“Berkebun atau menanam tanaman di rumah kita itu sebenarnya adalah merawat kehidupan,” kata Ester Dwi Wulan Nugraheni.
Merawat kehidupan adalah cara Ester melihat kebunnya di Sleman yang dirawat sepenuh hati dan sepenuh cinta. Ester menyebutnya Kebun Candi, berada di Candi Dukuh, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman.
Berkebun, menurutnya adalah perihal hidup berdampingan alam.
Berangkat dari Kekhawatiran Seorang Ibu
“Awal mula saya berkebun di pekarangan rumah itu sebenarnya karena kekhawatiran dengan apa yang anak saya makan.”
Sebagai ibu muda, Ester mengaku sempat sering merasa cemas dengan apa yang dikonsumsi keluarga. Ia ingin memastikan makanan anaknya aman. Apalagi, saat ini banyak sayuran yang terpapar bahan kimia. Dari situlah muncul ide untuk menanam sendiri sayuran untuk keluarga.
Sedari awal, Ester ingin menciptakan ketahanan pangan keluarga. Tapi, perjalanan berkebun justru membawanya makin terhubung dengan alam. Pemahamannya tentang hidup berdampingan dnegan alam semakin dalam.
“Ternyata berkebun itu membantu saya untuk belajar tentang alam ini dan belajar melestarikan alam,” katanya, sebagaimana dikutip dari kanal YouTube Capcapung.
Kalau hanya soal bahan pangan, Ester sadar ia bisa beli di pasar.

Kebun Candi Sleman
“Kalau cuma bahan pangan sih ya, saya bisa membelinya di pasar. Bahkan mungkin lebih murah,” imbuh Ester.
Akan tetapi, ia sadar, dengan berkebun, ada hal yang tidak bisa dibeli, utamanya tentang oksigen yang ia hidup sehari-hari.
“Oksigen yang saya hasilkan nggak bisa saya beli. Jadi ekosistem yang ramah lingkungan nggak bisa saya beli kecuali saya ciptakan,” terangnya.
Berkebun dengan Metode Permakultur
Ester memakai pendekatan Permakultur sebagai metode dasar menanam. Permakultur adalah sistem desain yang meniru ekosistem alami. Tujuannya bukan hanya produksi, tapi keberlanjutan.
“Ada tiga etika dasar dalam permakultur… peduli bumi, peduli manusia, dan berbagi adil,” ujarnya.
Peduli bumi berarti kita menjaga tanah dan lingkungan agar tetap sehat, tidak dieksploitasi berlebihan. Peduli manusia artinya apa yang kita lakukan juga harus bisa memenuhi kebutuhan hidup, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Sementara berbagi adil berarti kita tidak mengambil sumber daya secara berlebihan, tapi secukupnya, dan memberi ruang bagi makhluk lain untuk tetap hidup.
Di Kebun Candi, Ester menerapkan metode itu.
Salah satu hal menarik dari kebun Ester adalah integrasi antar makhluk hidup. Dalam praktiknya, ia memanfaatkan ayam, cacing, dan ikan sebagai bagian dari sistem kebun yang saling terhubung.
Ayam digunakan untuk membantu mengolah limbah dapur dan sampah organik. Sisa-sisa tersebut tercampur dengan kotoran ayam, lalu menjadi kompos alami.
Cacing dimanfaatkan untuk mengurai sampah organik menjadi pupuk yang lebih kaya nutrisi, atau dikenal sebagai vermicompost.

Ester panen bawang merah di Kebun Candi
Sementara itu, ikan dipelihara dengan sistem aquaponik. Kotoran ikan menjadi nutrisi untuk tanaman, dan tanaman membantu menyaring air agar tetap bersih. Semua proses ini saling terhubung dan berjalan secara alami.
Sistem itu membuat kebun ini nyaris tidak ada sampah yang terbuang sia-sia.
“Sampah organik dari rumah… semuanya jadi kompos,” katanya.
Menariknya, Ester tidak fokus untuk menjual hasil kebunnya. Ia lebih memilih membagikan secara cuma-cuma ke tetangga.
“Kalau saya kelebihan hasil panen, saya bagikan ke tetangga.”
Ia sadar lahannya terbatas sehingga produksi tidak bisa massal. Sebagai gantinya, ia menjual produk olahan seperti selai, konten digital, dan pelatihan berkebun.
Mitos Slow Living yang Sering Salah Dipahami
Banyak orang mengira berkebun sebagai bagian dari slow living. Tapi Ester menolak pandangan itu. Berkebun harus menyiapkan ekstra tenaga dari segi apapun.
“Kebun saya itu juga nggak slow… dari segi waktu, tenaga, dan dana.”
Ia juga menegaskan, slow living bukan soal lokasi atau gaya hidup visual seperti di media sosial.
“Saya memaknai slow living itu lebih ke pola pikir.”
Ia lebih setuju dengan konsep “semeleh”, istilah Jawa yang berarti menjalani hidup dengan sadar dan ikhlas. Bukan pasrah, tapi tetap berusaha tanpa tekanan berlebihan.
Banyak orang menunda berkebun karena merasa lahannya sempit. Ester justru menekankan hal lain.
“Yang penting itu desainnya.”
Dalam permakultur, desain berarti menata ruang agar efisien, memilih tanaman yang tepat, mengatur zonasi (area produksi, area santai, dll). Bahkan, dengan pot kecil pun, prinsip ini bisa diterapkan.
“Minimal kalau lahannya sempit… di pot-pot masih bisa,” katanya.
“Berkebun itu merawat kehidupan kita di dunia ini,” tandasnya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


