Banyak pengguna ponsel yang patuh mengikuti navigasi Google Maps dengan penuh percaya diri. Tanpa memastikan ulang, mereka kerap berakhir terjebak di jalan yang bahkan sulit dilalui satu mobil.
Dalam banyak kasus, sebenarnya kesalahan ini bukan terletak pada petunjuk arah, tetapi kurangnya pemahaman pengguna untuk menerapkan filter mode. Pengguna terlalu tergesa-gesa menekan tombol “Mulai”.
Tanpa disadari, banyak orang memperlakukan Google Maps seperti penunjuk jalan yang paten. Padahal, sistem ini bekerja berdasarkan perhitungan data, bukan pengalaman berkendara di lapangan.
Google Maps mengandalkan algoritma, yaitu sistem perhitungan otomatis yang membaca data lalu lintas, jarak, dan kecepatan rata-rata kendaraan. Dari situ, aplikasi memilih rute yang dianggap paling efisien, khususnya dalam hal waktu.
Itulah sebabnya gang kecil mungkin saja direkomendasikan sebagai jalan terbaik. Selama secara matematis lebih cepat, sistem akan tetap merekomendasikannya.
Lalu, bagaimana agar bisa menyesuaikan penggunaan Google Maps?
Cara Atur Google Maps Sesuai Keinginan Agar Tidak Nyasar
Nah, berikut panduan pengaturan Google Maps agar tidak nyasar.
1. Pastikan Mode Kendaraan Sesuai
Setelah menentukan titik tujuan, jangan langsung klik “Mulai”. Pilih dulu “Rute” kemudian sesuaikan moda transportasi yang Kawan gunakan.
Mode mobil dan motor menghasilkan rute berbeda, tergantung kondisi medan di lapangan. Selalu pilih ikon mobil jika berkendara roda empat, sebab mode motor cenderung lebih fleksibel. Mode motor diarahkan untuk melewati jalan kecil sebagai jalur alternatif.
“Saat menentukan tujuan, pastikan mengecek dua kali jenis kendaraan yang digunakan, jangan sampai terpilih roda dua,” kata Marcell Kurniawan, Training Director di Real Driving Centre (RDC), dikutip dari Kompas.com, Kamis (26/3/2026).
Masalahnya, tidak semua pengguna sadar sedang menggunakan mode tersebut. Akibatnya, mobil diarahkan ke rute yang sebenarnya hanya cocok untuk kendaraan roda dua.
2. Cek Semua Rute Alternatif
Google Maps biasanya memberi beberapa pilihan. Jangan terpaku pada satu rute paling cepat. Biasanya, rute yang banyak berkelok merupakan jalan yang akan sedikit rawan dilalui.
Oleh karena itu, bandingkan jalurnya dan pilih yang lewat jalan besar.
3. Gunakan Street View
Street View adalah fitur yang memperlihatkan kondisi jalan asli. Street View mampu menampilkan foto 360 derajat dari lokasi tertentu. Dengan ini, Kawan bisa melihat lebar jalan sebelum benar-benar melewatinya.
Jika terlihat hanya cukup satu mobil, lebih baik cari rute lain.
4. Aktifkan Mode Satelit
Selain Street View, ada fitur lain yang tak kalah bermanfaat, yakni mode Satelit. Mode ini menampilkan gambar dari atas (citra satelit). Dari sini, Kawan bisa lihat lebih jelas medan jalannya lewat citra satelit,
Jalan kecil biasanya terlihat lebih tipis, berada di area rumah padat, dan tidak memiliki pembatas jelas
5. Tambahkan Titik Manual (Waypoint)
Jika rute terasa aneh, paksa jalur lewat jalan besar. Caranya dengan menambahkan titik pemberhentian di jalan utama.
Waypoint adalah titik tambahan dalam rute agar jalur mengikuti keinginan kita, bukan sepenuhnya sistem.
6. Perhatikan Bentuk Jalur
Nah, ini yang sempat disinggung poin 2. Jalan sempit biasanya memiliki ciri: berliku tajam, banyak belokan kecil , dan terlihat tidak stabil di peta
Hindari jalur seperti ini, meski lebih cepat.
Bukan Soal Aplikasi, tapi Cara Menggunakannya
Google Maps tetap menjadi alat navigasi yang sangat membantu. Dengan fitur seperti voice navigation, laporan lalu lintas real-time, hingga mode berkendara, aplikasi ini dirancang untuk mempermudah perjalanan.
Tapi balik lagi, semua itu tetap bergantung cara pengguna memakainya. Mengandalkan sepenuhnya tanpa verifikasi sering berujung masalah.
Seperti dialami Damar, ia mengaku hanya mengikuti arahan Google Maps menuju GT Purwomartani saat mudik Lebaran 2026. Namun di tengah perjalanan, rute justru membawanya ke jalan tanah di area persawahan. Ia sempat ragu, tapi tetap melanjutkan karena tidak memungkinkan untuk putar balik.
“Sempat ragu, tapi mau putar balik sudah enggak bisa lagi,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari Kompas.com.
Pengemudi lain, Haryono, mengalami hal serupa. Karena jalur utama Yogya–Solo terpantau merah alias macet, Google Maps mengalihkan ke jalan alternatif yang ternyata berupa akses sawah dengan kondisi seadanya.
Dari cerita ini sudah tampak, rute tercepat tidak selalu berarti rute terbaik. Maka, tetapkan dulu filter sebelum menggunakan aplikasi Google Maps ya, Kawan!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


