udinus mulai duluan ijazah berbasis blockchain untuk cegah pemalsuan - News | Good News From Indonesia 2026

Udinus Mulai Duluan! Ijazah Berbasis Blockchain untuk Cegah Pemalsuan

Udinus Mulai Duluan! Ijazah Berbasis Blockchain untuk Cegah Pemalsuan
images info

Udinus Mulai Duluan! Ijazah Berbasis Blockchain untuk Cegah Pemalsuan


Udinus disebut menjadi kampus yang lebih dulu mengadopsi teknologi blockchain untuk ijazah. Sistem ini mulai diterapkan pada lulusan 2026, dengan Pratama Arhan, salah satu pemain Timnas Indonesia, diproyeksikan menjadi salah satu penerima angkatan pertama.

Bagi Kawan yang belum familiar, Universitas Dian Nuswantoro atau Udinus merupakan salah satu kampus swasta di Semarang. Langkah penerapan teknologi blockchain tidak hanya bersifat preventif, tetapi juga futuristik. Kebijakan tersebut dipandang sebagai inovasi teknologi sekaligus upaya menjaga kepercayaan di tengah maraknya pemalsuan dokumen pendidikan.

Menurut IBM, blockchain adalah sistem pencatatan data yang saling terhubung, tidak bisa diubah, dan divalidasi lewat mekanisme tertentu. Itu sebabnya data di dalamnya relatif aman dari manipulasi.

Lewat sistem blockchain, ijazah tidak lagi berdiri sendiri sebagai dokumen fisik. Ijazah punya jejak digital yang tersimpan permanen dan bisa ditelusuri kapan saja.

Gampangnya, sekali data ijazah masuk ke sistem, sangat sulit untuk dipalsukan.

Rektor Udinus, Pulung Nurtantio Andono, menyampaikan bahwa penerapan teknologi ini bukan sekadar mengikuti tren. Lebih dari itu, sistem ini dirancang untuk memastikan keaslian ijazah, mencegah pemalsuan, sekaligus memudahkan proses verifikasi, bahkan hingga skala global.

baca juga

Blockchain Center (IBC), Pusat Studi dan Pengembangan Blockchain di Jawa Tengah

Kebijakan ini ditandai dengan peresmian Indonesia Blockchain Center (IBC) Chapter di Universitas Dian Nuswantoro. Fasilitas ini akan menjadi pusat studi dan pengembangan blockchain di Jawa Tengah.

Lewat peresmian fasilitas tersebut, kampus ini tidak hanya menghadirkan teknologi baru, tetapi juga membuka ruang pengembangan yang lebih luas di bidang blockchain, khususnya di Jawa Tengah.

Peresmian tersebut turut melibatkan kolaborasi dengan sejumlah pihak, mulai dari Dubai Blockchain Center, Indonesia Blockchain Center, hingga Sealbound dari Uni Emirat Arab. Penandatanganan kerja sama ini dilakukan bersamaan dengan momen pengukuhan guru besar, menandai keseriusan langkah yang diambil.

baca juga

Tidak Hanya Siapkan Teknologi, tapi Juga Orangnya

Menariknya, pengembangan ini tidak berhenti pada sistem semata. Berbasis di Fakultas Ilmu Komputer, pusat blockchain Udinus juga fokus pada pembangunan sumber daya manusia.

Sekitar 30 trainer telah dipersiapkan melalui program Training for Trainers (ToT) dengan sertifikasi internasional. Mereka mendapat pembekalan langsung dari praktisi global, termasuk dari Dubai Blockchain Center.

Artinya, yang dibangun bukan hanya infrastrukturnya, tetapi juga ekosistemnya, termasuk orang-orang yang akan mengelola dan mengembangkan teknologi ini ke depan.

Langkah Udinus ini turut mendapat perhatian dari Indonesia Blockchain Center. Salah satu perwakilannya, Hambali, menyebut bahwa inisiatif ini bisa menjadi rujukan bagi kampus lain.

Pemanfaatan blockchain dinilai tidak hanya relevan untuk ijazah, tetapi juga untuk sertifikasi hingga sistem pencegahan kecurangan (anti-fraud) di dunia pendidikan.

baca juga

Cerita dari Angkatan Pertama

Salah satu lulusan yang diproyeksikan menerima ijazah berbasis blockchain adalah Pratama Arhan, pemain Timnas Indonesia.

Ia baru menyelesaikan studi S1 Manajemen dan diperkirakan akan mengikuti wisuda pada April 2026. Jika sesuai rencana, Arhan dan angkatannya akan menjadi generasi pertama yang merasakan sistem baru ini.

Bagi kampus, ini adalah simbol perubahan bahwa pendidikan dan inovasi bisa berjalan beriringan.

Sebab, sistem ijazah berbasis blockchain disebut-sebut lebih fleksibel dan lebih aman. Sistem ini menawarkan beberapa keunggulan, di antaranya proses verifikasi bisa dilakukan dari mana saja, risiko pemalsuan dapat ditekan, dan kepercayaan terhadap lulusan meningkat.

Dengan sistem seperti ini, proses legalisasi berulang yang selama ini umum dilakukan bisa jadi tidak lagi terlalu dibutuhkan.

Ke depan, bukan tidak mungkin cara kita memandang ijazah akan berubah. Ijazah akan menjadi identitas digital yang bisa diverifikasi kapan saja dan di mana saja.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.