah lainnya,

Singkat kata, Seulawah bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah urat nadi perjuangan bangsa Indonesia yang abadi.

Lahirnya Indonesian Airways yang Menjadi Cikal Bakal Garuda

Desember 1948, Seulawah RI-001 harus terbang ke Kalkuta, India untuk perawatan berkala. Tapi ketika Agresi Militer Belanda II meletus, pesawat ini tidak bisa kembali ke tanah air.

Alih-alih menyerah, atas prakarsa Wiweko Soepono, dengan modal Seulawah RI-001 itulah didirikanlah perusahaan penerbangan niaga pertama Indonesia, Indonesian Airways, yang mulai beroperasi pada 26 Januari 1949, dengan kantor di Burma (kini Myanmar).

Tanggal 26 Januari 1949 itu kini diperingati sebagai hari jadi Garuda Indonesia.Maskapai kebanggaan nasional yang hari ini melayani jutaan penumpang ke seluruh penjuru dunia, lahir dari satu pesawat tua hasil sumbangan rakyat Aceh.

Warisannya Masih Hidup Sampai Hari Ini

Untuk mengenang jasa Seulawah, pemerintah mendirikan Monumen Pesawat Seulawah di Blang Padang, Banda Aceh, yang diresmikan pada 30 Juli 1984. Replika serupa juga ditempatkan di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, serta di Museum Ranggon, Myanmar.

Seulawah RI-001 mengajarkan kita satu hal yang sangat sederhana tapi sering terlupakan: bahwa kemajuan bangsa tidak selalu lahir dari kekuatan negara, tapi bisa juga dari ketulusan rakyatnya.

Dan setiap kali pesawat Garuda mengudara, di sana ada secuil emas dari tanah Aceh yang ikut terbang bersamanya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Meita Astaningrum lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Meita Astaningrum.

MA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.